Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Batan Bingin Sempat Ditinggal Umat Lantaran Problem Ekonomi

21 November 2019, 10: 42: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Batan Bingin Sempat Ditinggal Umat Lantaran Problem Ekonomi

KEMBALI : Jro Mangku I Made Togor, 76, selaku pemangku Pura Batan Bingin, bersyukur sejumlah pangempon kembali. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Kondisi ekonomi warga yang tidak bagus membuat Pura Batan Bingin kehilangan pangemponnya. Bahkan, pura yang berada di Jalan Batan Bengkel, Banjar Pasekan, Desa Buduk, Mengwi, Badung, ini pernah rusak hingga hanya berupa 'gegumuk' (gundukan tanah) saja yang tersisa.

Kondisi Pura Batan Bingin di tahun 1963 mamang sangat memprihatinkan. Sangat berbeda dengan kini, yang terlihat megah dan terawat.

Pemangku Pura Batan Bingin, Jro Mangku I Made Togor, 76, yang ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di Pura Batan Bingin, pekan kemarin, menjelaskan bahwa kondisi pura sebelumnya tidak sebagus yang sekarang.

Dikatakannya, Pura Batan Bingin sudah sejak lama ada, namun tidak diketahui jelas bagaimana sejarah berdirinya pura ini. “Namanya saja saya kurang tahu kenapa Pura Batan Bingin, padahal tidak ada pohon beringin di area pura. Mungkin di niskalanya ada ya,” ucapnya sembari tersenyum.

Jro Mangku I Made Togor mengaku, hanya sedikit cerita yang didapat dari tetua terdahulu. Konon berdasar cerita tetua dulu, pura ini diempon (ditangani dan dipuja)  oleh warga yang tinggal di sebelah selatan lembah dari bukit di utara. “Pemaksannya dahulu konon sangat banyak, karena diempon oleh penduduk di selatan lembah,” ujarnya.

Namun, lanjut Jro Mangku I Made Togor, perlahan pura mulai ditinggalkan. "Keadaan ekonomi pangempon yang tidak baik, bahkan untuk urusan perut juga susah beberapa dekade lalu, membuat pura mulai ditinggalkan," ujarnya.

Pangempon pura diakuinya dahulu tersebar di berbagai desa. Tidak hanya di wilayah Mengwi, namun juga sampai Tabanan. Seiring waktu, akibat kondisi ekonomi yang susah mengakibatkan sedikit demi sedikit jumlah pangempon terus berkurang.

"Hingga tahun 1963 pangempon pura yang tersisa hanya ada 4 Kepala Keluarga (KK). Sudah pangempon sedikit, kondisi pura juga sangat miris kala itu,"terangnya.

Jro Mangku I Made Togor memaparkan bahwa saat Gunung Agung meletus tahun 1963, palinggih di pura sudah rusak semuanya. “Yang tersisa hanya gegumuknya saja,” ungkapnya.
Meski hanya tersisa pangempon 4 KK, perbaikan Pura Batan Bingin perlahan mulai dilakukan pasca tahun 1963 tersebut. Perbaikan dilakukan sedikit demi sedikit dengan dana seadanya.
Selama masa perbaikan pura,  ada pangempon yang datang ngaturan (membawa) canang saja, ketika piodalan pura yang jatuh setiap Buda Umanis Wuku Tambir. 

Pangempon yang sebelumnya tidak pernah datang ke pura, kembali datang karena katanya selalu diingatkan oleh leluhurnya agar bisa tangkil ke pura.

“Saya  mengajak dan merangkul pangempon yang datang. Saya katakan bahwa tidak ada permintaan harus keluar uang untuk perbaikan pura. Apalagi  kala itu  banyak ada konversi ke agama lain," bebernya.

Seiring waktu bergulir, lanjutnya,  akhirnya banyak yang kembali ngempon pura.

Jro Mangku I Made Togor menambahkan, tidak ada kata sia-sia untuk perjuangan. "Sedikit demi sedikit pembangunan pura akhirnya selesai dan bisa mengadakan upacara karya besar tahun 1986," ujarnya.

Pangempon pura pun jumlahnya  terus bertambah. Hingga sekarang pangempon Pura Batan Bingin mencapai 49 KK yang tersebar di Buduk, Canggu, Balangan, dan Sading. Dua tahun lalu, lanjutnya,  pangempon Pura Batan Bingin  membuat pratima setelah nunas baos (meminta petunjuk) kepada Ida Batara Ratu Batan Bingin.

Berdasarkan hasil nunas baos tersebut, yang berstana  berkenan dibuatkan pratima (benda yang disakralkan). “Semua sepakat kala itu dan menyetujui bahwa dengan adanya pratima tersebut akan berakibat upacara lebih besar,” terang Jro Mangku I Made Togor sumringah.

Dari hasil nunas baos,  pratima yang dibuat untuk tempat malinggihnya (berstana) adalah berbentuk lanang istri (pria dan wanita). Pangempon kemudian merealisasikan pratima tersebut dan membuat dengan bahan kayu cendana.

“Waktu nunas baos itu kami sepakat hanya membahas pratima, tidak ada menanyakan sejarah pura.” Tegas Jro Mangku I Made Togor yang mengaku tidak pernah melihat hal niskala ataupun rencang (sosok gaib) penjaga milik Pura Batan Bingin.

Pura dikonsep dwi mandala, di  area jeroannya dibangun  Palinggih Padmasari, Taksu, Gedong Ida Ratu Batan Bingin, dan Pelik Sari. Kemudian di area jaba terdapat Palinggih Ratu Nyoman Sakti dan  Bale Sambyangan.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia