Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Buat Status Bom, Suporter Asal Bali Diciduk Polisi Malaysia

22 November 2019, 20: 43: 43 WIB | editor : Nyoman Suarna

Buat Status Bom, Suporter Asal Bali Diciduk Polisi Malaysia

DITAHAN: Rumah Iyan, salah satu dari tiga orang suporter Indonesia asal Bali yang ditahan Polisi Diraja Malaysia karena status di media sosial. (NORIS SAPUTRA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS  -  Pecinta sepak bola Bali dikagetkan dengan berita penangkapan tiga orang suporter timnas asal Bali. Mereka ditahan Polisi Diraja Malaysia saat akan memasuki Stadion Bukit Jalil Malaysia.

Dari informasi yang dihimpun Bali Express (Jawa Poss Group), tiga orang yang ditahan adalah Andrea Setiawan, Iyan P. Wobowo, Rifci Chorudin. Mereka  ditahan karena status salah satu dari ketiganya yang menulis akan mengebom stadiun Bukit Jalil jika Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia kalah.

Saat Bali Express (Jawa Poss  Group) menelusuri alamat Iyan P. Wibowo alias Iyan, Jumat (22/11) di kawasan Renon, Denpasar, istrinya membenarkan bahwa suaminya ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia.

Diah, istri Iyan mengatakan, status tersebut dibuat oleh Andrea Setiawan yang biasa dipanggil Andre. "Andre itu kan orangnya ceplas-ceplos. Dia buat status itu, karena bercanda saja. Cuma penjelasan Polisi Malaysia, bercanda mengenai bom itu memang sensitif," jelas Diah kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Diah juga menerangkan bahwa yang berangkat dari Bali total ada 4 orang. "Yang berangkat dari sini itu Iyan, Andre, Refki, dan Hendrik. Andre ini ketemu di bandara. Mereka berangkat tanggal 17 November dan rencanaya pulang tanggal 20 November, tetapi ternyata penyidikan lebih lama," ujarnya.

Diah mengaku, suaminya Iyan sebagai saksi terhadap kasus Andre tersebut. "Suami saya saksi. Terakhir kontak, dia menyampaikan sebagai saksinya Andre. Dia minta doa biar cepat selesai," terang Diah.

Diah membeberkan, sebenarnya sebelum berangkat mereka sudah briefing untuk menjaga sikap karena membawa nama baik timnas dan Indonesia. "Padahal sebelum berangkat sudah dibriefing untuk menjaga pola tingkah karena membawa nama suporter Indonesia," ujar Diah.

Ketika dikonfirmasi kapan terakhir berkomunikasi dengan suaminya, Diah mengatakan, terakhir berkomunikasi Selasa (19/11), memberitahu bahwa dia sebagai saksi Andre. "Ya kemarin saat memberitahu bahwa dia sebagai saksi Andre, setelah itu sudah tidak bisa dikontak," jelas Diah.

Diah juga mengaku telah berusaha menghubungi PSSI melalui pesan media sosial dan direspon oleh PSSI bahwa masalah tersebut sudah ada yang menangani di Malaysia. "Ya direspon lewat Direct Mesenger (DM) bahwa di sana sudah ada yang mengurusi," jelas Diah.

Hingga saat ini, Diah mengaku belum ada pihak PSSI yang menghubungi secara resmi tentang kasus yang dihadapi suami dan kawannya tersebut. Diapun berharap PSSI bisa menjamin suami dan rekannya karena niat mereka ke Malaysia murni untuk mendukung timnas.

"Saya harap PSSI bergerak cepat. Ini kan suporter yang niatnya mendukung timnas. Seharusnya PSSI menjamin mereka. Masak hal seperti itu perlu waktu lama untuk membebaskan. Dari suporter sepak bola Ultras juga sudah ajukan surat ke KBRI bahwa suami saya dan rekan-rekan itu supporter," ungkap  Diah.

Diah mengaku didatangi oleh salah seorang polisi yang memberitahu bahwa suaminya ditahan oleh Polisi Diraja Malaysia, dan saat ini sedang diproses. "Kemarin ada polisi yang ke sini, memberitahu bahwa suami saya sedang ditahan di Malaysia," jawab Diah.

Sementara itu, pihak Polda Bali, ketika dikonfirmasi perihal kasus yang menimpa suporter asal Bali tersebut, mengaku belum menerima laporan atau pengaduan dari pihak manapun terkait kasus tersebut. Kabid Humas Polda Bali Kombespol Syamsi, saat ditemui di ruang kerjanya,  mengaku belum menerima laporan. "Belum ada laporan maupun pengaduan yang masuk kepada kami, jadi kami tidak bisa bertindak," jawab Syamsi.

Syamsi mengklarifikasi bahwa pemberitaan di media yang mengatakan Polda Bali akan turun tangan membantu jika pihak KBRI tidak mampu menangani. "Kalau ada WNI bermasalah di luar negeri seperti Malaysia, kami tidak bisa langsung ikut campur, tidak bisa seperti itu. Itu wewenang antara pemerintah Malaysia dan KBRI yang berkomunikasi," jelas Syamsi.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia