Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
I Wayan Ardana, Sukses di Lampung (1)

Pimpin Perusahaan Nenas Terbesar di Dunia, Hidupi 34 Ribu Karyawan

26 November 2019, 11: 41: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pimpin Perusahaan Nenas Terbesar di Dunia, Hidupi 34 Ribu Karyawan

I Wayan Ardana (pakai kacamata) (I KETUT ARI TEJA/BALI EXPRESS)

Share this      

Bagi sebagian orang Bali, menyebut Lampung terasa dekat dengan Bali. Itu karena banyak orang Bali tinggal di Lampung. Dan banyak orang Bali di Lampung yang sukses. Salah satunya adalah Ir Wayan Ardana. Yang saat ini dipercaya memimpin perusahaan raksasa bernama GGF (Great Giant Foods).

I KETUT ARI TEJA, Lampung

SIANG sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan Pemprov Bali sudah sampai di markas GGF. Diantara pihak yang ditemui, memang nama Wayan Ardana adalah sosok yang kerap disebut oleh karyawan GGF. “Pak Wayan (Wayan Ardana) sudah menunggu,” jelas salah satu karyawan mempersilakan rombongan Bali masuk ke ruang pertemuan dengan kemaje putih bertuliskan GGF.

Rombongan Bali dipimpin oleh Asisten II Pemprov Bali Wayan Suarjana, bersama Karo Humas dan Protokol Pemprov Bali AA Ngurah Oka Sutha Diana, termasuk dari perwakilan BPD Bali juga ikut. Sesampai di dalam ruangan, terlihat satu orang yang menyembut namun pakaiannya beda, yaitu baju lengan panjang, biru dongker. Dialah Wayan Ardana, yang memimpin GGF dan bermarkas di Lampung.

Suarjana sebagai pimpinan rombongan menjelaskan, bahwa perlu banyak hal pemahaman dari Ardana terkait kiprahnya mengelola GGF termasuk rencana kerjasama Perusda Bali dengan GGF, untuk pengembangan buah lokal di Bali. “GGF dan Perusda Bali sudah membangun kerjasama, sudah membuat MOU untuk mengelola aset Pemprov Bali di Pulukan Pekutanan akan dikerjasamakan dengan GGF,” jelas Suarjana.

“Semoga nanti, lahan sekitar 100 hektare lebih milik Pemprov Bali bisa menjadi pusat buah, misalnya pisang untuk Bali. Dan langkah awal mengembangkan buah lokal di Bali,” harap Suarjana.

Sedangkan Wayan Ardana mengatakan memang sudah ada MOU antara GGF dan Perusda Bali untuk nanti ada kerja sama antara Perusda Bali dan GGF. Dia mengatakan akan dibuatkan sejenis pengembangan di Bali, nantinya produk GGF di Bali lebih banyak untuk dipasarkan Bali dan sekitarnya. “Kami membangun sejenis pengembangan di Bali, dan hasilnya pun kami akan pasarkan di Bali dan sekitarnya,” jelas Ardana.

Dia mengatakan konsep yang digunakan bukan menyewa aset namun pola kerjasama bagi keuntungan. “Bukan sewa, tapi bagi hasil keuntungan. Detailnya saya tidak ingat,” sambungnya.

Dia menyebutkan nantinya akan ditanam pisang cavendish sunpride yang menjadi produk unggulan GGF. Bahkan kedepannya jika memang bisa ada kerjasama dengan masyarakat, akan dikembangkan Pisang Mas. Karena pisang mas Bali, peminatnya banyak untuk masuk ke hotel – hotel.

“Terima kasih Pak Wayan, sebagai orang Bali yang sudah sukses di rantau, saatnya juga mulai berpikir untuk membangun Bali. Istilahnya jangan lupa kawitan,” seloroh Wayan Suarjana.

Setelah membahas masalah kerjasama Bali dengan GGF, Wayan Ardana akhirnya ditanya terkait sejarahnya bisa menjadi pimpinan di GGF dan seperti apa awalnya di Lampung. Dia mengatakan bahwa Ardana bukan karena keluarganya transmigrasi, namun karena dirinya memang memutuskan merantau ke Lampung setelah lulus kuliah.

“Saya memang ditawari untuk kerja ke sini, pada saat lulus kuliah. Akhirnya jadi seperti sekarang, berapa lama saya sudah di Lampung? Baru 33 tahun,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia mengatakan bahwa, lulus kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor) akhir tahun 1985, kemudian ada temannya menawarkan untuk kerja ke Lampung. “Waktu itu beberapa teman tidak mau. Saya juga bertanya waktu itu, Lampung itu dimana? Namun saya akhirnya mau. Dan akhirnya seperti sekarang, saya dipercaya memimpin sebagai Operation Managing Director,” kata Ardana.

Dia mengatakan bahwa dirinya adalah pria kelahiran Bedulu, Gianyar dan saat ini memang sudah menetap di Lampung. “Saya orang Gianyar, saya orang Bedulu. Bedulu itu di Goa Gajah,” sambung pria hitam manis itu sambil tersenyum.

Awal dirinya berkarir di GGF, bukan sebesar saat ini. Namun dengan karyawan sekitar 300 orang. Namun akhirnya mampu berkembang, banyak anak perusahaan di bawahnya. Misalnya terkait Nenas, Pisang, Jambu Kristal, Susu, Singkong untuk jadi Tepuk Tapioka dan banyak lagi. Masing – masing bidang menjadi anak perusahaan lagi, misalnya untuk nenas bernama GGP (Great Giant Peneapple).

Dengan banyaknya anak perusahaan, akhirnya GGF berkembang pesat bahkan tangan dingin Gede Ardana juga membuat tambah pesat. Hingga saat ini mengelola kebun atau memiliki kebun 35 ribu hektare, bisa dibayangkan luasnya. Dengan sebaran di beberapa lokasi. Jika satu area kebun nenas yang sempat koran ini lihat, sepanjang mata memandang adalah kebun nanas, sangat sangat luas.

“Kami juga ada kerjasama dengan petani, itu diluar kebun yang kami kelola langsung dengan luas 35 hektar,” tegas Ardana.

Dengan areal kebun ini, termasuk dengan pabrik pengolahan dan lainnya GGF mempekerjakan orang dengan jumlah 34 ribu karyawan. “Kalau saya mau jadi caleg, sepertinya lolos di Lampung. 34 ribu kali empatlah, saya punya suara. Satu pekerja dan keluarganya,” selorohnya.

Tak hanya itu, GGF juga menjadi pemasok buah segar khususnya nenas terbesar di Dunia. Mengalahkan industry di Thailand dan Philipina. “Kami saat ini urusan nanas masih terbesar di dunia,” sebut Ardana. (bersambung)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia