Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Makedeng-kedengan Ngad; Efeknya Bisa Diatasi, tapi Lebih Baik Dicegah

26 November 2019, 12: 06: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Makedeng-kedengan Ngad;  Efeknya Bisa Diatasi, tapi Lebih Baik Dicegah

Ilustrasi (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Nganten Makedeng-kedengan Ngad sangat riskan akibatnya. Oleh karena itu, sebaiknya dihindari untuk keharmonisan keluarga dalam jangka panjang. Meskipun demikian, jika sudah terlanjur tentunya ada usaha untuk mengatasi efek negatif yang ditimbulkan. Salah satunya adalah melalui ritual.

Dalam lontar Tutur Bang Bungalan disebutkan bahwa “…nyuwang kajuang masih salah, Makdedeng-kedengan Ngad ngaran, hana carunya maguling pabangkit, guling ika kucit butuhan, pamarginya ring marga agung, pamarinya majaga satru tur mabakti mider anuwut urip dina.”

Kurang lebih artinya bahwa saling bertukar anggota keluarga melalui perkawinan disebut dengan Makedeng-kedengan Ngad. Adapun upakara atau sesajennya berupa caru guling pabangkit. Guling tersebut adalah babi muda yang sudah tumbuh pelir. Caru dihaturkan di perempatan agung sebagai penjaga musuh (penolak bala), dan kepada yang bersangkutan hendaknya melakukan persembahyangan keliling sesuai dengan urip hari.

Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Merta Yoga mengatakan, kalau terlanjur memang ada jalan keluarnya melalui ritual panebasan atau panebusan dengan upakara, namun belum tentu efektif. “Itu sifatnya sementara. Sebaiknya hindari di awal,” jelasnya. “Panebusan itu kan jalan terakhir,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan pencegahan lebih penting daripada terlanjur , dan akhirnya menyusahkan kehidupan mempelai beserta keluarga.

Ida Pandita juga mengatakan bahwa pernah menangani sekali kasus Makedeng-kedengan Ngad tersebut. Karena kesusahan, pasangan yang melakukan Nganten Makedeng-kedengan Ngad tersebut pun meminta jalan keluar kepada Ida Pandita.

“Kalau dikembalikan orangnya tidak bisa, kan sudah punya anak. Jadi serba salah,” ujarnya. Akhirnya pasangan tersebut memilih untuk melaksanakan ritual. “Untungnya lumayan berhasil, sampai sekarang mereka masih langgeng,” tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia