Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Pesiraman Beji Kauh Kekeran; Diyakini Bertuah, Tempat Nunas Tamba

27 November 2019, 10: 47: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Pesiraman Beji Kauh Kekeran; Diyakini Bertuah, Tempat Nunas Tamba

PANCURAN : Dua pancuran terdapat di area bawah pura, terus mengalir dan tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Pesiraman Beji Kauh yang  terletak di Jalan Sentra, Desa Kekeran, Mengwi, Badung, punya sumber mata air yang dianggap layak dikonsumsi, dan  juga diyakini punya tuah magis untuk penyembuhan gangguan kesehatan.

Pura Pesiraman Beji Kauh yang terletak di tanah milik seorang warga ini, tertata, bersih dan bagus untuk dikunjungi. Beberapa warga tampak mandi dan mencari air langsung di dua  pancuran yang  airnya mengucur deras. Kondisi pura yang bagus dan terawat ini, tak terlepas dari pembenahan yang dilakukan oleh keluarga Ni Nyoman Lided.

Ni Nyoman Lided selaku pemangku pura sebelum diteruskan anaknya kini, mengakui bahwa  palingih sudah ada sejak dahulu, bahkan waktu dirinya masih kecil. “Dahulu itu ada kelebutan dengan air terus mengalir, tidak pernah kering walau musim  kemarau panjang,” ujarnya ramah kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Di Pura Pesiraman Beji Kauh, lanjutnya, awalnya ada satu palinggih dari batu bata saja. Kemudian berkembang menjadi dua palinggih dengan satu balai sambyangan. Batu yang ada dari awal pun kini dipindahkan ke Palinggih Tugu yang baru dibangun beberapa waktu lalu. Batu yang menjadi cikal bakal pura ini rupanya mempunyai cerita unik yang tidak masuk diakal.

Menurut pemangku Pura Pesiraman Beji Kauh, Jro Mangku Wayan Purwa, 54, dahulu hanya terdapat satu buah batu  di pura. Entah bagaimana kejadiannya, batu tersebut bertambah menjadi tiga buah. Jadi, ada dua batu lagi berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Jro Mangku Wayan Purwa dan keluarga sebagai pangempon utama pura mengaku tidak habis pikir tentang kemunculan batu tersebut.  Untuk mengetahui lebih jelasnya  dia memutuskan untuk mapinunas (meminta petunjuk) pada lelangit lewat tokoh spiritual. Dari hasil mapinunas didapat bahwa di batu-batu tersebut berstana pangiring dari Ida Batara Wisnu dan Dewi Gangga yang berstana di Palinggih Padma. Pangiring tersebut diakui oleh  Jro Mangku Wayan Purwa maupun ibunya Ni Nyoman Lided, ada banyak, namun tidak diberitahukan dalam bentuk maupun nama pangiringnya. “Pokoknya ada banyak, saya pun kurang tahu juga ya,” ungkap Jro Mangku Wayan Purwa.

Pura Pesiraman Beji Kauh dimanfaatkan warga desa di Kekeran untuk proses sebelum melarung ke laut, yakni nyekah (pemutusan hubungan atman dengan ikatan Panca Mahabutha dan Panca Tan Matra). Ketika itu, simbolik raga (jenazah) yang dibuatkan dari bunga disucikan di depan Pura Pesiraman Beji  Kauh. Banten yang disiapkan  ditempatkan di pura, sedangkan bunga simbol si jenazah akan menunggu di luar pura. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, baik Ni Nyoman Lided maupun Jro Mangku Wayan Purwa mengakui sudah melihat tradisi ini sedari kecil. “Selalu proses ritualnya ke pura ini, tidak pernah tidak dilaksanakan ole  empat banjar, yakni Sanggiang, Glagah Puwun, Dangin Pangkung, dan Delod Sema,” timpal Ni Made Rai Manik Galih Sari, 26, anak dari Jro Mangku Wayan Purwa.


Tidak hanya untuk prosesi Nyekah. Di pura yang terletak di jalan menurun ini, juga dijadikan tempat mandi pertama kali bagi orang yang Mawinten (pembersihan secara niskala). Hal ini pun diakui  sudah berlangsung sejak lama. Prosesi mandi pertama di pura di mulai, jika orang yang mawinten di sebuah pura selesai diupacarai. “Ya habis eteh-eteh di pura, baru mereka ke pura,” ujar Ni Nyoman Lided ramah. Sebagai Pura Pesiraman, pura yang piodalannya jatuh pada Purnama Kapat ini, banyak didatangi umat  untuk malukat maupun nunas (mohon) tirta (air suci) agar bisa sembuh dari penyakit. Bahkan, banyak yang datang langsung ke pura untuk nunas (memohon) diberkati kesembuhan. Tak semuanya diketahui karena umat kadang melakukannya sendiri.


“Kami tahunya kalau ada banten pajati. Biasanya mereka  bayar kaul sendiri tanpa memberi tahu kami. Akhirnya pajatinya ditaruh di atas pancuran saja,” ujar Ni Nyoman Lided.


Ni Made Rai Manik Galih pun tak menampik, ada  beberapa orang yang datang ke pura dan hanya diketahui oleh warga sekitar pura. "Saya tahu kalau ada yang melukat dari sarana sembahyang yang tertinggal di pura," urainya. Anak kedua Jro Mangku Wayan Purwa ini, juga menjelaskan bahwa dia mendengar cerita banyak dari pamedek yang kakinya sakit, setelah mandi di pancuran pura sakitnya menjadi mendingan.


Umat yang datang tidak saja dari Desa Kekeran, bahkan sampai beberapa desa sekitar, seperti Kaba-Kaba, juga ada yang datang ke pura untuk malukat.


Jro Mangku Wayan Purwa juga  tidak menyangka  ada kasus beberapa orang yang berdoa agar segera dikarunia anak karena sudah lama menikah, juga bisa dikaruniai anak. “Saya tahunya ketika mereka membayar kaul, karena sudah berhasil memiliki keturunan,” ucapnya. “Ada beberapa umat yang kini  sudah punya dua anak,” sambung Ni Nyoman Lided. Tidak berhenti disitu saja. Manfaat air di pancuran ternyata menarik minat orang membawa truk untuk mengambil air di pura. Jro Mangku Wayan Purwa mengakui bahwa galon yang jumlahnya puluhan pun ada juga digunakan untuk menampung air dari pancuran. “Saya tidak berani berpikir terlalu jauh untuk apa mereka mengambil sebegitu banyaknya,” terang pria yang memiliki empat anak ini.


Awalnya akibat ramai orang mencari air, dirinya pernah disarankan untuk menaruh kotak punia bagi orang yang akan mengambil air. Namun, sampai sekarang tidak terbersit sedikitpun untuk melakukan itu. “Saya tolak untuk menaruh semacam itu, biarkan saja mereka mengambil air di sana,” ujar Jro Mangku Wayan Purwa yang jadi pemangku sejak 2017 ini. “Saya hanya nunas seger (memohon kesehatan) saja, tidak yang lain,” harap Ni Nyoman Lided. Bahkan diakuinya, airnya   pernah diuji oleh seseorang dan mencoba membandingkan dengan air mineral yang dijual secara komersial. Hasilnya,  ternyata air di pancuran konon  lebih bagus dari air yang sudah dalam kemasan. “Harapan saya tidak muluk-muluk, mohon turut  menjaga kebersihan pura.


Selama ini masih ada yang tidak peduli dengan  kebersihan pura, padahal sudah saya sediakan tempat sampah juga. Saya mohon, jaga kebersihan bagi yang beraktivitas di kawasan pura,” pungkas Jro Mangku Wayan Purwa.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia