Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Dana Punia Itu Tak Mesti Uang

28 November 2019, 10: 25: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dana Punia Itu Tak Mesti Uang

NGAYAH : Ikut bekerja membantu kegiatan tanpa pamrih (Ngayah), juga bagian dari dana punia. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dana punia adalah pemberian yang baik dan suci yang dilakukan oleh seseorang. Di zaman Kali Yuga saat ini, dana punia menjadi prioritas utama dalam menjalani hidup. Jadi, sudahkah Anda berdana punia?

Kepala Program Studi S-2 Ilmu Komunikasi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Dr I Gede Sutarya menegaskan bahwa dana punia adalah hal yang wajib dilakukan oleh seorang umat Hindu, karena soal bersedekah ini dibahas dalam kitab Hindu diantaranya Manawa Dharmasastra dan Saracamuscaya.

“Manawa Dharmasastra I.86 menyatakan bahwa Tapa merupakan proritas beragama pada zaman Kreta Yuga. Jnana (belajar) prioritas pada masa Treta Yuga, upacara agama jadi keutamaan di zaman Dwapara Yuga. Dan, di zaman Kali Yuga kini, dana punia adalah prioritas manusia dalam beragama,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Penggunaan harta dalam hidup manusia, lanjutnya, harus dibagi menjadi beberapa bagian, mulai dari untuk investasi, kesenangan, spiritual, dan berdana punia. “Jadi, seperempat itu kita gunakan untuk berdana punia,” ucapnya kepada Bali Express akhir pekan kemarin.

Dikatakan Sutarya, Catur Purusa Artha adalah patokan dari umat dalam berdana punia. Catur Purusa Artha terdiri dari Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Dijelaskannya, melalui Artha yang merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, maka sebagai umat manusia mendapatkan dan memiliki harta adalah sebuah keharusan. Memiliki Artha, lanjutnya, maka bisa digunakan untuk mencapai tujuan hidup, mulai dari mendapatkan kesenangan dan kenikmatan dunia untuk menunjang kehidupan. Artha juga bisa digunakan untuk kepuasan batin dalam spiriltual, yakni untuk mencapai tujuan akhir, Moksa. Artha juga bisa digunakan untuk menjalankan dharma dengan berdana punia membantu sesama. Terakhir, Artha bisa digunakan untuk investasi sehingga tidak habis dipakai begitu saja.

Lebih lanjut, dosen yang juga ahli wariga ini,  menerangkan bahwasanya berdana punia bisa dilaksanakan kapan pun, namun ada hari yang lebih baik. "Jika seseorang berdana punia, maka hari paling baik adalah ketika rerahinan (hari raya). Ketika rerahinan, maka pahala yang didapatkan lebih banyak dari hari biasa," paparnya.

Namun ditegaskannya, berdana punia  haruslah tulus dan ikhlas karena kemudian hari si pemberi sedekah inilah yang akan menerima manfaatnya. "Hal ini diungkapkan dalam Manawa Dharmasastra IV.228 yang artinya apa bila dimintai, hendaknya ia memberikan sesuatu. Walaupun kecil jumlahnya, tanpa perasaan mendongkol, sebab penerima yang patut mungkin akan ditemui lagi dan menyelamatkannya dari segala dosa,” terang  Sutarya.


Tak disanggahnya bahwa tren sekarang yang orang lakukan berdana punia lebih ke upacara agama atau ke pura, tak masalah, asal orang sekitarnya sudah mampu. Bagi penulis buku Hinduvta : Inspirasi Hindu dalam Pembanguna Dunia ini, menolong sesama manusia yang lebih membutuhkan, jauh lebih utama daripada berdana punia ke pura. Ditambahkannya, membantu sesama manusia yang membutuhkan akan menciptakan keharmonisan di dunia ini. “Bayangkan puranya megah sekali, tetapi masyarakat sekitarnya miskin? Tentu kehidupan menjadi tidak harmonis antarsesama manusia,” ungkapnya.


Dijelaskan Sutarya, menjaga keharmonisan itu perlu, hubungan dengan Tuhan, manusia dan lingkungan harus terjaga dengan baik. Sehingga tidak menjadi timpang di satu sisi saja.
Jika dilihat selama ini dana punia terkesan berupa uang, sehingga membuat umat yang hidup pas-pasan kadang segan berdana punia. Persepsi ini pun diluruskan oleh I Gede Sutarya karena sudah keliru. “Berdana punia tidak harus berupa uang, bisa juga yang lain seperti ilmu pengetahuan,” tegasnya.


Dana punia tersebut dibagi menjadi beberapa jenis, mulai dari dharmadana yang memberikan budi pekerti luhur untuk merealisasikan ajaran dharma. Selanjutnya Widyadana, yakni dengan berbagi ilmu pengetahuan, dan terakhir ada Arthadana yang  bersedekah dengan harta yang dimiliki. “Jadi, membagi ilmu pada orang lain itu juga dana punia. Kalau tidak ada ilmu dan harta yang disedekahkan, maka bisa juga dengan ikut ngayah. Itu juga termasuk dana punia, karena memberikan sumbangan tenaga dalam suatu kegiatan,” pungkas Sutarya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia