Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Dusun Terluar Desa Terunyan, Bangli (1)

Ngurus Administrasi ke Desa Mesti Putar Lewat Karangasem

29 November 2019, 10: 21: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngurus Administrasi ke Desa Mesti Putar Lewat Karangasem

TAK ADA AKSES: Warga Terunyan di balik bukit ketika beraktivitas mencari rumput ternak melewati jalan setapak. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Dusun Bunut dan Madya masuk dalam wilayah Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Tapi, masyarakat di sana bisa dibilang seperti orang Karangasem. Semua urusan lebih banyak dilakukan di Karangasem tinimbang di 'rumah' sendiri, di Bangli.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Terunyan

"KALAU mau ke Bunut, lewatnya ke Paleg (Tianyar), jangan ke Desa Ban. Jalannya memang ke Paleg satu-satunya," ujar seorang penjual bensin eceran kepada Bali Express (Jawa Pos Group), saat hendak masuk ke Desa Ban melalui simpang tiga Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Obrolan seputar pekerjaan orang-orang Dusun Bunut dan Madya pun berlangsung lama. Penjual bensin itu seperti tahu persis kebiasaan masyarakat di sana memulai rutinitas. Orang-orang Dusun Bunut dan Madya akan berkumpul di warung penjual bensin saban pagi. Mereka sarapan sebelum kerja ke kota. Sebagian besar berjualan ke pasar terdekat, dan ada yang jualan perabotan ke Kota Amlapura hingga Denpasar.

"Ada sekitar 15 orang berangkat bareng. Biasanya diantar istri-istrinya. Ada yang diantar anak dan kerabat. Setelah semua lengkap kumpul di sini, mereka naik angkutan umum sama-sama. Sudah sore kembali ke warung ini, mereka dijemput istri mereka lagi dan balik lagi ke dusun. Terus begitu," tutur penjual bensin itu. 

Perjalanan menuju Dusun Bunut dan Dusun Madya, Desa Terunyan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dari Jalan Raya Amlapura-Singaraja. Dimulai dari Desa Adat Paleg, Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem. Jalannya mula-mula rata dan sedikit menanjak. Separo perjalanan, pengendara menemui kontur jalan berbatu dan berpasir. Pengendara mesti hati-hati karena setiap hari akan bertegur sapa dengan sopir truk. Setelah melewati jalanan rusak, pengendara akan disambut gapura. Dari sini jalannya sudah mulai bagus. Dusun Bunut salah satu dusun yang mendapat bantuan pemberdayaan desa pada 2005 karena tergolong dusun terpencil. Itu terlihat pada plang selamat datang pada gapura yang dipasang Dinas Sosial Provinsi Bali.

Bali Express mencoba menelusuri keberadaan dua dusun itu dan langsung naik sampai atas bukit. Setelah beberapa menit menempuh jalan terjal, tibalah di atas Bukit Terunyan. Dari atas terlihat birunya Danau Batur dengan panorama kaldera Gunung Batur. Dari kejauhan juga terlihat aktivitas warga di Desa Terunyan. Lokasinya tepat di bawah bukit. Orang-orang tahu kalau melihat Bukit Terunyan, lihatnya dari Panelokan. Tapi sekarang sebaliknya.

Memang aneh. Dusun Bunut dan Madya masuk ke dalam wilayah administratif Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Akan tetapi tidak ada jalan bagi warga atas bukit untuk turun menuju pusat desa. Di antara dua dusun itu, Dusun Bunut letaknya terjauh. Paling timur dari Bukit Terunyan dan berbatasan langsung dengan kabupaten Bumi Lahar--julukan Karangasem. "Masyarakat kami kalau mau turun (ke desa), lewat jalan setapak. Waktu tempuh sekitar 45 menit dan curam," tutur Kepala Dusun Bunut I Wayan Karben.

Warga di sana lebih sering bepergian lewat Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem. Hanya jalan itu akses terbaik. Selama ini warga mesti memutar lewat Desa Ban, atau Desa Madenan, Buleleng kalau menuju Kantor Desa Terunyan.

Wayan Karben jadi orang yang paling repot. Terutama mengurus administrasi. Dia harus memutar menuju Karangasem jika ada kegiatan kedinasan. Sebab tidak mungkin dia menuruni jalan setapak itu naik sepeda motor. Jalannya sempit. Orang-orang yang hendak memancing di danau saja, tidak mau ambil risiko. Nyawa jadi taruhan kalau tetap nekat bawa motor.

Kata pria bertubuh gempal itu, butuh waktu sekitar 2 jam melewati jalan Desa Ban yang tembus sampai Desa Menanga, Kecamatan Rendang. Karben melanjutkan perjalanan dari Rendang menuju Suter, Kecamatan Kintamani. Kemudian turun ke panelokan melintasi jalur Kedisan, Buahan, Batudinding hingga sampai di Kantor Desa Terunyan. "Pernah saya lewat Madenan (Buleleng) biar ketemu jalan bagus. Tapi hampir dua jam lebih juga," ungkapnya.

Tidak saja itu. Urusan adat juga jadi masalah. Apalagi saat ada upacara piodalan di Pura Pancering Jagad di Terunyan. Masyarakat mau tidak mau memilih memutar ke luar kabupaten, daripada memilih jalan kaki. Kata Karben, sebagian ada jalan kaki, sebagian memilih bawa motor ke Karangasem. "Itu pilihan," singkat dia sembari menyodorkan rumput gajah ke sapi peliharaannya.

Menurut Karben, infrastruktur sangat dibutuhkan warganya. Akses jalan menuju pusat desa jadi idaman menahun. Dua tahun terakhir bantuan Pemerintah Bangli dikucurkan. Bantuan diserahkan untuk dua dusun, masing-masing Rp 150 juta atau total Rp 300 juta. Dana itu hanya bisa dipakai pelebaran jalan setapak. Belum bisa membuat senderan, apalagi pengaspalan.

"Jalannya memang curam. Pernah swadaya. Kami tetap berusaha meminta ke pemerintah bisa membantu kelanjutan akses jalan ini. Ada juga calon-calon maju legislatif. Tapi warga sudah jenuh dijanjikan saja supaya jalan bisa terwujud tapi tidak ada apa," ketusnya.

"Masyarakat Bunut sudah ogah mengurus surat-surat ke kantor desa karena jaraknya jauh. Kalau misalnya ada jalan ke desa, kesulitan itu bisa berkurang. Ada yang kemarin pindah alamat karena menikah, saya mengurusnya sulit ke Bangli. Harus memutar lagi," keluhnya.

Warga Terunyan sudah tinggal di Bunut sejak tiga turunan. Ada histori kepindahan warga Pasek Bunut menempati lahan perkebunan saat ini. "Sejak buyut saya sudah tinggal di sini. Beberapa warga juga pindah ke hutan Panelokan yang sekarang juga dibentuk dua banjar. Makanya wilayah Terunyan terpisah-pisah karena ada ikatan histori," beber pria yang sudah menjabat kepala dusun selama 19 tahun ini.

Penduduk Banjar Bunut berjumlah 505 jiwa atau 150 kepala keluarga (KK). Mata pencaharian mereka paling banyak petani, peternak, dan pedagang. Hanya 40 persen yang merantau ke kota. Sisanya masih asyik beternak sapi, babi, dan ayam. Untuk sumber air juga tidak sulit. Warga memanfaatkan rembesan air dari kaki Gunung Abang. Meski debitnya kecil, masih mampu untuk kebutuhan pokok hingga pertanian dan peternakan.

Syukur ekonomi warga Bunut membaik. Meski urusan administrasi sulit, urusan dagang masih mujur. Sejak dua tahun jalan desa diaspal, mobilitas warga jadi lancar. Petani bawang merah dan cabai di Bunut tak pernah rugi banyak. Para tengkulak semakin rajin meminta hasil panen petani. Alasannya akses lebih mudah. "Rata-rata kami jual cabai Rp 30 per kilo. Bawang Rp 50 ribu sudah lumayan. Dulu sebelum ada jalan, petani jual sendiri ke Tianyar. Lebih mahal jadinya," tutur Karben.

Listrik juga sudah mengalir ke rumah-rumah warga sejak empat tahun terakhir. Bayangkan sebelum listrik menyentuh Bunut, warga di sana mengalami ketertinggalan. Mereka rela jauh-jauh ke Tianyar untuk mencari hiburan. Bagi yang sulit bepergian, mereka tetap bertahan. Bercengkerama dengan kerabat, ditemani udara malam khas pegunungan yang dingin.

Satu lagi kendala bagi warga di Bunut adalah sekolah. Di sana hanya ada satu SD. Sementara yang sekolah berasal dari Bunut dan Madya. Ironisnya, warga Madya yang tinggal terpinggir harus pergi subuh-subuh supaya tidak telat. Mereka kebanyakan jalan kaki. Orangtua mereka tak mampu mengantar ke sekolah.

Sementara anak sekolah ke SMP harus ke luar Bangli. Yang kurang mampu harus takluk dan menerima kenyataan menempuh pendidikan hanya sampai SD. "Kami sempat usul penambahan SD. Banyak aturan dan kami belum mengerti waktu itu. Usulan SMP satu atap juga begitu. Kami tidak bisa memenuhi syarat jumlah siswa. Kalau belum terpenuhi, tidak bisa didirikan SMP," kenang pria yang mengaku hanya lulusan SD ini. (bersambung)

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia