Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bisnis

Koster Minta Dermaga Cruise Benoa Sediakan Ruang Bagi UMKM Lokal

29 November 2019, 10: 44: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Koster Minta Dermaga Cruise Benoa Sediakan Ruang Bagi UMKM Lokal

SAMPAIKAN PERMINTAAN: Gubernur Bali, I Wayan Koster dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI, Erick Thohir, Kamis (28/11). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta pembangunan dermaga cruise di Benoa tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi dari sisi sektor pariwisata semata. Di luar sektor itu, Koster meminta keberadaan dermaga tersebut ikut membantu UMKM lokal dalam mempromosikan dan memasarkan produk-produk yang dihasilkan.

Karena itu, Koster berharap ada ruang bagi para pelaku UMKM lokal untuk memajang sekaligus memasarkan produk yang mereka hasilkan nantinya. Permintaan ini disampaikan langsung oleh Koster kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI, Erick Thohir, Kamis kemarin (28/11).

Kebetulan, Menteri Erick kemarin meninjau langsung rencana pembangunan dermaga cruise di Benoa. Di kesempatan itu, Koster mendampinginya.


“Dengan dibangunnya pelabuhan tentu ada prospek baru bagi sektor perdagangan. Di sinilah kami berharap UMKM dan pengusaha lokal bisa berperan. Disediakan ruang bagi mereka untuk mengembangkan usahanya yang akan berimplikasi pada perekonomian masyarakat Bali,” ujarnya.
 
“Dan produk utama yang kami promosikan tentunya produk lokal, hasil kerajinan yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Bali. Itulah nilai jual kami di Bali. Kalau yang kami pasarkan produk lain, tentu sudah ada di negaranya masing-masing. Ini salah satu pintu masuk wisatawan, jadi harus bisa menjadi etalase yang mewakili Bali,” tegasnya lagi.

Dengan adanya dermaga cruise di Benoa, sambungnya, ini akan berimbas juga pada jangka waktu tinggal wisatawan sekaligus penumpang cruise yang rata-rata hanya berlabuh sekitar delapan jam sebelum bertolak ke lokasi berikutnya.

Seandainya, sambung Koster, setiap penumpang cruise bisa memperpanjang waktu singgahnya hingga menginap di Bali, tentu akan menjadi sumber pendapatan yang besar bagi Bali.

Sementara itu, Menteri BUMN RI Erick Thohir menjelaskan, tingkat kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke Bali telah mencapai 24,7 juta orang. Jumlah ini ke depannya akan ditingkatkan menjadi 37 juta orang. Sehingga harus didukung fasilitas transportasi yang memadai, salah satunya melalui jalur laut. Yakni kapal cruise. Rencana pembangunan dermaga cruise Benoa merupakan salah satu pendukung pencapaian target tersebut.

Karena itu, dirinya mengaku berusaha mengkaji ulang penataan lingkungan pada rencana pembangunan dermaga tersebut yang berorientasi pada perencanaan jangka panjang.
 
“Saya ingin rencana pembangunan ini ditata ulang. Masterplan pembangunannya harus memikirkan kondisi hingga sepuluh tahun ke depan. Jangan sampai berpikir masa jabatan menteri hanya lima tahun. Sekarang dibangun nanti dibongkar. Atau dipindah-pindah lagi. Harus direncanakan dengan matang. Jangan sepotong-potong,” tegas Erick Thohir.
 
Dia juga meminta agar pembangunan dermaga cruise diatur sedemikian rupa. Karena berdampingan dengan dermaga ikan dan juga stasiun BBM. Menurutnya, itu bisa memberi efek negatif. Karena wisatawan yang baru turun sudah disuguhi bau ikan, tumpukan kontainer, bau bahan bakar dan sebagainya.

“Ini harus dipetakan ulang pemanfaatan lokasinya. Dibangun terpisah. Kalau cruise harus diutamakan view-nya harus cantik. Kalau bisa kami bangun agak di belakang,” tukasnya.


Walaupun dibangun terpisah, ia berharap sektor lainnya bisa mendukung keberadaan dermaga cruise. Seperti adanya dermaga ikan, bisa menjadi pusat wisata kuliner bagi wisatawan yang ingin memanfaatkan waktunya.

Dia sendiri sepakat dengan gagasan yang disampaikan Gubernur Koster. Agar keberadaan dermaga cruise mendukung keberadaan pelaku UMKM, pengusaha dan produk lokal sebagai pelaku dan produk yang dipasarkan di lingkungan dermaga cruise nantinya.
 
“Saya setuju dengan Bapak Gubernur. Dan akan kami dukung. Di sini harus dilibatkan UMKM lokal. Semisal sebagai suplier dan sebagainya, jangan semuanya dari BUMN. Dan produk yang dipasarkan harus produk lokal. Bukan anti produk asing, tapi harus ada keberpihakan,” pungkasnya. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia