Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Dusun Terluar Desa Terunyan, Bangli (2)

Hampir Tiap Hari Ada Pencurian, Walaupun Ronda Maling Sulit Ditangkap

30 November 2019, 07: 45: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hampir Tiap Hari Ada Pencurian, Walaupun Ronda Maling Sulit Ditangkap

BERI MAKAN: Wayan Karben saat memberi pakan buat hewan ternaknya, beberapa waktu lalu. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Wayan Karben, punya keinginan agar Dusun Bunut keluar dari citra dusun terisolir. Bersama warga terus memperjuangkan hak-hak yang mesti mereka dapat. Yaitu jalan menuju Desa Terunyan. Sebab kalau tidak ada jalan memadai, komunikasi pelayanan akan terhambat.

 

AGUS EKA PURNA NEGARA, Terunyan

Suka-duka selama menjadi kepala dusun, sudah dialami Wayan Karben. "Tidak ada jalan, warga desa tidak akan maju. Dengan jalan lancar, dengan sendirinya ekonomi meningkat.

Sekarang sudah lebih mendingan. Menjual sapi dan banteng lebih gampang. Tapi mereka hanya bisa menjualnya kepada orang-orang Karangasem," ketus Karben.

Pembangunan jalan akan jadi perjuangan yang tidak akan pernah berhenti bagi pria bertubuh gempal itu. Pria paro baya yang menginjak hampir 49 tahun itu punya alasan kuat. Akses jalan tentu mempengaruhi kelancaran pelayanan. Termasuk soal keamanan desa. Mengapa?

Masyarakat Bunut terus dihantui ketakutan. Rasa takut akan kehilangan hewan ternak dan barang berharga. Siapa pun tidak tahu, ternyata dusun yang asri dan sejuk ini jadi wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi. 

Kasus pencurian bisa terjadi hampir tiap hari. Korban-korbannya adalah pemilik hewan ternak. Banteng seharga belasan juta raib. Sapi hingga ayam hilang misterius, tapi tidak tahu siapa malingnya. Warga baru tahu ketika pagi. Padahal situasi malam di desa masih sama seperti biasa. Tidak terlalu sepi.

Orang-orang Bunut masih gemar bercengkerama di warung kopi hingga larut malam. Namun maling-maling tidak pernah kenal takut. Hewan ternak juga bisa hilang di siang hari. Selama pemilik ternak lengah, jangan harap hewan ternak mereka masih ada di kandang.

"Wah, parah. Kalau keamanan tidak terlalu. Hampir tiap hari. Saya pertama bertugas jadi kepala dusun, itu tantangan terberat. Kriminalitas belum bisa ditekan hampir 19 tahun menjabat. Biar bertahun-tahun ronda, maling tidak pernah lewat di depan mata. Sulit ditangkap," ungkap Karben.

Saat kasus pencurian mulai merebak, warga yang punya ternak tidak segan tidur dekat kandang. Di benak mereka, jika ada maling, lebih mudah menangkapnya. Namun kebiasaan itu tidak bertahan lama. Warga lelah. Semua hewan ternak yang ada di luar pekarangan ditempatkan di dalam pekarangan rumah. Kandang yang biasanya ada di belakang rumah, di ladang, dan tempat lainnya, sekarang ditempatkan di dekat rumah. Paling unik, ternak mereka ditempatkan di samping ruang tamu atau kamar tidur.

Sejak tahun 2000, warga rutin melakukan ronda. Warga berkumpul di pos-pos desa tiap malam hingga pagi. Sebanyak 130 pria di Bunut dibagi ke dalam 9 kelompok. Mereka ada yang keliling dusun, ada yang bertugas menjaga pos, ada yang mengawasi tiap kandang milik warga. Itu semua dilakukan pascakasus pencurian ternak mencuat.

Ironisnya lagi, hewan ternak yang sebelumnya dinyatakan hilang oleh warga, justru esok harinya ditemukan dalam keadaan sudah terpotong-potong. Hanya disisakan di bagian perut saja. Warga menemukannya di area ladang. Bagi Karben, fenomena itu sangat aneh. Setiap hari ronda, namun pencurinya tidak mampu ditangkap. Sedangkan kasus pencurian selalu ada, beriringan dengan kegiatan ronda.

Dia mengakui penanganan keamanan di dusunnya tidak begitu cepat. Dia memaklumi dengan lokasi pemukiman yang jauh dari pusat desa, atau kecamatan, penanganan kasus pencurian sulit dilakukan. "Ya jelas kita bisa pikir aja. Jalan sangat berpengaruh. Lokasi kita di sini jauh, susah penanganan cepat," kata Karben.

Apa yang dikatakan Karben tampaknya benar. Camat Kintamani I Wayan Dirgayusa mengakui, kasus pencurian ternak terkenal kerap terjadi Bunut. Begitu juga banjar tetangga, Banjar Madya. "Dua dusun itu terkenal tinggi kasus pencurian hewan ternak," sebut Dirga.

Mobilitas atau pergerakan aparat memang terkendala karena medan dan akses. Tidak hanya soal keamanan. Jika ada kebakaran, aparat pemerintah juga sulit mengatasinya. Mau tidak mau, masyarakat berjuang sendiri menuntaskan masalah itu.

Demikian pula masalah kesehatan. Wayan Dirgayusa membenarkan, masyarakat Bunut lebih banyak mencari pelayanan ke Karangasem ketimbang mendapat pelayanan di rumah sendiri. Katanya, solusi satu-satunya adalah bukaan akses untuk turun ke Terunyan.

"Memang fasilitas jalan. Walaupun biaya besar tapi itu prioritas masyarakat. Biaya besar hanya pemerintah yang bisa melakukan. Kalau ke bawah bisa membawa kendaraan, akan mudah melakukan komunikasi pelayanan," ungkap Dirga.

Soal pendidikan, dia mengatakan warga Banjar Madya akan lebih dekat sekolah ke Terunyan daripada harus jalan kaki ke Bunut. Maklum, selama ini anak-anak dari Banjar Madya jalan kaki ke Bunut. Jaraknya hampir 5 kilometer. Mereka tinggal berpencar. Lokasi Banjar Madya persis di dataran tinggi dan lebih dekat dengan Terunyan. Namun di balik bukit hanya ada satu SD sehingga anak-anak Madya memilih ke Bunut atau SD Negeri 3 Terunyan.

Kata Dirga, saat perhelatan Pemilu serentak 2019, pengiriman logistik ke Bunut dan Madya juga dikirim lewat Karangasem. Ini karena petugas tidak bisa mengirim melalui jalan setapak. Itu tentu sangat berbahaya terhadap risiko kerusakan logistik seperti kotak suara. "Tapi beruntung distribusi logistik Pemilu saat itu lancar," ucapnya.

Meski akses jalan masih jadi persoalan, syukurnya urusan layanan kesehatan tidak ada masalah. Warga Bunut dan Madya sekarang bisa mendapat pelayanan di pos layanan kesehatan di Bunut. Dulu, kalau sakit sedikit saja, warga lari ke Karangasem untuk berobat. Sakit kepala saja, orang-orang di sana harus berobat jauh. Padahal warga bisa berobat ke Terunyan. Tapi lagi-lagi masalah jalan.

Ariasa, warga Banjar Madya menuturkan, ketika salah satu anggota keluarganya sakit, dirinya panik karena waktu itu jalan tidak sebagus saat ini. Akibatnya dia terpaksa mengantar berobat ke Karangasem. Butuh waktu hampir satu jam perjalanan. Situasi lebih sulit terjadi kalau ada warga yang sakit dan perlu penanganan pada malam hari.

"Memang ke Terunyan lebih dekat. Setelah itu ke Kintamani. Tapi apakah kami pergi malam-malam ke jalan setapak mengajak orang sakit? Apa tidak keburu nanti? Mau tidak mau lari ke Karangasem. Ada juga warga kami yang berobat sampai Tejakula," ketus Ariasa, seraya berharap pemerintah bisa memikirkan kondisi masyarakat di balik Bukit Terunyan. Minimal ada jalan yang bisa dilalui kendaraan menuju Terunyan. (bersambung)

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia