Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Bumi Adalah Ibu yang Pantang Dikotori

30 November 2019, 08: 24: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bumi Adalah Ibu yang Pantang Dikotori

JAGA: Rasa Acharya Praburaja Darmayasa mengingatkan untuk selalu menjaga bumi agar tidak kotor. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Bumi ini tempat kita diajak berpijak untuk menjadi bijak. Bumi atau Pertiwi juga  melahirkan, membesarkan, memelihara, menjaga, menghidupi, dan akhirnya 'mengambil' kembali ke dalam pelukannya pada waktunya. Lantas, kenapa  dikotori dan dijejali sampah semaunya?

Tokoh spiritual Rasa Acharya Praburaja Darmayasa mengutip Atharva Veda 12.1.12 yang menyebut bagwa Mata bhumi putro’haṁ pṛthivyaḥ (Bumi adalah ibuku dan Aku adalah putra Bumi Pertiwi).


"Bumi adalah putri dari Dewa Prajapati. Beliau dihubung-hubungkan dengan Dewa Dyaus atau Dewa Langit. Bukan tidak mungkin hal ini yang menjadi 'rujukan' para leluhur Bali yang menyebut Bapa Akasha Ibu Pertiwi, bahwa Akasha (langit) adalah Ayah dan Pertiwi (bumi) adalah Ibu," papar pria kelahiran Padangtegal, Ubud ini. Dijelaskan murid tunggal Maestro Kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami ini, tradisi leluhur juga menyebutkan bahwa Pertiwi adalah permaisuri dari Sri Viṣṇu dengan putranya bernama Bhoma. "Viṣṇu dalam hal ini adalah awatara Viṣṇu yang ke-3, yaitu Varaha Avatara, Sri Viṣṇu yang berawatara mengambil rupa atau bentuk sebagai babi hutan," terang tokoh usadha yang juga instruktur Meditasi Angka ini.

Sebagai Sakti atau permaisuri dari Sri Viṣṇu, lanjut Darmayasa, Ibu Pertiwi dipuja oleh setiap penganut ajaran Veda atau Hindu Dharma setiap hari. Di pagi hari setiap turun dari tempat tidur, sebelum menginjakkan kaki ke atas tanah atau bumi, para penganut ajaran Dharma mengucapkan mantra memohon izin pada Ibu Pertiwi untuk menginjakkan kaki ke atas bumi ini.


Mantra menghormat Ibu Pertiwi sebelun turun dari tempat tidur dan sebelum menyentuh Ibu Pertiwi dengan kaki: 'Samudra-vasane devÄ« parvata-stana-maṇḍale, viṣṇu-patnīṁ namastubhyaṁ pāda-sparśaṁ ká¹£amasva me'. Setiap bepergian dengan pesawat, mantram ini juga sangat membahagiakan diucapkan bila   pesawat hendak mendarat. "Sedangkan tradisi para bijak yang mempunyai rasa bhakti mendalam pada Ibu Pertiwi, begitu mereka menyadari kematian menjemputnya, maka mereka mengucapkan mantra-Pertiwi tersebut, memohon pada Ibu Pertiwi agar membukakan pintu kedamaian abadi menuju pangkuan Ibu Pertiwi," papar pria yang membangun ashram di Padanggalak, Sanur.


Dijelaskan Darmayasa, Bumi mempunyai jumlah nama yang sangat banyak. Bumi adalah Pṛthivī karena bumi merupakan wadah yang menyangga kita semua, dan karena itulah bumi adalah Ibu.
Leluhur Nusantara memberikan nama Ibu Pertiwi untuk menyebut bumi ini, sangatlah bermakna. "Tanpa bumi kita tidak bisa melihat kehidupan di dunia ini, alias kita tidak ada sama sekali. Keberadaan kita hanyalah karena Ibu Pertiwi. Memuja Ibu Pertiwi bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pembersih dan 'penghapus' kesalahan. Pertiwi adalah Ibu yang menyangga dan yang memelihara kita semua," paparnya.


Bumi juga disebut sebagai BhÅ«madevÄ« sebagai kekuatan penguasa bumi. Disebut sebagai BhuvaneśvarÄ« karena merupakan Ratu Penguasa dari bumi.  Bumi disebut sebagai PṛthvÄ« atau Pertiwi karena bumi menyangga seluruh makhluk di atas muka bumi ini. Disebut sebagai Vasudhā karena bumi memberikan segala jenis kekayaan kepada makhluk hidup Tuhan yang hidup di atas muka bumi ini. Bumi juga  disebut sebagai BhÅ«deva atau BhÅ«vatÄ«, sebutan yang sama dengan BhÅ«madevÄ« karena merupakan Dewi Maha Agung Penguasa Bumi. "Sebutan sangat menarik yang lain lagi untuk bumi adalah Vasundharā, yang berarti sumber munculnya segala harta kekayaan tiada terbatas, dan nanti pada akhirnya akan kembali pula ke asalnya," urai tokoh spiritual yang menarget memberikan satu juta buku Bhagawadgita kepada umat Hindu ini.
Ditambahkannya, Vasundharā merupakan wadah tidak terbatas untuk isi kekayaan yang tidak terbatas. "Bumi adalah Vasundharā, sumber harta benda atau kekayaan yang tidak ada batasnya," ujarnya. Bahkan, banyak lagi sebutan lain lagi untuk bumi.


"Bumi adalah Ibu. Pertiwi adalah Ibu. Ibu adalah Ibu, penghidup dan pemelihara," urainya.
Dijelaskan Darmayasa, dalam ajaran Veda terdapat tujuh (7) Ibu yang patut dijaga dan dihormati dengan baik oleh setiap umat. Ketujuh Ibu tersebut adalah Atma-mātā, yaitu ibu kandung sendiri, kemudian Guru-patnī, adalah istri dari Guru. Selanjutnya adalah Brāhmaṇī atau para brāhmaṇa perempuan. Kemudian Rāja-patnikā, istri atau permaisuri dari raja atau pemimpin negara.
Selanjutnya Dhenuḥ, yakni sapi adalah Ibu bagi kita semua.


Dhātrī, yakni para wanita yang merawat atau menjaga kita, dan Pṛthvī, yaitu bumi.
Ditambahkannya, ada pepatah mengatakan 'Vir bhogya vasundhara'. Maksudnya, bahwa bumi ini dapat dinikmati hanya oleh orang-orang yang teguh dan gagah berani. Kejayaan dan kemuliaan bumi tidak untuk mereka yang pemalas, lemah jiwa, jauh dari kebesaran hati dan tidak memikirkan kebaikan serta kemuliaan yang lain.


"Bumi ini tidak untuk mereka yang tidak 'pernah' menghadapi tantangan-tantangan hidup. Bumi ini tidak untuk para penikmat, melainkan bumi dapat dinikmati hanya oleh mereka yang sudah melewati berbagai tempaan dan cobaan hidup yang tidak kecil dan tidak sedikit. Hanya seorang VÄ«ra (seorang Perwira) yang 'pantas' menikmati bumi dan segala kekayaan serta kemuliaannya," urainya.


Darmayasa mengatakan, Bumi memang memberikan cukup makan minum kepada orang-orang lemah. Akan tetapi, memberikan segala kekayaan dan kemuliaan kepada sang Perwira, kepada orang yang gagah berani dalam menghadapi segala tantangan dan cobaan hidup. Dan, bumi memberikan keseluruhan dirinya kepada mereka yang mengasihinya.


"Inilah hal yang dilupakan oleh kita semua. Orang-orang melupakan bagaimana  mencintai dan mengasihi Ibu Pertiwi," bebernya.


Bumi justru tiada henti dirusak, sampah pun akhirnya  jadi masalah. Dikatakan Darmayasa, pada zaman modern dimana orang-orang sudah cukup terpelajar, seharusnya sampah-sampah plastik dan lainnya  sudah tidak ada lagi. Karena, orang-orang yang membuang sampah plastik sembarangan, hanyalah orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Terlebih lagi jika hal itu dilakukan pada acara-acara keagamaan dan spiritual. " Tak peduli dan membuang sampah sembarangan  bukan kesalahan lagi, melainkan 'dosa' dan 'kejahatan' dilakukan pada Ibu Pertiwi yang sangat mengasihi serta memberikan segala kemuliaan kepada manusia," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia