Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lahir Tanpa Anus, Balita di Sukasada Tak Punya Biaya Operasi

01 Desember 2019, 18: 26: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lahir Tanpa Anus, Balita di Sukasada Tak Punya Biaya Operasi

OPERASI : Kadek Ratih Juniari, bocah berusia 1,5 tahun ini tidak memiliki lubang anus sejak lahir. Kini masih menunggu panggilan dokter RSUD Buleleng untuk menjalani operasi. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sungguh malang nasib Kadek Ratih Juniari. Bocah berusia 1,5 tahun ini tidak memiliki lubang anus. Tak pelak kondisi ini pun membuatnya harus buang air besar melalui lubang sementara di bagian perut kirinya.

Mirisnya, buah hati dari pasangan Komang Putra Indrawan dan Komang Lestariasih dari Banjar Dinas Padangbulia, Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ini berasal dari keluar kurang mampu. Tak pelak, pengobatan pun tak bisa dilakukan secara maksimal.

Kendati memiliki kelainan, wajah putri mungil kelahiran 26 Juni 2018 silam ini selalui riang saat bermain dengan kakak perempuannya, Luh Rismayani. Bahkan, sepintas Ratih terlihat seperti balita sehat pada umumnya.

Seperti diceritakan Indrawan, sang istri Komang Lestariasih menjalani poses kelahiran secara normal di bidan Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng. Tidak ada yang aneh ketika ia kembali ke rumah setelah proses persalinan.

Semuanya terlihat normal, hingga kemudian, Ratih Juniari rewel dan selalu menangis. Saat itulah kemudian dilihat jika perut putrinya itu kembung. Saat itu, usia bocah perempuan itu baru berusia 24 hari.

Komang Putra Indrawan bersama istrinya Komang Lestariasih kemudian datang kembali ke bidan untuk memeriksakan kondisi bayinya. Saat itu barulah Indrawan mengetahui jika putri keduanya tidak memiliki lubang anus. “Dari bidan kami, langsung diantar ke rumah sakit. Pas di rumah sakit itu kemudian diperiksa, dan katanya mau dioprasi, dibuatkan lubang di perutnya,” tutur Putra Indrawan.

Setelah operasi pembuatan lubang sementara di bagian perut sebelah kiri, pihak RSUD Buleleng memberikan penjelasan jika putrinya masih harus menjalani operasi sebanyak dua kali lagi. Hanya saja, operasi itu baru bisa dilakukan saat nanti usia putrinya sudah lebih dari satu tahun.

Sembari menunggu oprasi lanjutan, Putra Indrawan hanya melakukan pemeriksaan rutin di seorang perawat. Tujuannya untuk sekadar membersihkan lubang bagian perut putrinya itu agar tidak iritasi. “Ya biasa saja sebenarnya anak saya, jarang menangis. Memang pernah beberapa kali nangis, karena sempat iritasi. Dan saya periksakan lagi ke perawat yang biasa merawatnya,” jelasnya.

Kini usia Ratih sudah setahun lebih. Tepatnya bulan Agustus lalu Indrawan bersama sang istri kemudian membawa buah hatinya ke RSUD Buleleng. Niatnya untuk menanyakan terkait kelanjutan operasi untuk putrinya. Tiba di RSUD Buleleng, kondisi putrinya sempat diperiksa. Bahkan sempat menjalani rapat inap beberapa hari.

“Tapi kemudian kami disuruh pulang. Katanya, tim dokternya yang mau menangani operasi belum siap.  Sampai sekarang kami masih menunggu telepon dari rumah sakit,” ujarnya.

Penderitaan pasutri ini tak cukup sampai di sana. Bekerja sebagai buruh serabutan, tentu saja penghasilannya tak seberapa. Bahkan, untuk makan sehari-hari saja susah. Ditambah, Indrawan tak memiliki rumah tempat tinggal. Saat ini dia hanya numpang di sebuah rumah milik seorang wara setempat.

Terlebih lagi, ia juga harus menanggung ibunya Ni Luh Janji dan kakaknya Gede Tisna yang menderita sakit epilepsi. Apalagi kini, ia sudah tidak bisa bekerja selama 1,5 bulan, karena terjatuh saat bekerja.

Sayangnya hidup dalam kondisi kekurangan, Komang Putra Indrawan justru tidak pernah tersentuh program bantuan apapun dari pemerintah. Yang dia terima selama ini hanya fasilitas Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Kondisi itu pun, diakui Kelian Banjar Dinas Padangbulia, Desa Padangbulia Kecamatan Sukasada  Gede Toni Wartama. Padahal, menurutnya, keluarga Putra Indrawan selalu tercatat dan diusulkan agar mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun sayang, dalam realisasinya, nama keluarga itu tidak masuk dalam catatan penerima bantuan.

 “Dulu pernah dijanjikan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah, saat mau Pilkada Gubernur. Sudah ada orang yang survey, tetapi sampai sekarang tidak ada realisasinya.” singkat Toni Wartama.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia