Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Jro Alus di Desa Tukadmungga

Tak Boleh Gunakan Api, Tangkil Tiap Jumat untuk Mohon Rezeki

01 Desember 2019, 18: 48: 32 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tak Boleh Gunakan Api,  Tangkil Tiap Jumat untuk Mohon Rezeki

PANTANG API : Di Pura Jro Alus di Dusun Dharma Semadi, Desa Tukad Mungga, Kecamatan Buleleng, pantang menggunakan api saat sembahyang. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Desa Pakraman Tukadmungga, Kecamatan Buleleng tak hanya memiliki tradisi unik Magebeg-gebegan saat Pangerupukan Nyepi. Namun juga memiliki pura unik bernama Pura Jro Alus. Menariknya, palinggih di pura ini tak berkenan bila pamedek yang nangkil menggunakan api saat sembahyang. Melainkan cukup menggunakan dupa yang tak dinyalakan. Jika dipaksakan, maka pamedeknya bisa sengkala. Seperti apa?

SUASANA rindang terlihat di areal Pura Jro Alus yang berlokasi di Dusun Dharma Semadi, Desa Tukad Mungga, Kecamatan Buleleng. Vibrasi spiritual begitu terasa ketika melangkahkan kaki menuju areal pura yang sungguh tenang.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), pura yang memiliki lima palinggih ini sangat rimbun.  Sejumlah pohonan tampak mengelilingi pura tersebut. Tak pelak, selain tenang, suasana begitu sejuk.

Menurut Wakil Kelian Adat Desa Tukad Mungga, Gede Parca, Pura Jro Alus juga dikenal dengan Pura Pengenteg Sari. Di pura ini masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang kerap datang berbondong-bondong untuk memohon rezeki.

Menariknya, bukan hanya masyarakat dari Desa Tukad Mungga yang nangkil, tetapi juga dari berbagai pelosok Bali. Mereka nangkil untuk memohon kelancaran rezeki. “Kalau yang nangkil, rutin setiap hari Jumat. Kenapa selalu hari Jumat? Nah itu memang gugon tuwon. Sampai kini kami hanya menjalani saja. Tidak ada catatan tertulis, tapi memang keyakinan,” ujar Gede Parca, Minggu (1/12) siang.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Parca menjelaskan bahwa banyak masyarakat Desa Tukadmungga yang belum mengetahui secara pasti mengenai siapa sesungguhnya yang malinggih di palinggih pura tersebut. Kendati demikian, sejak tahun 1991 silam, ada seorang warga setempat yang menuliskan secara singkat sejarah keberadaan Pura Jro Alus.

Berdasarkan cerita bahwa di lokasi yang kini menjadi Pura Jro Alus dahulu tumbuhlah pohon asam besar yang terkenal sangat angker hingga dikeramatkan masyarakat setempat. Konon, di lokasi tersebut malinggih Ida Anake Alus (roh halus). Karena terkenal angker dan bertuah, warga kerap mendatangi pura tersebut untuk memohon sesuatu.

“Kebetulan yang menjadi pemangkunya saat itu adalah Ni Ketut Kanis. Kalau ada yang nangkil dia yang nganteb bantennya. Nah lambat laun, karena sudah usia, Jro Kanis digantikan oleh Jro Kenaka,” imbunya.

Lanjutnya, sekitar tahun 1988, pohon asam tiba-tiba tumbang karena akarnya sudah lapuk termakan usia. Nah, pemangku kala itu bernama Jro Kenaka berinisiatif mendirikan palinggih. Dengan dana pribadi berdirilah palinggih Ida Anake Alus.

“Untuk mengetahui status palinggih itu, selanjutnya dilakukan mapinunasan. Hasil dari mapinunasan menyebutkan bahwa Ida Anake Alus yang malinggih di Desa Tukadmungga adalah atas kehendak Ida Bhatara yang besthana di Pura Desa dan Pura Dalem,” bebernya.

Lalu bagaimana dengan pantangan menggunakan api saat menghaturkan sesajen? Dijelaskan Gede Parca, di pura ini memang benar dilarang menggunakan api. Namun, boleh menggunakan dupa, dengan catatan tak dinyalakan.

Konon, Ida Anake Alus, sebut Gede Parca, tak berkenan menyalakan api atau berada di areal terang. Menurutnya, dupa tanpa api dipersembahkan dengan tujuan untuk menjaga kestabilan serta kelestarian alam.

“Dulu masyarakat setempat pernah melakukan persembahyangan dengan menggunakan dupa yang dinyalakan. Akhirnya terjadilah kebakaran, itu secara sekala. Kalau niskalanya memang beliau (Ida Anake Alus, Red) tak menginginkan,” ungkapnya.

Apa dampaknya jika melanggar? Gede Parca menyebut dampaknya fatal bila tetap menggunakan dupa yang dinyalakan saat bersembahnyang. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, pemedek yang nangkil menggunakan dupa yang dinyalakan, kerap mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Hingga harus menghaturkan guru piduka karena sudah menyalahi sima di pura tersebut.

“Macam-macam dampaknya. Bisa sakit tak kunjung sembuh. Setelah menghaturkan guru piduka baru bisa sembuh. Nah, setelah itu tidak ada lagi yang coba-coba melanggar,” pungkasnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia