Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

GP Ansor Bali Jadi Garda Terdepan Perangi Terorisme

01 Desember 2019, 20: 40: 30 WIB | editor : Nyoman Suarna

GP Ansor Bali Jadi Garda Terdepan Perangi Terorisme

BAHAS TERORISME: GP Ansor Provinsi Bali menggelar dialog membahas pola gerakan teroris di Bali. (HUMAS POLDA BALI FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sebagai bentuk pernyataan tegas melawan terorisme, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Bali mendeklarasikan diri sebagai garda terdepan dalam memerangi terorisme dan menjaga keamanan Pulau Dewata.

Menurut Ketua GP Ansor Provinsi Bali H. Yunus, Pulau Dewata yang merupakan miniatur Indonesia dan sebagai pusat wisata, harus dijaga oleh semua pihak. "Menjaga pulau Bali dengan bersinergi bersama pihak terkait itu wajib hukummnya bagi kami," ungkap Yunus dalam dialog “Mewaspadai Pola dan Gerakan Terorisme di Bali" yang digelar pada Sabtu (30/11) di hotel Taman Wisata, Denpasar.

Dalam dialog tersebut, dihadirkan tiga pembicara, antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali H. Taufiq As'ady, Ketua FKUB Indonesia Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali, Prof. Ika Rai Setiabudhi. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Bali H. Abdul Aziz dan dibuka oleh Asisten II Bidang Kesra Pemerintah Provinsi Bali Ni Luh Wiratni mewakili Gubernur Bali.

Dalam sambutannya, Ni Luh Wiratni menyampaikan, Pemprov Bali dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali Pemerintah Provinsi Bali memprioritaskan keamanan Bali. "Dalam Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kami menjadikan keamanan sebagai prioritas. Oleh sebab itu, jangan ada yang mau diiming-imingi bidadari untuk melakukan aksi teror," pungkas Wiratni dalam sambutannya.

Sementara itu, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyampaikan, pelaku teror tidak berkaitan dengan agama manapun. "Indonesia terdiri dari beragam agama dan 700 lebih suku. Semua agama mengajarkan ajaran yang adliuhung. Tidak ada yang mengajarkan aksi teror," ungkap Sukahet dalam paparannya.

Namun H.Taufiq As'ady dalam paparannya meminta sesama warga bangsa tetap waspada terhadap orang yang tidak jelas identitasnya. "Kita welcome kepada para tamu, tapi harus tetap waspada terhadap orang yang tidak jelas identitasnya, siapa tahu ada yang misterius dan membawa barang-barang berbahaya," jelas H.Taufiq.

Sementara itu Prof. IK Rai Setiabudhi menyampaikan, tanda-tanda orang sudah terpapar radikalisme bisa terlihat dari perilakunya yang berubah menjadi antisosial, menjauhi lingkungam sekitar dan hanya nyaman dengan komunitasnya yang tersembunyi. "Seorang yang terpapar itu anti sosial, tiba-tiba mengalami perubahan sosial terhadap pandangan politik dan agama, bahkan memutuskan hubungan dengan keluarganya, orangtuanya sendiri,"jelas Prof. IK Rai.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia