Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Percepat Penanganan Gempa, Karangasem Dipasangi Enam Intensitymeter

01 Desember 2019, 22: 31: 32 WIB | editor : Nyoman Suarna

Percepat Penanganan Gempa, Karangasem Dipasangi Enam Intensitymeter

PASANG ALAT: BPBD Karangasem bekerjasama dengan BMKG memasang satu intensitymeter di Kantor BPBD setempat, Minggu (1/12). (ISTIMEWA)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem selama ini cukup sibuk menangani kerusakan sejumlah fasilitas akibat gempa, seperti gempa Lombok pada 2018 yang mengakibatkan sebagian besar rumah warga terdampak.

Dengan potensi bencana yang cukup besar, pemerintah memberi bantuan alat pendeteksi kerusakan di Karangasem. Alat ini disebut intensitymeter. Fungsinya mengetahui intensitas gempa bumi dan mengukur tingkat kerusakan, sehingga BPBD bisa lebih cepat melakukan asesmen dan mengetahui wilayah mana yang terdampak bencana.

Sekretaris BPBD Karangasem I Putu Eka Putra Tirtana mengatakan, Karangasem mendapat enam intensitymeter. Semuanya dipasang di enam titik berbeda, tersebar di semua wilayah Karangasem. "Pemasangan sudah dipertimbangkan dengan melihat kerapatan penempatan alat. Disesuaikan dengan luas wilayah," jelas Eka Tirtana, Minggu (1/12).

Eka menjelaskan, tingkat kerusakan diukur dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI). Skalanya mulai I MMI sampai XII MMI. Saat gempa terjadi, intensitymeter langsung terkoneksi dan terlihat di alat digitizer pada intensitymeter yang sudah dipasang tersebut.

Skalanya berbeda-beda dan akan terlihat warna indikator. Misalnya I-II MMI warna putih dengan keterangan getaran dapat dirasakan alat, namun hanya bisa dirasakan beberapa orang atau tidak sama sekali. Begitu juga seterusnya dengan MMI lebih besar dan warna indikator berbeda, seperti hijau, kuning, jingga, dan merah.

Data yang direkam alat tersebut, selanjutnya bakal terkirim secara otomatis ke server Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam waktu beberapa menit. Kemudian, laporan alat digitizer di intensitymeter yang terkoneksi tersebut, nantinya akan terlihat tingkat guncangan gempa, termasuk wilayah yang keras terdampak.

Eka menambahkan, peta tingkat guncangan secara otomatis akan masuk selama 20 menit ke BNPB, BPBD provinsi, dan kabupaten. Di sana terangkum kerusakan dampak gempa, apakah ringan hingga parah, termasuk dimana wilayahnya. "Tujuannya supaya kami cepat merespons di mana rusaknya, dan seberapa besar dampak dan kerusakannya," ungkap Eka.

Untuk diketahui, enam alat tersebut dipasang secara bertahap. Tiga alat sudah dipasang sejak Jumat (29/11) hingga Minggu (1/12). Sisanya mulai dipasang Rabu (4/12) lusa, di antaranya di Kantor BPBD Karangasem dan beberapa kantor pemerintah.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia