Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Dusun Terluar Desa Terunyan, Bangli (3-Habis)

Jalan Kaki 5 Km, Murid Bangun Subuh, Guru Menginap di Sekolah

02 Desember 2019, 11: 33: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jalan Kaki 5 Km, Murid Bangun Subuh, Guru Menginap di Sekolah

GENERASI BANGSA: Ini nyata di Bali masih bisa melihat murid – murid yang butuh perjuangan lebih untuk mendapatkan pendidikan layak. Mereka generasi bangsa yang ditempa lebih oleh alam. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

Anak-anak SD asal Dusun Madya, Desa Terunyan, Kintamani, Bangli, wajib bangun subuh. Jika tidak, mereka bisa telat ke sekolah. Maklum jarak dari rumah ke sekolah rata-rata sekitar 5 kilometer bahkan lebih. Apalagi rumah mereka ada di antara ladang lereng bukit. Butuh waktu lama agar bisa sampai di tujuan tepat waktu.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Terunyan

SEBUT saja Sinta dan Ayu. Dua siswi kelas III SD 3 Terunyan itu tak mau menyebut nama. Dia malu ketika Bali Express mengajaknya mengobrol. Mereka menutup diri terhadap orang asing. Namun setelah dipancing-pancing, sikapnya mulai cair. 

Jalan Kaki 5 Km, Murid Bangun Subuh, Guru Menginap di Sekolah

RIANG GEMBIRA: Siswa kelas V SD Negeri 3 Terunyan belajar menyanyikan lagu Nasional di sela-sela kunjungan media ini, beberapa waktu lalu. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Tidak seperti anak-anak kota. Pergi ke sekolah diantar pakai motor besar keluaran terbaru yang harganya puluhan juta itu. Melintasi jalanan kota yang macet dan pengap karena asap kendaraan. Kehidupan gadis asal Dusun Madya itu justru sebaliknya. 

Dua gadis berparas manis itu sudah biasa jalan kaki. Keadaan ekonomi membuatnya harus menerima kenyataan kurang enak sejak kecil. Orangtua mereka cuma petani. Itu pun hanya petani penggarap lahan orang lain. "Ya sudah biasa jalan kaki. Bapak-ibu sibuk ngurus adik sambil kerja," ungkap Ayu dengan suara agak gemetar.

Anak-anak Madya biasa bangun pukul 04.00. Bahkan paling lambat pukul 05.00. Ada sekitar 20 lebih anak yang jalan kaki menuju sekolah. Sekumpulan anak kecil berlairan di pinggir jalan, sembari menenteng atau menggendong tas kain berisi buku jadi pemandangan rutin tiap pagi. 

Kabar itu dibenarkan guru SD Negeri 3 Terunyan, Nengah Sudana Yasa. Siswa asal Madya memang tinggal berpencar. Ada yang masuk lagi dekat hutan, ada yang bermukim di pinggir jalan utama, dan ada yang harus menuruni lembah. "Ya paling jauh ada yang turun lagi sampai perbatasan Pedahan (Tianyar Tengah, Karangasem)," sebut Sudana yasa.

Kondisi geografis jadi faktor kesenjangan sosial di Madya. Akses untuk ke dusun itu sebenarnya tidak ada masalah. Sebab jalan dari perbatasan Bangli-Karangasem di Dusun Bunut sampai atas Bukit Terunyan sudah diaspal. Sehingga mobilitas warga tidak sampai terganggu. Namun kondisi ekonomi warganya masih rendah.

Akibat itu, sebagian besar orangtua tidak mampu mengantar anak mereka ke sekolah. Mereka lebih memilih fokus bekerja agar bisa mempertebal pundi-pundi keuangan keluarga. "Memang yang punya motor di sana juga sedikit. Sekalian saja murid jalan kaki bersama-sama. Anak-anak dari kelas I sampai VI memang jalan kaki. Nanti siang bisa dilihat setelah pulang sekolah," kata guru bidang studi PKN sambil mengajak Bali Express melihat aktivitas siswa sepulang sekolah.

Saat itu, matahari hampir tegak di atas kepala. Obrolan seputar aktivitas siswa dan guru di sekolah makin seru. Selain masalah siwa, guru-guru yang bertugas di SD 3 Terunyan kabarnya juga mendapat pengalaman unik. Guru yang rumahnya jauh sampai-sampai harus menginap di sekolah. Itu pun dilakukan kalau tidak ada kesibukan di rumah.

Namun sayang, guru-guru yang katanya menginap itu, tidak ada di sekolah saat Bali Express berkunjung ke sana. "Ya karena rumah jauh, mau tidak mau guru menginap di sini. Penjaga sekolah juga menginap. Kasihan juga rumah jauh, kalau bolak-balik setiap hari bisa drop. Paling tiga hari sekali menginap," ungkap Sudana Yasa, mewakili kepala sekolah yang ketika itu sedang menghadiri acara di Dinas Pendidikan Bangli.

Guru yang bertugas di SD Negeri 3 Terunyan sebagian besar berasal dari Bangli selatan. Di antaranya Kelurahan Kubu (Bangli) dan Sidembunut. Ada juga dari Kintamani seperti Desa Bayung Gede dan Suter. Ironis, guru yang rumahnya lebih dekat dengan Terunyan tetap memutar ke jalur Keladian, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Kemudian masuk melalui Desa Ban, Kecamatan Kubu dan kembali naik bukit hingga sampai di Dusun Bunut, Terunyan.

Mereka tidak mungkin melewati Desa Terunyan karena belum ada akses jalan sampai sekolah. Jika menuju Dusun Madya dan Bunut melalui Terunyan, guru-guru hanya bisa berhenti di pusat desa lalu berjalan menaiki jalan setapak. Menurut Sudana, perhitungannya sama-sama jauh. 

Jika memilih jalan kaki lewat jalan setapak di desa, maka guru itu tidak bisa membawa sepeda motornya sampai di sekolah. Satu-satunya memang memutar ke Karangasem, kendati waktu tempuh hampir 2 jam. Oleh sebab itu, guru yang rumahnya jauh memilih menginap. "Sekolah ini letaknya di Banjar Bunut. Kalau mau ke sini putar ke Karangasem memang jauh. Masalah yang sama juga ada kalau jalan kaki dari Terunyan lewat Dusun Madya, sama saja jalan kaki ke Bunut," kata guru asli Dusun Bunut, Terunyan ini.

Kegiatan sehari-hari di sekolah berjalan baik. Masalah yang mendera para guru tidak sampai mengganggu aktivitas belajar mengajar. Cuma urusan absen dan pengiriman berkas dari sekolah menuju UPT dan Dinas Pendidikan terkendala akibat jaringan internet dan infrastruktur.

Misalnya masalah absen. Guru-guru SD di Bangli rata-rata absen mengandalkan jaringan internet alias online. Karena jaringan kurang baik di Bunut, maka absen dilakukan manual. Celakanya, absen itu wajib dikirim tiap hari ke UPT di Kintamani atau ke dinas di Bangli. "Kami meminta permakluman supaya absen yang harusnya terkoneksi setiap hari, kami bisa kumpul absennya tiap minggu atau tiap bulan. Harus dipahami kalau kami keterbatasan jarak dan akses," pungkas Sudana. (habis)

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia