Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Bet Griya, Dua Banjar di Nyambu Pantang Gunakan Sulinggih

02 Desember 2019, 12: 16: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Bet Griya, Dua Banjar di Nyambu Pantang Gunakan Sulinggih

MANGKU: Jro Mangku I Nengah Sudirga jadi pemangku sejak 2007 di Pura Agung. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Dua banjar di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan, bila menggelar upacara tidak akan mengundang sulinggih untuk muput (menjalankan) ritual. Setiap upacara sebesar apapun, cukup hanya memakai pemangku. Bagaimana  keunikan ini bisa terjadi?

Banjar Carik Padang dan Banjar Nyambu di Desa Nyambu, Tabanan, tidak menggunakan sulinggih (pedanda) ketika muput karya. Upacara agama seperti ngenteg linggih, mlaspas, nganten, dan lainnya hanya meminta bantuan kepada pemangku saja. Keunikan ini  sudah berlangsung sejak lama. Waktu pasti tradisi ini dimulai pun tidak bisa dipastikan, kecuali dari cerita tetua  terdahulu.

Jro Mangku I Nengah Sudirga, 56, pemangku Pura Agung menceritakan, berdasarkan tutur yang didengar dari tetua secara turun-temurun, awal kisah tradisi ini dimulai saat 22 orang dari Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung hendak membuka hutan. Dua puluh dua orang tersebut membagi diri menjadi dua grup, yang masing-masing membuka lahan hutan di lokasi yang berbeda. “11 orang itu buka hutan di Banjar Nyambu sekarang, dan 11 orang lainnya di Carik Padang ini,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Para pendatang dari Desa Kekeran tersebut mulai membuka hutan dan mendapati seorang sulinggih yang sudah tinggal di sana. Sulinggih tersebut meminta agar para warga yang merabas hutan untuk tempat tinggal itu, mendirikan sebuah pura. Pura ini kini  dikenal sebagai Pura Agung. “22 orang tersebut kemudian jadi pangempon Pura Agung sejak saat itu,” ungkap Jro Mangku I Nengah Sudirga.


Pura Agung yang dibangun oleh 22 orang tersebut, peresmiannya dipuput oleh sang sulinggih tersebut. Semenjak itu, sampai sekarang tidak lagi ada karya di Pura Agung yang dipuput (dipimpin) oleh seorang sulinggih. “Jadi, hanya satu kali saja memakai sulinggih dalam karya di pura ini, sampai sekarang cukup hanya pemangku saja,” terang Jro Mangku I Nengah Sudirga yang menjadi pemangku sejak 2007 ini.


Kedatangan warga kala itu, menurut cerita tetua yang didengar oleh Jro Mangku I Nengah Sudirga, sebelum kedatangan Pedanda Sakti Wawu Rawuh (Dang Hyang Nirartha). Kepercayaan tidak mengundang sulinggih untuk muput (memimpin) upacara serentak diikuti oleh dua banjar, yakni Banjar Nyambu dan Banjar Carik Padang. Setiap ada upacara, para warga yang punya hajatan itu akan datang nunas tirta (meminta air suci) dengan bantuan pemangku. Pemangku yang berwenang  ada lima, yakni pemangku dari Pura Nenggan di Abiantuwung. Pemangku dari Pura Agung, Pura Kroya, Pura Taman Agung di Desa Nyambu, dan  pemangku Pura Nenggan di Kaba-Kaba. “Hanya lima  pemangku di pura itu saja, warga yang punya karya bisa meminta bantuan ,” ucap pria yang menggantikan ibunya menjadi pemangku ini.


Jro Mangku I Nengah Sudirga mengungkapkan, pemangku akan nunas tirta (mohon air suci) ke Goa Bet Griya yang ada di Tukad (Sungai) Yeh Sungi yang berjarak sekitar kurang lebih satu kilometer dari Pura Agung. Jalan ke lokasi masih berupa tanah  dan harus melewati pematang sawah, membuat pilihan untuk kesana adalah berjalan kaki. Perjalanan sendiri tidak terasa lama, sebab melewati pemandangan sawah yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Usai melewati persawahan, maka akan melalui jalan menurun sekita 100 meter hingga sampai di sisi sungai. Posisi Bet Griya akan terlihat jelas di seberang sungai.


Bet Griya itulah konon dipercaya sebagai kediaman dari sang sulinggih terdahulu. Posisinya ada di seberang sungai, sehingga harus menyeberang langsung, sebab tidak ada jembatan. Selain itu, menurut warga, di area Bet Griya juga terdapat banyak monyet. Monyet itu tinggal di kawasan hutan di atas Bet Griya yang berupa gua di pinggir sungai. Goa yang menjadi Bet Griya memanjang sekitar 100 meter, dengan area datar yang cukup luas di depan gua. Area tersebut jadi tempat warga ketika mau sembahyang nunas tirta. “Kalau pemangku mau nunas tirta ke sana, tidak boleh memakai genta. Itu kepercayaan, saya kurang tahu alasannya itu kenapa,” papar Jro Mangku I Nengah Sudirga.


“Setahu saya yang berstana di Bet Griya adalah Ida Ratu Gede Putus. Tidak ada kelebutan (sumber mata air) di Bet Griya itu, namun ada kucuran air dari dindingnya. Nah itu yang dipakai tirta untuk upacara yang akan diselenggarkan warga di sini,” tambahnya.


Selama ini, sepengetahuan Jro Mangku I Nengah Sudirga  tidak pernah ada karya yang menggunakan sulinggih untuk muput. Dirinya mengakui, untuk akhir-akhir ini mulai ada yang menggunakan sulinggih. Pemangku yang pernah jadi tukang ini, tidak tahu pasti ada dampak atau tidaknya, jika memakai sulinggih. “Sampai sekarang biasa saja. Tidak ada dampaknya. Namun, warga banyak yang kukuh jalankan tradisinya,” ucapnya singkat.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia