Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Stress Bunuh Diri di Jembatan, Ternyata Korban Penipuan KSP Maha Suci

02 Desember 2019, 18: 45: 20 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tipu Rp 47 M, Polres Tabanan Diminta Serius Tangani KSP Sinar Suci

AUDIENSI : Perwakilan nasabah KSP Sinar Suci mendatangi Polres Tabanan, Senin (2/12). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Perwakilan nasabah jaringan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sinar Suci yang salah satunya berlokasi di Tabanan dengan nama KSP Maha Suci mendatangi Polres Tabanan, Senin (2/12). Mereka datang untuk mengetahui sejauh mana perkembangan penyelidikan atas kasus penipuan yang dilakukan jaringan KSP Sinar Suci di Tabanan dengan jumlah mencapai Rp 47 Miliar. Apalagi salah satu nasabah nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri setelah tak kuat menahan beban psikologis atas penipuan tersebut.

Kedatangan perwakilan nasabah yang didampingi anggota DPRD Provinsi Bali asal Tabanan I Made Supartha diterima langsung oleh Wakapolres Tabanan sekitar pukul 09.00 Wita.

Salah satu modus operandi yang digunakan koperasi ini adalah program penyelematan asset. Para nasabah ditawarkan menanamkan modalnya dengan iming-iming keuntungan bunga 1 persen, ditambah cashback bunga 3 persen, sehingga total nasabah mendapat bunga mencapai 4 persen per bulan. Pihak koperasi pun diduga bekerjasama dengan sejumlah BPR di Bali dalam menjalankan aksinya.

Anggota DPRD Provinsi Bali I Made Supartha menyampaikan, kedatangannya ke Polres Tabanan atas desakan dari para nasabah yang menjadi korban KSP Maha Suci, karena sudah berproses di Polres Tabanan cukup lama. Pihak nasabah juga terus bergerak dengan menemui berbagai pihak untuk mendapatkan keadilan, namun hingga saat ini kejelasan kasus penipuan yang dilakukan koperasi bodong itu belum dapat dipastikan.

"Puncaknya adalah, setelah salah satu nasabah nekat mengakhiri hidupnya akibat tekanan psikologis yang dialami. Ia ditekan oleh pihak perbankan untuk membayarkan kredit yang sebelumnya dilakukan oleh pihak koperasi ini," paparnya.

Maka dari itu, pihak nasabah ingin agar kepolisian menangani kasus ini dengan serius. "Siapa nanti yang bisa dimintai pertanggungjawaban, apakah ownernya, pengurusnya atau siapa, kami harap ditelusuri. Termasuk apakah dikenakan pasal perbankan, pencucian uang, atau KUHP, itu agar bisa dipastikan," imbuhnya.

Sementara itu, salah satu nasabah yang enggan disebutkan namanya mengisahkan, awal mula dia menjadi nasabah dalam KSP Maha Suci adalah setelah diajak oleh salah seorang temannya. Kala itu ia ditanya apakah memiliki utang atau tidak. Dan sebagai pengusaha di bidang event organizer, Panca pun memang memiliki utang di salah satu bank besar dengan nominal Rp 60 juta. "Lalu saya ditawari untuk ikut program penyelamatan aset di KSP Maha Suci ini, jadi sistemnya kita menanamkan modal di koperasi ini, tetapi dengan terlebih dahulu melunasi utang kita di bank. Koperasi ini yang melakukan pelunasan di bank, tetapi jaminan kita ditake over ke salah satu BPR. Kalau saya di BPR 'K', kalau nasabah yang lain bisa di BPR lainnya. Waktu itu utang saya Rp 60 juta, dan di BPR mereka bilang dapat pinjaman Rp 270 juta. Jadi Rp 60 juta untuk melunasi utang di bank, dan sisanya langsung masuk ke koperasi. Jadi saya sama sekali tidak menerima lagi uang itu," ungkapnya.

Setelah itu, proses pembayaran kredit ke BPR dilakukan langsung oleh koperasi, dan Panca pun rutin menerima bunga yang dijanjikan koperasi yang kantornya dulu berlokasi di seputaran Pasar Kodok, Tabanan. Hanya saja, perlahan proses pembayaran kredit ke BPR mulai macet, hingga ia sering kali didatangi petugas dari BPR. "Karena berkali-kali didatangi dan cukup membuat psikis saya dan anak saya terganggu, akhirnya saya lunasi kredit di BPR itu dengan bantuan uang dari kakak saya," imbuhnya.

Kendatipun kini dia sudah terlepas dari kejaran BPR, ia tetap ingin menuntut haknya atas modal yang ia tanamkan di koperasi tersebut. Di samping itu, ia juga ingin mendukung sesama nasabah yang menjadi korban untuk mencari keadilan. "Apalagi yang kena itu satu kompleks di Desa Dauh Peken, jadi satu lingkungan itu merasa cukup tertekan atas kasus ini. Kami berharap bisa tangani dengan serius oleh pihak kepolisian," harapnya.

Kasubag Humas Polres Tabanan Iptu I Made Budiarta menjelaskan, saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Sebanyak 38 orang telah diperiksa sebagai saksi. 

Menurutnya, pihaknya memang menemui kendala yakni terduga pelaku dalam hal ini owner KSP Maha Suci I Gusti Agung Jaya Wiratma yang sudah meninggal dunia pada Agustus 2018. "Sehingga kami harus melakukan pengembangan terhadap tersangka lain, itu pun harus cukup bukti," ujarnya.

Terlebih jika terduga tersangka sudah meninggal dunia, maka kasusnya akan gugur demi hukum dan tidak bisa dilimpahkan kepada ahli warisnya. "Intinya saat ini kasusnya masih berproses dan kami sudah memeriksa 38 orang saksi yang dipastikan akan bertambah sehingga tidak ada target waktu penyelesaian kasus," imbuhnya.

Sayangnya, ia mengaku tidak tahu apa informasi yang berhasil dikantongi kepolisian setelah memeriksa puluhan saksi tersebut. Namun ia berjanji akan memberitahukan kepada masyarakat setiap perkembangan penyidikan. "Untuk keterangan saksi itu penyidik yang tahu, tapi nanti setiap perkembangan akan kami beritahukan," pungkasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tabanan, I Made Yasa terkesan tak mau disalahkan dalam kasus ini. Padahal KSP Maha Suci ini sudah beroperasi di Tabanan sejak tahun 2013 dan bertahan selama tiga tahun sebelum bobroknya terbongkar. "Kami hanya membina dan mengawasi sesuatu yang kami berikan izin. Kalau tidak berizin, kan tidak terdaftar, jadinya kami tidak tahu keberadaannya," ungkapnya yang dikonfirmasi via telepon.

Apalagi, menurutnya, saat ini ada sekitar 509 koperasi yang terdaftar di Tabanan sehingga pengawasan dan pembinaan difokuskan pada koperasi yang telah berizin. "Selama ini yang kami awasi yang sudah terdaftar di Kementerian Koperasi. Kalau ada permasalahan kami bina. Kalau sudah tidak melakukan RAT 3 kali berturut-turut kami usulkan untuk dibubarkan agar tidak terjadi permasalahan ke depannya. Kalau seperti ini (KSP Maha Suci,Red), kan baru kami ketahui bodong setelah ada masalah. Dan kalau memang ada indikasi pidana, kami serahkan kepada pihak berwajib," pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan bahwa KSP Sinar Suci ini memiliki kantor cabang dengan berstatus belum legal alias belum berbadan hukum. Adapun cabang yang ada di Kabupaten Tabanan dengan nama KSP Maha Suci, KSP Maha Mulia Mandiri, KSP Tirta Rahayu. Selain itu, memiliki kantor cabang di Kabupaten Klungkung dengan nama KSP Pramesti Dewi, di Kabupaten Badung dengan nama KSP Maha Agung, KSP Restu Sedana, KSP Maha Kasih, di Denpasar dengan nama KSP Maha Wisesa, KSP Maha Adil Mandiri, dan di Gianyar dengan KSP Siti Restu, KSP Merta Sedana.

Sebelum dilaporkan ke Polres Tabanan pada September 2018 lalu, mediasi sempat dilakukan nasabah dengan pihak koperasi namun pihak menajemen koperasi KSP Sinar Suci termasuk istri almarhum terkesan tertutup tentang keberadaan aset. Padahal selama ini dana nasabah di lima kabupaten/kota dari cabang KSP Sinar Suci ini semua dikirim ke rekening pengelola, dan itu ada bukti transaksi, sehingga dimungkinkan untuk dilacak.

Ditambahkannya, di Kabupaten Tabanan nasabah yang menjadi korban penipuan KSP Sinar Suci ini mencapai 200 orang yang sebagian besar warga Desa Dauh Peken, dengan total dana mencapai Rp 47 miliar lebih. Rata-rata per nasabah memiliki dana dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. Mirisnya, sertifikat yang dijaminkan, sebagian besar berisi merajan atau sanggah. 

Dan yang paling mengejutkan adalah salah satu nasabahnya I Putu Astawa asal Banjar Riang Delod Sema Gede, Desa Riang Gede, Penebel, Tabanan, nekat mengakhiri hidupnya dengan lompat dari jembatan di Bypass Ir. Soekarno, diduga karena depresi selalu didatangi pihak BPR yang hendak menyita rumahnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia