Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Realisasikan PSEL di TPA Suwung, Pemprov Undang 30 Investor

02 Desember 2019, 20: 27: 49 WIB | editor : Nyoman Suarna

Realisasikan PSEL di TPA Suwung, Pemprov Undang 30 Investor

PSEL: Kegiatan market sounding yang dilakukan Pemprov Bali terkait realisasi PSEL TPA Suwung di Wiswa Sabha, Senin (2/12). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Di tengah silang sengkarut tata kelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali makin serius merealisasikan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Konon, sistem inilah yang menjadi satu-satunya solusi untuk mengelola sampah di TPA Suwung. Lantaran itu juga, Senin (2/12), Pemprov Bali menggelar kegiatan market sounding, semacam sosialisasi yang ditujukan kepada pihak pemangku kebijakan. Yang terpenting, kegiatan ini juga melibatkan 30 calon investor, dari dalam negeri dan luar negeri.

Kegiatan itu dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Dewa Made Indra, di Gedung Wiswa Sabha, Areal Kantor Gubernur Bali. Kegiatan ini juga melibatkan Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Pemukiman dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Aryo Bekti Martoyoedo.

“Jadi proyek ini pengolahan sampah yang mengasilkan energi listrik. Jadi tetap berdasarkan Perpres Nomor 35 Tahun 2018. Menghasilkan listrik sebagai pengembalian investasi dari investor, selain tipping yang disiapkan Pemprov dan Pemkab,” jelas Aryo.

Dia menjelaskan, pembangunan PSEL memerlukan biaya yang cukup besar. Nilai investasi yang diperlukan diperkirakan Rp 2,3 triliun. Skema yang akan ditempuh untuk merealisasikannya adalah kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Dalam pertemuan tersebut terungkap juga mengenai teknologi yang akan diterapkan dalam PSEL. Investor yang tertarik mengelola PSEL bebas menggunakan teknologi apapun. Sebab, soal teknologi, sejauh ini belum dipastikan pemerintah.

 Selama ini, pemerintah hanya menegaskan PSEL nantinya diharapkan mampu mengolah sampah yang menumpuk di TPS Suwung dengan ramah lingkungan, tapi menghasilkan listrik. Karena itu, kegiatan Senin (2/12) juga diharapkan dapat menjadi ajang untuk memberikan masukan dan menyempurnakan berbagai hal terkait realisasi PSEL.

Karena itu, selain investor, pihak yang ikut serta dalam market sounding di antaranya pengembang dan pihak perbankan yang akan menjadi pihak penyedia dana.

Hal menarik lainnya yang terungkap adalah adanya tipping fee. Ini mesti dibayarkan Pemprov Bali dan pemerintah kabupaten/kota. Untuk sementara, nominal tipping fee berkisar Rp 360 ribu per ton.

Disinggung mengenai tingkat realisasi proyek ini, Aryo menegaskan, PSEL sudah menjadi prioritas nasional. Bahkan pelaksanaannya diinstruksikan langsung oleh presiden melalui Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi  Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. 

“Ini jadi prioritas pemerintah pusat. Sebagai nilai tambah menghindari kegagalan,” sebutnya.

Terkait dengan tipping fee, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Bali, I Made Teja mengatakan, masih belum ada kesepakatan, meskipun itu terungkap dalam kegiatan Senin (2/12). Pun demikian nilainya yang dimunculkan saat pertemuan tersebut. “Belum disepakati Rp 360 ribu per ton. Baru pembicaraan. Nanti akan dibicarakan kembali,” tukasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia