Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Meski Gaji Rendah, Tak Surutkan Semangat Guru Mengajar di Pelosok

03 Desember 2019, 19: 10: 26 WIB | editor : Nyoman Suarna

Meski Gaji Rendah, Tak Surutkan Semangat Guru Mengajar di Pelosok

ZAKAT : Serah terima beaguru dari Global Zakat-ACT kepada Komariah melalui program Sahabat Guru Indonesia. (ISTIMEWA)

Share this      

JAKARTA, BALI EXPRESS – Selama sembilan tahun Komariah, 29, telah mengabdikan dirinya di Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 kelas jauh, di Desa Saluran, Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. SD Muhammadiyah 4 kelas jauh ini merupakan satu-satunya sekolah yang ada di desa ini dengan jumlah murid sebanyak 25 orang. Sekolah ini terdiri atas enam tingkat dan mereka belajar di satu unit bangunan kelas. Kondisi bangunannya pun terlihat tak layak guna. Atap bangunan terbuat dari seng, sementara dindingnya hanya diplester semen ala kadarnya. Begitulah gambaran kondisi pendidikan di tempat tersebut, di tempat Komariah mengabdikan dirinya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkesempatan bertemu dengan Komariah. Menurutnya, sebagai guru di tempat tersebut, ia hanya digaji Rp500 ribu per bulan. Walau gajinya kecil, Komariah tak pernah mengeluh. Ia tetap bersyukur atas rezeki yang diterimanya. “Yang penting anak-anak di kampung saya bisa bersekolah dengan baik,” ungkapnya.

Meski Gaji Rendah, Tak Surutkan Semangat Guru Mengajar di Pelosok

KONDISI : Kondisi SD Muhammadiyah 4 kelas jauh Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. (ISTIMEWA)

Selain bergaji kecil, Komariah pun perlu perjuangan lebih selama menjadi pendidik. Pasalnya, di kampung tempatnya mengajar belum teraliri listrik. Ketika malam hari, lampu dari genset atau sekadar lentera menjadi sumber cahaya. Di tengah keterbatasan ini, satu-satunya harapan Komariah hanyalah pendidikan di kampungnya segera maju.

Komariah merupakan satu dari ratusan ribu guru honorer di Indonesia dengan gaji rendah. Keadaan ekonomi mereka pun masih berada pada tahap prasejahtera. Akan tetapi, semangatnya begitu besar untuk memajukan pendidikan di pelosok negeri. Pertemuan Global Zakat-ACT dengan Komariah merupakan implementasi program Sahabat Guru Indonesia yang bertujuan untuk menunjang ekonomi para guru prasejahtera di Indonesia.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan menyampaikan, “Program ini merupakan apresiasi terbaik dari ACT untuk guru-guru berdedikasi tetapai prasejahtera di Indonesia.”  Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz), berasal dari wilayah prasejahtera, dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk siswa-siswanya.

Cerita lain hadir dari seorang guru di Dusun 3 Bumbung, Desa Kabetan, Kecamatan Ogo Deide, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sejak 2006, Masnun Ismail mengabdikan dirinya untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri Butun kelas jauh. Pada usianya yang menginjak 47 tahun, Masnun yang sebelumnya bekerja sebagai perangkat desa, kini memilih menjadi guru.

Tahun 2004 menjadi awal keterlibatan Masnun di dunia pendidikan di desanya. Ia diminta warga Dusun 3 Bumbung untuk mengajarkan anak-anak baca dan tulis. Sekolah yang didirikan merupakan hasil swadaya masyarakat. Hingga saat ini, sudah empat kali bangunan sekolah direnovasi karena sudah empat kali juga bangunan sekolah roboh.

Selama perbaikan sekolah secara swadaya oleh masyarakat, Masnun dan murid-muridnya melakukan kegiatan belajar dan mengajar di kolong rumah panggung milik warga setempat. Walau demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat belajar anak-anak desa. “Sejak 2006 saya memilih jadi guru. Saya ingin jadi guru sepenuhnya walau tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai guru. Masa depan anak-anak desa yang jadi alasan saya untuk terus jadi guru walau secara gaji memang terbilang jauh daripada menjadi perangkat desa,” tutur Masnun.

Gaji yang Masnun dapatkan dari mengajar masih tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk itu, sepulang mengajar, Masnun menjadi nelayan. Ia memancing hasil laut sebagai penghasilan tambahan agar dapur keluarganya tetap mengepul. Ia mengaku hanya dua jam tidur tiap harinya. Pagi hari sepulang melaut, Masnun harus kembali ke sekolah guna mengajar.

Kisah Masnun dan Komariah merupakan satu dari potret kehidupan guru di pelosok negeri ini. Masih banyak guru-guru lain yang serupa perjuangannya demi pendidikan negeri ini. Hingga kini, masih ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR (rata-rata Rp 300.000 sampai dengan Rp 500.000  per bulan).

ACT mengajak para dermawan memuliakan para guru dengan berdonasi untuk para penyampai ilmu hingga pelosok-pelosok Indonesia. Mari tunjukkan kepedulianmu dengan berdonasi melalui indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia. #IndonesiaDermawan #SahabatGuruIndonesia.

(bx/yes/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia