Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Terapis Asal Bali Meninggal di Singapura, Dapat Tagihan RS Rp 500 Juta

03 Desember 2019, 19: 41: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Terapis Asal Bali Meninggal di Singapura, Dapat Tagihan RS Rp 500 Juta

FOTO KENANGAN: I Gusti Ayu Nyoman Puspitawati semasa hidup. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Media sosial Facebook Selasa (3/12) mendadak dipenuhi dengan postingan mengenai seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Bali yang meninggal dunia karena sakit di Singapura namun keluarganya kesulitan memulangkan jenazah karena terkendala biaya. Kekuatan media sosial akhirnya bisa memudahkan jalan keluarga almarhum, hingga akhirnya Selasa malam jenazah I Gusti Ayu Nyoman Puspitawati, 46, akan diterbangkan dari Singapura ke Bali.

Perwakilan keluarga almarhum, dr. I Gusti Ngurah Putera Eka Santhosa menuturkan bahwa almarhum yang berasal dari Banjar Tinungan, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan tersebut sejak satu tahun terakhir bekerja di Swiss Hotel, Turkey sebagai SPA therapys. Ia memutuskan bekerja di luar negeri untuk memastikan putra dan putrinya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Sayangnya karena bekerja keras di Turkey, tidak jarang melupakan makan. Sehingga maag yang semula akut menjadi kronis kemudian meluas hingga membuat beliau tidak kuat bertahan," ujarnya.

Almarhum kemudian memutuskan untuk pulang ke Bali dan pada tanggal 1 Desember 2019 lalu berangkat dari Turkey menuju Bali. Namun nasib berkata lain. Saat transit di Singapura, dikisahkan oleh perawat almarhum kolaps, hingga kemudian mendapat perawatan intensif di salah satu Rumah Sakit di Singapura. Sayang Senin (2/12) almarhum menghembuskan nafas terakhir. "Pihak RS lalu menghubungi keluarga,lengkap dengan mengirimkan tagihan RS yang membuat keluarga terkejut. Jika dirupiahkan mencapai Rp 500 juta," imbuh pria yang akrab disapa dr. Ngurah.

Saat itu keluarga kebingungan, dan tidak menyangka jika almarhum akan sakit separah itu serta menghabiskan biaya yang tidak pernah dibayangkan keluarga. Kemudian salah satu saudara almarhum dari Desa Senganan, Penebel, Tabanan  menghubungi dirinya yang kebetulan merupakan Ketua Umum Paiketan Ageng Trah Shri Arya Sentong untuk meminta petunjuk.

"Keluarga bingung untuk memulangkan jenazah almarhum, sehingga saya mencoba menghubungi kawan-kawan dan relasi saya. Melalui campur tangan Bapak I Ketut Teneng, saya dihubungkan dengan Kepala Disnaker Provinsi Bali, Ida Bagus Arda, dan melalui dr. Putu Laksmi Anggari Putri Duarsa, saya dibantu menghubungi pihak KBRI Singapura. Bahkan dengan respons cepat Kepala Disnaker yang langsung meminta data lebih lengkap dan berkoordinasi dengan BP3TKI Bali menghubungi KBRI Singapura," jelasnya.

Dan Selasa (3/12), dokter yang juga Ketua Bidang Kesehatan KONI Provinsi Bali ini mengunggah perihal biaya dan ketidakmampuan keluarga almarhum sekaligus membuka donasi ke media sosial facebook sekitar pukul 04.00 Wita dengan harapan dapat membantu pihak keluarga. Dan benar saja sekitar pukul 07.45 Wita, dirinya mendapatkan telepon dari seorang Ibu yang menanyakan kebenaran dan kejelasan dari berita yang diunggah.

"Dan di akhir percakapan barulah terungkap kalau yang menghubungi saya itu adalah Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster. Dan beliau menggerakkan jaringan yang dimiliki untuk membantu memulangkan Ibu Puspitawati ke Bali," tegasnya. 

Pihak keluarga pun sangat bersyukur atas bantuan yang didapat, meskipun biaya Rumah Sakit yang mencapai Rp 500 Juta lebih masih dinegosiasi sehingga keluarga masih memerlukan bantuan untuk melunasinya. Apalagi tidak sampai 6 jam, melalui Kadisnaker Bali menginformasikan jika hasil koordinasi dengan KBRI, bawasannya Selasa malam pukul 22.00 Wita jenazah akan diberangkatkan dari Singapura menuju Jakarta, kemudian ke Bali dan diperkirakan sampai di Airport I Gusti Ngurah Rai, Rabu (4/12) sekitar pukul 08.45. Wita. "Sehingga keluarga almarhum, keluarga Besar Jro Tinungan Trah Shri Arya Sentong, mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Gubernur, Jajaran KONI Provinsi Bali, Kadisnaker beserta 

BP3TKI, keluarga besar KBRI Singapura, Garda Puri Sejebag Tabanan (GPST), Keluaga Besar Pasemetonan Ageng Trah Shri Arya Sentong beserta para donatur yang tidak dapat disebut satu persatu. Dari kejadian ini kita belajar bahwa kesehatan, asuransi dan kehadiran Negara dalam menangani masalah terkait Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri sangat dibutuhkan," pungkasnya. 

Hal serupa disampaikan oleh kakak kandung almarhum, I Gusti Ngurah Subrata yang mengungkapkan rasa syukur atas bantuan pihak-pihak terkait dalam pemulangan jenazah sang adik. "Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan jenazah adik saya, dan informasi terupdate besok (hari ini,Red) jenazah adik saya bisa tiba di Bali," ujarnya.

Kendatipun kepergian almarhum sangat mengejutkan keluarga, namun keluarga mencoba mengikhlaskan almarhum. Almarhum pergi meninggalkan sang suami Anak Agung Oka Artana yang kini dalam kondisi sakit serta dua orang anak yakni Anak Agung Hendra Arta Putra dan Anak Agung Istri Diah Arta Sari.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia