Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Ke Bali, Tomy Winata Jadi Saksi di Sidang Bos Hotel Kuta Paradiso

03 Desember 2019, 19: 47: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ke Bali, Tomy Winata Jadi Saksi di Sidang Bos Hotel Kuta Paradiso

BERI KETERANGAN: Tomy Winata yang (kemeja biru) saat memberikan kesaksian di hadapan Majelis Hakim PN Denpasar dalam sidang yang menempatkan bos Hotel Kuta Paradiso, Harijanto Karjadi, sebagai terdakwa pada Selasa (3/12). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Bos Artha Graha, Tomy Winata, terlihat hadir di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali, pada Selasa (3/12). Dia hadir untuk memenuhi panggilan sebagai saksi dalam perkara pemalsuan akta otentik dalam penjualan saham. Terdakwanya tiada lain pemilik Hotel Kuta Paradiso, Harijanto Karjadi.

Dalam persidangan tersebut, Tomy Winata terlihat mengenakan kemeja biru dengan bawahan celana kain hitam. Menariknya lagi, sejak dia tiba di PN Denpasar, dia mendapatkan pengawalan cukup ketat dari belasan orang berbadan tegap.

Di kesempatan itu, Tomy Winata tidak seorang diri bersaksi. Sebelumnya ada juga Desrizal Chaniago. Dia merupakan kuasa hukum Tomy Winata yang diberi kuasa untuk melaporkan kasus ini ke pihak Polda Bali.

Desrizal yang pertama memberikan kesaksian dalam sidang perkara itu. Baru setelah itu Tomy Winata yang merupakan saksi korban dalam perkara ini.

Dalam kesempatannya, Tomy Winata setidaknya hampir satu jam memberikan keterangan dalam persidangan yang dipimpin Ketua PN Denpasar, Soebandi, itu.

Dalam keterangannya, Tomy Winata mengaku mengenal Harijanto. Bahkan pada 1995, keduanya sempat bekerja sama. Karena itu, dalam perkara ini, Tomy Winata menegaskan bahwa bukan masalah ekonomi yang jadi persoalan utamanya.

“Berbagai jalur (sudah) kami tempuh. Seperti jalur kekerabatan. Tapi mentok. Hingga akhirnya ke jalur hukum,” ujar Tomy Winata menceritakan awal mula kasus ini dilaporkan ke pihak Kepolisian.

Dalam perkara itu, bos Kartika Plaza ini juga melihat Harijanto tidak punya itikad baik untuk menuntaskan tanggung jawabnya.

Menurut Tomy Winata, perkara ini bermula saat Harijanto dan saudaranya, Hartono Karjadi (berstatus buronan), melakukan penandatanganan akta perjanjian pemberian kredit antara PT Giya Wijaya Prestige (GWP) diwakili terdakwa melalui Sindikasi Bank (bank konsorsium).

Dalam perjanjian itu, PT GWP yang diwakili Harijanto memperoleh pinjaman sebesar USD 17.000.000. Pinjaman itu dipakai membangun Hotel Sol Paradiso yang kini ganti nama menjadi Hotel Kuta Paradiso milik terdakwa.

Harijanto menjaminkan tiga sertifikat tanah dalam memperoleh pinjaman tersebut. Selanjutnya gadai saham atas nama Harijanto Karjadi di PT GWP, gadai saham atas nama Hermanto Karjadi, gadai saham atas nama Hermanto Karjadi, gadai saham atas nama Hartono Karjadi.

Dalam perjalanannya, Tomy Winata membayar piutang Harijanto pada salah satu bank. Selain itu, dia juga mengambil alih Bank Sindikasi yang lagi kolaps saat itu.

Namun, Harijanto diduga melakukan praktik manipulasi administrasi hukum dalam bentuk kepemilikan saham yang dipindahkan lagi dalam masa dianggunkan bersama sang kakak Hartono Karjadi.

Terhadap dugaan itu, Bank Sindikasi yang sudah diambil alih Tomy Winata sekaligus debitur diperkirakan merugi ratusan miliar. Pun demikian dengan pribadi Tomy Winata sendiri. Yang merasa dirugikan sebesar USD 20.389.661.

Dia menyebutkan, Bank CCB merupakan bank besar. Masuk dalam peringkat lima besar dunia. Baginya, bila kasus yang menjerat Harijanto itu dibiarkan begitu saja, itu akan berpengaruh dan mengganggu aktivitas investasi di Indonesia.

Kasus ini juga membuat Bank CCB merasa tertekan. Salah seorang petingginya sampai ditetapkan sebagai tersangka. “Saya niatnya menolong terdakwa,” katanya.

Menolong, maksud Tomy Winata, yakni dengan membeli piutang terdakwa untuk menghindari kemungkinan masalahnya melebar dan menggangu iklim investasi.

“Untuk menghindari kemungkinan permasalahan ini dapat mengganggu kepercayaan investor baik lokal maupun asing di Indonesia,” sebutnya.

Giliran ditanya oleh kuasa hukum terdakwa, Tomy Winata menyangkal kalau dirinya berniat ingin menguasai hotel milik terdakwa. “Kami hanya ingin terdakwa kembali bangkit punya hotel,” jelasnya.

Agenda pemeriksaan saksi-saksi dalam perkara ini merupakan lanjutan dari sidang sebelumnya. Itu setelah majelis hakim menolak eksepsi yang diajukan Harijanto Karijadi dalam sidang beberapa waktu lalu.

Dalam perkara ini, Harijanto didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana ketentuan Pasal 266 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) kesatu,  Pasal 372 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) kesatu.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia