Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

UNHI Siap Cetak Sarjana Leak, Buka Prodi Ilmu Tantra

03 Desember 2019, 22: 07: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

UNHI Siap Cetak Sarjana Leak, Buka Prodi Ilmu Tantra

SEMINAR LEAK : Rektor UNHI Prof. I Made Damriyasa bersama para narasumber seminar leak. (AGUS SUECA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar benar-benar serius menggarap gagasannya tentang Program Studi (Prodi) yang mempelajari Ilmu Tantra yang kerap dikenal oleh orang sebagai pada sub ilmu pengleakannya.

Seminar nasional bertajuk “Pengleakan Dalam Kajian Filsafat Agama dan Ilmu pada Masyarakat Bali” diselenggarakan pada Selasa (3/12) untuk memberikan pemahaman awal bahwa pengleakan tidak selalu negatif.

Seminar nasional ini dibuat dalam dua sesi, terdiri atas sesi seminar umum melibatkan empat pembicara dan panel diskusi dengan 16 pemakalah berbeda. Empat pembicara yaitu Volker Gottowik dari Goethe University, Frakfurt, Jerman,  I Gusti Ayu Diah Fridari dari Psikologi, Universitas Udayana, ketiga adalah Komang Indra Wirawan dan keempat I Gusti Ngurah Harta dari praktisi ilmu pengleakan.

Rektor UNHI Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., mengatakan, pembukaan prodi baru ini adalah untuk mengapresiasi para ahli dan tokoh yang telah menekuni sekaligus melestarikan pengetahuan warisan leluhur. “Karena ini mengarah ke arah vokasional dan profesi, tentu yang mengajar para mahasiswa adalah orang yang sudah pakar di bidang ini. Sulit jika menerapkan dengan standar nasional, sehingga perlu terobosan baru,” ujarnya saat diwawancarai awak media usai memberi sambutan.

Prof. I Made Damriyasa sendiri menargetkan agar prodi baru ini bisa dibuka pada ajaran baru tahun 2020 mendatang. Ia mengharapkan mahasiswa yang mengambil jurusan ini tidak hanya dari Bali saja, tetapi juga dari luar Bali dan mancanegara. “Nantinya, prodi baru ini akan masuk ke dalam Fakultas Agama dan Kebudayaan,” ucapnya singkat.

Pada seminar tersebut, Direktur Pascasarjana UNHI Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si., mengungkapkan bahwa Bali mempunyai ribuan teks lontar yang berkaitan dengan pengleakan dari filsafatnya, teknis, sub-sub pengleakan, sehingga ini adalah ilmu. “Selama ini kan yang dikenal masyarakat umum pengleakan itu negatif, padahal ilmu itu sebenarnya netral seperti pisau,” tandasnya. “Kalau kita gunakan dengan perasaan, tidak enak akan menyakiti. Semua pusat orientasi pemujaan adalah Bathara dalam berbagai aspek,” ungkapnya.

Menerut Prof. I Wayan Suka Yasa, pengleakan itu ada tiga, terdiri atas penengen (ilmu putih), pengiwa (ilmu hitam) dan kemokshan (ilmu untuk mencapai pembebasan yakni moksha). Dirinya mengungkapkan, dengan menekuni ilmu penengen, seseorang bisa menjadi balian dan memberikan obat untuk menyembuhkan yang sakit. Berbeda dengan pengiwa, jika ditekuni, lebih bersifat destruktif. Aspek kemokshan, menurut Prof. I Wayan Suka Yasa, untuk memberi pelajaran bahwa walau sudah mempunyai ilmu yang hebat, manusia tidak akan terlepas dari kematian. “Kematian harus dipersiapkan dengan benar. Ilmu agar bisa meninggal dengan benar pun juga ada,” tutur Prof. I Wayan Suka Yasa.

Penilaian masyarakat bahwa pengleakan adalah ilmu yang negatif, sebenarnya salah. Suka Yasa menjelaskan bahwa lontar pengleakan sampai saat ini malah lebih banyak ditemukan di griya. “Jika pada pandangan positif kita lihat sulinggih dan pemangku, karena pada ngelinggihan aksara suci tantra digunakan sebagai alat untuk menanamkan sifat baik dalam diri. Apabila aksara suci yang distanakan dalam diri kita gunakan dengan benar, maka jadi sulinggih. Kalau salah lain lagi persoalannya. Maka dari sinilah perlu diluruskan,” paparnya.

“Seperti kisah rangda yang dikalahkan oleh Mpu Baradah, dihidupkan kembali lalu disadarkan agar tidak melakukan hal yang destruktif,” tambahnya.

Prodi ini nantinya lebih mengarahkan ke hal yang positif, seperti pelajaran untuk menghilangkan stress seperti yang dicontohkan pada seminar tadi oleh pembicara Komang Indra Wirawan. Ilmu tersebut digolongkan sebagai yoga tantra. Belajar tentang ilmu pengleakan akan menjadi karakter dewa (positif), bisa menghargai alam dan sesama manusia serta bisa mengambil keputusan dengan benar.

Disinggung tentang pekerjaan lulusan ini nantinya, Prof. I Wayan Suka Yasa mencontohkan narasumber I Gusti Ngurah Harta yang melanglang buana di banyak negara Asia dan Eropa sebagai pengajar tentang ilmu pengleakan. “Selama ini masyarakat kan bukan penekun, jadi kita buat mereka yang belajar di sini nantinya jadi penekun sehingga bisa menjadi pembicara-pembicara di luar negeri tentang ilmu pengleakan ini,” terangnya.

Sementara itu, praktisi leak I Gusti Ngurah Harta memandang bahwa seminar yang diadakan UNHI dalam rangka pembentuka prodi ini sangat positif. Menurutnya, Jepang sebagai negara maju pun punya fakultas ninja. Banyak orang luar negeri justru sudah mempelajari tentang filsafat ilmu pengleakan. Praktisi pengleakan ini pun melihat bahwa ketika menjadi pembicara di negara lain, masyarakat di sana sangat antusias. “Kalau benar ini prodi sudah jadi, saya minta orang dari Eropa juga ikut mengajar. Orang tua yang kita anggap tidak tahu apa-apa bisa menciptakan ilmu seperti ini,” ucapnya kepada awak media.

“Ilmu pengleakan itu, fisafatnya yang harus kita pahami, bukan tepuk dada nantang-nantang seperti itu,” imbuhnya.

Komang Indra Wirawan, salah satu pembicara pun memberikan sedikit komentar, bahwa keberadaan prodi ini nantinya diharapkan bisa memberi penjelasan tentang arti pengleakan yang sesungguhnya. “Sebab selama ini belum ada defenisinya secara pasti, karena langsung ke ilmu pengiwa, penengen dan lainnya saja,” ujar pria yang akrab dipanggil Komang Gases ini.

Acara seminar sendiri juga diisi dengan dua praktik tentang ilmu kebatinan. Pertama ada ilmu kebatinan dengan mengeluarkan atma dari tubuh dan tubuh menjadi kaku seperti mayat. Sontak peserta seminar berdecak kagum melihat hal itu, bahkan untuk memastikannya, mereka sempat memegang leher sang praktisi.

Selain itu, pada kesempatan sebelum penutupan seminar, Komang Indra Wirawan menyempatkan untuk mempraktikan kepada beberapa mahasiswa dan peserta seminar. Ada empat mahasiswa dan dua orang umum yang berani menjadi sukarelawan. Satu mahasiswa dan satu dari orang umum masih berdiri dengan sadar dan empat lainnya tertidur. Komang Gases menerangkan bahwa praktik ini, menunjukkan bahwa kerauhan (kesurupan) bisa terjadi pada orang yang labil.

(bx/sue/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia