Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Jero Mangku Wayan Kantun; Anak Sakit Aneh Baru Pasrah dan Mau Ngayah

04 Desember 2019, 12: 01: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jero Mangku Wayan Kantun; Anak Sakit Aneh Baru Pasrah dan Mau Ngayah

Jero Mangku Wayan Kantun (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS - Perjalanan hidup tak bisa ditebak, meski semuanya sudah direncanakan. Semuanya buyar, bila akhirnya berurusan dengan masalah niskala, seperti yang dialami Wayan Kantun.

Wayan Kantun tak menyangka  perjalanan hidupnya yang berliku harus berakhir di terminal yang identik dengan ngayah (kerja tanpa pamrih). Pria 38 tahun ini terpilih dan harus menjalakan kewajibannya  sebagai seorang pemangku di Pura Panti Penataran di Munti Gunung, Karangasem, Bali.

Berbagai ujian kehidupan yang tak hentinya dialami, sebelum sah mengabdikan diri menjadi pemangku. Meski sempat dicarikan orang pintar oleh ibu serta istrinya hingga muncul perintah agar menjadi pemangku, namun belum mampu membuat dirinya percaya segampang itu dengan apa yang dikatakan. Meski ia sejatinya memiliki garis keturunan seorang Jero Mangku dari sang ayah. Namun, ia menolak menjadi pemangku karena merasa tidak terlalu pintar, apalagi usianya masih muda pada waktu itu. Selain memiliki ayah seorang pemangku, kakeknya juga   menjadi kelian adat di desanya. Hal itu dianggap sebuah ciri yang memang dari keturunan keluarga leluhurnya sudah didaulat menjadi pemimpin adat di desanya.

“Sebelumnya bapak saya seorang jero mangku juga, tapi saya  belum yakin waktu itu karena saya  tidak pintar dan usia masih muda. Bahkan, kakek saya juga pernah sebagai kelian adat di sini. Semua itu bisa dianggap ciri keluarga saya didaulat jadi pemimpin di sini,” ungkapnya pekan kemarin di Karangasem.

Tak disanggahnya, pria yang memiliki tiga anak ini, berbagai godaan dialami, juga keluarganya sebelum bersedia menjadi seorang pemangku.


Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jero Mangku Wayan Kantun sempat  jatuh dari sepeda motor sampai tidak ingat apa-apa. Bahkan tak bisa ngomong. Namun pada saat  diberikan tirta, akhirnya sembuh.


Setelah peristiwa  itu, selanjutnya dicarikan orang pintar oleh ibunya. Hasilnya tetap sama dengan apa yang didapatkan  sebelumnya, bahwa Wayan Kantun harus  menjadi seorang jero mangku. Petunjuk dari niskala lewat orang pintar itu tak digubrisnya.

Akibatnya, ia kembali apes di jalan, dan jatuh dari sepeda motor. Ibunya yang gelisah dengan peristiwa aneh dialami anaknya terus berupaya untuk memcari solusi terbaik, dan lantas kembali memohon petunjuk ke tokoh spiritual. Petunjuk yang didapat makin benderang, bahwa Wayan Kantun mesti jadi pemangku di Pura Penataran Panti. Sayang, hatinya belum juga luluh dengan alasan tidak merasa layak karena tidak pintar, dan menilai dirinya bukanlah orang yang pas.

“Masa orang tidak pintar dipilih ngiring oleh Ida," ujarnya dengan nada tidak percaya.


Godaan tak mau berhenti, dan giliran anaknya yang jadi masalah. Anak Wayan Kantun tiba-tiba sakit, ada lima benjolan (bisul) muncul tiba tiba di kepalanya. Cara lain akhirnya ditempuh ibunya. Bila sebelumnya mendatangi orang pintar, kini orang pintar yang didatangkan ke rumahnya.

Melihat cara tersebut, Wayan Kantun menanggapi enteng karena hingga detik itu ia tidak percaya seolah semua kejadian dikaitkan dengan tidak bersedianya ia jadi pemangku.

Wayan Kantun yang kukuh dwngan pendiriannya itu, tiba tiba seolah menantang orang pintar tersebut. " Bila anak saya bisa sembuh dalam dua hari, saya siap jadi pemangku," ujarnya. Benar saja, bisul yang ada di kepala anaknya sembuh.

Diakuinya, tak hanya sebatas kecelakaan dan sakit anaknya dialami. Namun, sakit keluarga silih brrganti yang justru membuatnya paling resah.

“Dahulu saya sempat bingung karena kakek dan nenek sakit terus. Entah darimana pikiran bingung itu datang, sampai akhirnya punya pemikiran merusak Palinggih Subak dan Panunggu Karang. Bahkan waktu itu juga, sering mengamuk di jalan, kadang sampai istri saya tak luput saya marahi ,” imbuhnya.

Jero Mangku Wayan Kantun sangat menyadari ketika yang Mahasempurna berkehendak, tak seorangpun kuasa melawannya. Sederetan peristiwa buruk dalam kehidupannya, dijadikan pelajaran yang sangat berharga.

“Astungkara setelah anak saya mengalami kejadian aneh, dan sampai empat kali mencari orang pintar, akhirnya saya ngiring jadi pemangku. Kehidupan saya sekarang lebih baik dari sebelum ngiring jadi pemangku,” pungkasnya.

(bx/dar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia