Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Musim Kering, Selang Dua Jam, Dua Pura di Karangasem Terbakar

04 Desember 2019, 20: 46: 12 WIB | editor : Nyoman Suarna

Musim Kering, Selang Dua Jam, Dua Pura di Karangasem Terbakar

PURA TERBAKAR: Petugas pemadam kebakaran memadamkan api yang melalap balai di Pura Dalem Desa Dukuh, Rabu (4/12 (ISTIMEWA)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Hujan mestinya sudah turun sejak awal Nopember 2019. Namun Karangasem masih saja dilanda kekeringan. Akibatnya, kebakaran lahan di beberapa wilayah di Bumi Lahar Karangasem tak terelakkan.

Rabu (4/12) kebakaran terjadi dua kali dalam sehari. Bahkan kejadiannya hanya berselang dua jam. Kebakaran pertama melanda Pura Dalem Desa Adat Dukuh, Kecamatan Kubu sekitar pukul 10.52. Sementara kebakaran kedua terjadi di Banjar Paselatan, Desa Labasari, Abang, Karangasem.

Perbekel Dukuh I Gede Samiarsa mengatakan, api yang melalap pura dalem setempat bermula karena lahan di sekitar pura terbakar lebih dulu. Ada sekitar 3 hektare lahan kering terbakar akibat kekeringan. Kemudian api merembet karena angin di lokasi cukup kencang. Warga berusaha memadamkannya, namun tak kunjung padam dan keburu melalap bangunan pura.

"Kalau dugaan bakar sampah. Saya belum berani memastikan. Di sana tidak ada pemukiman. Dan lebih dekat dengan kuburan. Kemungkinan besar karena angin dan cuaca panas," tegasnya.

Api berhasil padam setelah pemadam kebakaran mengirim empat armada ke lokasi. Sebanyak 20 ribu liter air dibutuhkan untuk memadamkan api dalam beberapa jam. Data Dinas Pemadam Kebakaran Karangasem menyebut kerugian ditaksir Rp 210 juta.

Sementara di lokasi lain, kebakaran melanda Pura Dalem Desa Labasari, Kecamatan Abang, sekitar pukul 12.18. Kebakaran diduga akibat warga yang membakar sampah. Akibat kejadian tersebut, kerugian materiil disinyalir capai Rp 1,5 miliar. Jro Mangku Pura Dalem Desa Pakraman Peselatan, Wayan Sukada, mengungkapkan, titik api berasal dari sebelah barat pura.

"Angin kencang di lokasi. Ada yang bakar sampah juga akhirnya merembet ke lahan kering. Apinya cepat menyebar, apalagi atap palinggih pakai ijuk. Jadi api cepat membesar," tutur Jro Mangku melalui telepon. Akibatnya gedong, palinggih, dan bangunan suci lainnya hangus.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Karangasem Nyoman Tari menjelaskan, kondisi wilayah di Labasari dan Dukuh sama-sama kering. Bahkan penanganan lebih sulit di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu karena berada di kaki Gunung Agung. Angin bertiup kencang sehingga api cepat menjalar.

Nyoman Tari mengakui, personel di lapangan kesulitan memadamkan api karena berjibaku melawan tiupan angin. "Penanganan di Dukuh melibatkan banyak unit dan personel karena lebih sulit. Sementara di Labasari kami mengirim dua unit pemadam dengan total 10 ribu liter air," pungkas Tari.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia