Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Jembrana Libatkan Ribuan Seniman dalam Festival Jegog di Rambut Siwi

05 Desember 2019, 10: 52: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jembrana Libatkan Ribuan Seniman dalam Festival Jegog di Rambut Siwi

MERIAH : Festival Jegog yang digelar di Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) Rambut Siwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, selama tiga hari, mulai Rabu (3/12) hingga Jumat (5/12), disambut meriah warga Jembrana. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

NEGARA, BALI EXPRESS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana menggelar Festival Jegog  selama tiga hari, mulai Rabu (3/12) hingga Jumat (5/12). Festival yang dilaksanakan di Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) Rambut Siwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo ini, sebagai upaya melestarikan kesenian dan budaya asli Jembrana. 

Pemkab Jembrana mengemas event Jegog tahun ini berbeda. Selain pemilihan tempat di Anjungan Cerdas yang baru saja pengelolaan sementaranya diserahterimakan pemerintah pusat, kemasan eventnya dibuat dengan konsep festival selama tiga hari. Tidak hanya menampilkan atraksi serta kemampuan seniman Jembrana memainkan alat musik Jegog, namun juga diisi dengan pameran Jegog, Workshop Jegog serta pamungkasnya akan ditutup dengan Jegog Mabarung Massal serta Ngibing Massal. Mengusung  tema 'The magic sound of west Bali', panitia penyelenggara berusaha mengakomodasikan keinginan berbagai pihak akan kemasan Festival Jegog yang lebih baik, sesuai hasil  focus grup discussion (FGD) yang digelar sebelumnya.

Dalam acara yang dibuka Kadis Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana, hadir pula Bupati Jembrana, I Putu Artha, Wakil Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, Forkopimda Jembrana, pelaku seni di Jembrana, dan warga masyarakat.

Dalam kesempatan kemarin, Bupati Jembrana, I Putu Artha mengatakan, sebanyak 84 Sekaa Jegog yang tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Jembrana dengan total 2.500 orang seniman aktif, terlibat dalam Festival Jegog tahun ini. Kegiatan ini diharapkan mampu mengembangkan kreativitas seniman melalui berbagai garapan komposisi, mendorong tumbuhnya ekonomi budaya sekaligus sebagai tontonan dan tuntunan bagi generasi muda untuk mencintai kesenian khas daerahnya sendiri. “Festival ini merupakan salah satu upaya kami dalam melestarikan kesenian Jegog yang merupakan salah satu identitas budaya asli Jembrana,” ujarnya.


Bupati Jembrana, I Putu Artha  menambahkan, pihaknya berharap Festival Jegog dapat menjadi event tahunan yang menggelorakan kehidupan budaya serta kepariwisataan di Jembrana. “Kami sampaikan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi yang mendukung secara penuh pelaksanaan Festival Jegog tahun ini. “Selain dapat memberikan hiburan kepada masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa Jembrana adalah pusatnya Jegog,” paparnya.


Sebagai salah satu daya tarik wisata, Artha juga ingin kesenian Jegog mampu menarik wisatawan untuk datang ke Jembrana. “Kami merancang pementasan Jegog rutin digelar disini, sebanyak dua kali seminggu. Jadi wiatawan yang selama ini hanya melintas saja lewat Gilimanuk, bisa singgah dan datang ke Jembrana. Sehingga mereka tahu  bahwa di samping Mekepung, Kabupaten Jembrana juga punya kesenian Jegog,“ terangnya.


Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana, sangat mengapresiasi dan menyambut positif pelaksanaan Festival Jegog tahun ini. Apalagi Jegog yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, kaya akan nilai filosofis, sosiologis serta makna sejarah. Nilai itu sangat penting bagi Bali, bahkan juga nasional, sehingga dengan terselenggaranya Festival Jegog Jembrana tahun ini, bisa mensosialisasikan  keadiluhungan nilai-nilai  Jegog itu. “Jadi, event ini sangat bagus, semoga bisa terselenggara secara kontinyu. Yang terpenting bagaimana kita bersama-sama menjaga aset bangsa ini, diantaranya melalui penyelenggaraan event. Baik itu Pesta Kesenian Bali di Provinsi maupun event skala nasional, bahkan di tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.


 Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin,  pelakasanaan festival di hari pertama berlangsung meriah. Menampilkan pementasan Jegog tempo dulu dengan pagelaran Tari Ticak Dayang yang dibawakan oleh Trah Kiyang Gliduh, sebagai pencipta Jegog di Kabupaten Jembrana. Selanjutnya pada tampilan kedua, diisi pementasan Jegog kreasi oleh Jegog Suar Agung yang membawakan Tarian Makepung. Penampilan terakhir diisi dengan pementasan Jegog kolaborasi yang dibawakan oleh Sanggar Kumara Widya Suara SMPN 4 Mendoyo dengan mebawakan karya musik dan Tarian Jejangeran. Tarian ini  menggambarkan romantisme kehidupan anak-anak berkolaborasi dengan musik diatonis yang ditata dengan lagu Pop Bali sebagai interpretasi anak muda dengan olah vokal yang bernuasa kekinian.


Di hari kedua festival, diawali dengan pelaksanaan FGD Jegog/Workshop Jegog membedah  hal-hal yang masih belum terjawab berkaitan dengan kesenian Jegog. Gamelan Jegog adalah kesenian khas Jembrana yang terbuat dari bambu berukuran besar. Awalnya dimainkan sebagai pengisi waktu pada saat petani menghalau burung di sawah, dan pada kesempatan lain difungsikan sebagai sarana mengumpulkan warga masyarakat untuk melakukan kegiatan gotong royong. Setelah Jegog dijadikan ensambel oleh Kyang Gliduh sekitar tahun 1926, gamelan Jegog dimainkan dalam bentuk  instrumental (versi Genjor) 1930-1945, kemudian mengiringi pencak silat (versi Suprig) 1945-1965, dan selanjutnya kesenian ini dipergunakan untuk mengiringi tari-tarian (versi Jayus) 1980- an sampai tahun 1990-an.


Pada fase berikutnya, Jegog berkembang dalam bentuk kreasi dan meng-internasional dengan motor penggeraknya almarhum I Ketut Suwentra, SST atau yang lebih dikenal dengan nama Pekak Jegog, di bawah naungan Yayasan Suar Agung. Perkembangan terakhir Jegog dikolaborasikan dengan gamelan Gong Kebyar serta difungsikan sebagai iringan Lagu Pop Daerah Bali.


Sejauh ini kesenian Jegog masih  minim refrensi sehingga diperlukan banyak pembahasan dan ruang diskusi untuk menyempurnakan literasi. Workshop di hari kedua festival, menghadirkan narasumber Prof. Dr Gede Arya Sugiartha, S.Skar, yang merupakan Rektor ISI Denpasar dan juga dari kalangan seniman. Sedangkan pada malam harinya digelar pementasan Jegog inovatif, kontemporer dan eksperimental. Puncaknya, Festival Jegog  Jembrana 2019 akan ditutup pementasan jJegog Mabarung Massal, dengan joged dan pangibing massal.

(bx/tor/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia