Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Kakawin Niti Sastra Tidak Hanya Ajaran Kepemimpinan

05 Desember 2019, 11: 00: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kakawin Niti Sastra Tidak Hanya Ajaran Kepemimpinan

DISKUSI: I Gede Agus Darma Putra (kanan) menjadi narasumber di Diskusi Kamisan yang dilaksanakan oleh Pasca Sarjana IHDN Denpasar, pekan kemarin. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Jika mendengar kata Niti Sastra, seseorang akan teringat secara umum tentang Rsi Canakya. Seorang Rsi yang berpengaruh pada masa dahulu, yang berhasil menetapkan Candragupta sebagai raja. Ternyata, Niti Sastra di Indonesia ini digubah juga. Lalu, apa saja isi dari kakawin yang memakai Bahasa Jawa Kuna ini?

Tokoh sastra muda I Gede Agus Darma Putra, 28, mengatakan Niti Sastra berasal dari kata 'Niti' dan 'Sastra'. Niti berarti kebijaksanaan, sedangkan Sastra mempunyai makna ajaran pengetahuan. “Pegetahuan ini berasal dari Ida Sang Hyang Aji Saraswati,” ucap I Gde Agus Darma Putra saat diskusi Niti Sastra yang dilaksanakan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, pekan kemarin.

I Gede Agus Darma Putra di hadapan peserta diskusi yang dilaksanakan Program Magister S-2 Bahasa Bali Pasca Sarjana IHDN ini, memaparkan bahwa kakawin Niti Sastra yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna tersebut mengambil jiwa atau inti sari dari Niti Sastra karya Rsi Canakya di India.


Mengenai penggubahnya, dirinya tidak mengetahui pasti. “Secara kolektif dikatakan bahwa itu Niti Sastra digubah oleh Dang Hyang Nirartha, tetapi dtidak berani juga menegaskan bahwa beliau benar-benar yang menggubahnya, sebab belum jelas kebenarannya,” ujarnya menanggapi pertanyaan peserta diskusi.

Kakawin Niti Sastra dalam isinya menurut I Gede Agus Darma Putra menggunakan analogi. Analogi ini menurut pria lulusan S-2 Bahasa Bali ini, mirip dengan yang digunakan pada Arthasastra. “Seperti salah satu isinya memuat, jika ingin belajar, maka harus pelan-pelan, seperti kumbang menghisap madu,” ujarnya.

Dari beberapa pendapat para ahli memang meragukan bahwa yang menyusun Kitab Arthasastra adalah Rsi Canakya. Beliau juga mengakui bahwa penyusunan karyanya berdasarkan atas kitab-kitab serupa pada masa lalu. Penyusunan kitab Arthasastra memang sangat banyak ditemukan dan selalu bertuliskan tentang Canakya di dalamnya.

Rupanya ini ada kaitannya tentang ramalan bahwa Canakya adalah penghancur Raja Nanda yang ada dalam kitab-kitab Purana, yaitu Visnu Purana dan Bhagavata Purana. Dari ramalan tersebut dapat disimpulkan bahwa memang benar Canakya yang menghancurkan Raja Nanda dan menempatkan Candragupta sebagai Raja. Canakya juga disebut dengan Wisnugupta yang berarti seorang menteri negara, ahli politik, tokoh agamawan (Brahmana) adalah orang yang dianggap sebagai penulis karya yang agung.


Kakawin Niti Sastra, seperti yang diketahui secara umum merupakan sebuah kitab yang berisikan ajaran kepemimpinan. Ajaran kepemimpinan memang menonjol diutarakan pada orang secara umum selama ini kepada orang-orang. I Gede Agus Darma Putra, menyatakan itu tidak salah, namun Kakawin Niti Sastra sebenarnya juga banyak berisikan tentang etik, etika, dan mistik. Tidak seperti anggapan kebanyakan orang bahwa  Niti Sastra adalah ajaran kepemimpinan.


I Gede Agus Darma Putra pun menyinggung tentang Panca Yama dan Nyama Bratha yang ada pada Niti Sastra. Kedua pelajaran ini termasuk dalam ajaran etika dan pengembangan diri, selain ajaran kepemimpinan di Niti Sastra. Secara umum, lanjutnya, orang tentu akrab dengan Panca Yama dan Nyama Bratha.


Niti Sastra menjelaskan kedua ajaran itu dengan memakai analogi, agar pembacanya lebih mudah meresapi ajaran Niti Sastra dan bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Unsur mistis yang ada pada Niti Sastra dijelaskan Darma Putra, membuat peserta diskusi  antusias.


Peserta diskusi rupanya banyak yang belum tahu tentang hal ini, apalagi yang dijelaskan  Darma Putra yang berasal dari Bangli ini memang menarik. “Ada cara untuk melepaskan belenggu dari tubuh, dimana atma bisa melesat keluar. Ini ilmu mati karena atma melesat dari stula sarira (badan kasar). Ini kata sastra ya, bukan saya,” ujarnya, yang sontak menarik perhatian para peserta.


Darma Putra pun menjelaskan tentang isi Niti Sastra yang berkaitan dengan ciri orang meninggal. “Mekeledutan (gerakan) di tulang punggung dianggap sebagai ciri-ciri seorang akan meninggal satu bulan kemudian setelah itu terjadi. Itu kata sastra,  kebenarannya saya tidak tahu. Saya hanya menjelaskan apa yang saya pelajari,” tuturnya.


Dikatakan Darma Putra, sebagai kakawin tentang ajaran kepemimpinan, Niti Sastra yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna ini dibaca juga oleh pemimpin di Bali. “Kalau tidak salah, raja dari Puri Denpasar ada catatannya, beliau membaca Niti Sastra,” ucapnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia