Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ngangkid dan Mapetik, Bersihkan Diri dari Kekotoran Masa Lalu

06 Desember 2019, 12: 20: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngangkid dan Mapetik, Bersihkan Diri dari Kekotoran Masa Lalu

URIP : Peserta yang ikut upacara masing-masing memiliki Sanggah Urip (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Yayasan Gabungan Anak Seni Serba Bisa (Gases) bekerja sama dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Denpasar Selatan, gelar   upacara Ngangkid dan Mapetik di segara Padang Galak, Sanur,Rabu (4/12) kemarin. Apa sejatinya makna ritual ini?

Ngangkid dan Mapetik, Bersihkan Diri dari Kekotoran Masa Lalu

WAYANG : Wayang dimainkan dalang Komang Gases saat prosesi upacara Ngangkid dan Mapetik di Pantai Padang Galak, Sanur. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Cuaca panas terik tidak menghalangi semangat ratusan peserta yang mengikuti rangkaian upacara Ngangkid dan Mapetik  yang dilaksanakan tanpa pungutan biaya alias gratis. Tenda yang disediakan pun penuh.


Kegiatan yang berlangsung dari pukul 15.00 Wita ini, diikuti  peserta tidak hanya berasal dari Denpasar, namun juga dari beberapa daerah seperti Badung, Karangasem, dan Gianyar. Tidak sedikit juga peserta yang mengikuti upacara adalah anak-anak.

Ngangkid dan Mapetik, Bersihkan Diri dari Kekotoran Masa Lalu

KETUA : Komang Indra Wirawan yang akrab dipanggil Komang Gases, Ketua Panitia Upacara Ngangkid dan Mapetik. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Ketua Panitia, Komang Indra Wirawan menjelaskan, upacara Ngangkid dan Mapetik tergolong Panca Yadnya, yang  tujuannya  adalah peningkatan status dari manusia itu sendiri. Peningkatan status ini, lanjutnya, berkaitan karena ketidaktahuan manusia akan dirinya pada kehidupan lampau. Manusia dilahirkan melalui proses ruang dan waktu.

"Kita tidak tahu apa di kehiduan lampau kita sudah terbebas dari utang piutang. Utang dari kelahiran, utang kepada pitara dan lainnya. Sebab, hal itulah dilaksanakan Upacara Ngangkid dan Mapetik untuk meningkatkan status dari jelema menjadi manusia, dan diharapkan nantinya menjadi manusia yang utama,” papar pria yang akrab dipanggil Komang Gases ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kehidupan lampau manusia,  diakui Komang Gases, tentu memiliki kekotoran yang tidak diketahui oleh penjelmaannya pada masa sekarang. "Utang piutang itu pun termasuk kekotoran, sehingga perlu dibayar lunas melalui upacara ini," terangnya. Proses upacara akan dilakukan dengan pemanggilan saudara secara niskala. “Kita panggil mereka, berikan sebuah upacara dan penghargaan agar mereka berkenan hadir di upacara ini.

Setelah datang, maka diberikan suguhan dan kemudian dibersihkan saudara-saudara kita tersebut melalui upacara ini oleh ketiga sulinggih yang muput (memimpin) upacara,” tambahnya.
Tiga sulinggih yang muput Upacara Ngangkid dan Mapetik kali ini terdiri atas Ida Pandita Mpu Jya Putra Pemuteran dari Griya Penataran Renon, Ida Rsi Bhagawan Sumerthi Kusuma Wijaya Sebali dari Griya Kusuma Sebali, Tembau, Penatih, dan Ida Pandita Sidi Yadnya dari Griya Dukuh Panjer.


Peserta yang mengikuti Upacara Ngangkid dan Mapetik sebanyak 225 orang. Peserta hanya diminta membawa banten pajati dan tirta dari sanggah merajan keluarga.
Salah satu peserta, I Gusti Ayu Raka yang berasal dari Mengwi,  Badung, mengaku pertama kali mengikuti upacara seperti ini.  “Saya bersama kakak saya ikut upacara ini. Ini pun saran dari Jro Mangku Batu Lumbang sehabis saya berobat ke beliau,” ujarnya kepada koran ini di sela-sela prosesi upacara.

Ngangkid dan Mapetik, Bersihkan Diri dari Kekotoran Masa Lalu

POTONG : Rambut peserta dipotong oleh Sulinggih di bagian depan, samping kanan, kiri, belakang, dan atas. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Prosesi Upacara Ngangkid dan Mapetik ini juga turut menghadirkan pawayangan yang didalangi oleh Komang Gases sendiri. Beriringan dengan prosesi upacara, banten-banten dijalankan oleh panitia. Proses upacara kemudian berlanjut dengan meminta semua peserta mengambil daun dadap yang akan digunakan untuk mengambil pasir di pantai.


Berbaris dengan rapi, panitia membawa banten penebusan diikuti oleh peserta membawa Sanggah Urip dengan sebuah perahu yang dibuat dari pelepah pohon kelapa kering. Berjejer menghadap ke pantai,kemudian peserta diminta untuk mengambil pasir  menggunakan daun dadap dan meletakkannya kembali ke Sanggah Urip.


Usai menempatkan daun dadap dengan pasir tersebut, dilanjutkan dengan malarung perahu dari pelepah pohon kelapa tersebut. Beberapa warga tampak antusias saat malarung perahu itu, sambil menyiratkan air laut ke banten bentuk perahu dan Sanggah Urip.


Prosesi dilanjutkan kembali dengan peserta berbaris menuju tiga sulinggih yang muput upacara. Di sini, peserta kemudian dipotong rambutnya sedikit di bagian atas, depan, samping kanan, kiri dan belakang. Pemotongan rambut ini adalah rangkaian dari Upacara Mapetik yang dilakukan setelah proses Ngangkid di segara. Selesai memotong rambut, peserta diarahkan untuk menerima tirta palukatan dari dalang.


Komang Gases menjelaskan bahwa upacara ini tidak pernah memungut biaya. Kalaupun ada yang ingin berdana punia seribu dua ribu rupiah pun akan diterima. “Tidak berdana punia pun, tidak masalah,” ucapnya.


Upacara Ngangkid dan Mapetik dilaksankan oleh Yayasan Gases secara berkala. Tidak hanya upacara ini, juga menggelar upacara Masangih massal, Nyekah dan Mamukur hingga Sapuh Leger pada Tumpek Wayang. “Semua itu biayanya ditanggung oleh yayasan, kalaupun ada yang berdana punia untuk kegiatan tersebut dengan senang hati kami terima,” pungkas Komang Gases.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia