Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Hujan Tak Kunjung Turun, BMKG Jelaskan Penyebabnya

06 Desember 2019, 22: 31: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hujan Tak Kunjung Turun, BMKG Jelaskan Penyebabnya

ILUSTRASI PANAS: Hujan di Denpasar tak kunjung turun dan cuaca juga panas. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Cuaca panas yang melanda Kota Denpasar belakangan ini membuat sebagian warga memilih berdiam diri dirumah daripada beraktivitas diluar. Bahkan suhu pada siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius.

Pengamat Geofisika Stasiun Geofisika Sanglah, I Putu Dedy Pratama, saat dihubungi, Jumat (6/12)  mengatakan tak hanya di Denpasar saja, secara umum masuknya musim penghujan di wilayah Bali memang tidak selalu sama. Hal ini karena kondisi geografis tiap wilayah yang berbeda-beda.

Wilayah Bali bagian tengah seperti Tabanan, Badung dan Gianyar bagian utara akan lebih dahulu memasuki musim penghujan, diikuti oleh wilayah lainnya.

"Sedangkan yang terakhir memasuki musim penghujan adalah Nusa Penida dan Buleleng bagian barat," ujarnya

Ia mengatakan musim hujan secara umum di Indonesia dan khususnya wilayah Bali memang mengalami keterlambatan. Keterlambatan ini disebabkan Angin Timuran masih dominan, di mana massa udara kering dari benua Australia masih mempengaruhi wilayah Bali.

"Selain itu karena adanya Fenomena DM (Dipole Mode) positif yaitu anomali suhu muka laut Samudera Hindia tropis bagian barat lebih besar daripada di bagian timurnya," katanya.

Dimana temperatur air laut di pantai timur Afrika dan Samudera Hindia bagian barat mengalami peningkatan dibandingkan di sebelah barat Sumatera, sehingga aliran massa udara basah bergeser menuju pantai timur Afrika dan Samudera Hindia bagian barat.

Disamping itu masih adanya Siklon Tropis “KAMMURI” di wilayah Belahan Bumi Utara (sebelah Timur Piliphina) yang menyebabkan konsentrasi massa udara basah yang seharusnya menuju ke wilayah Indonesia, sebagian bergeser menuju ke daerah bertekanan rendah tersebut.

Ia menambahkan Kondisi Suhu Tinggi yang terjadi di wilayah Bali juga disebabkan oleh posisi matahari yang masih berada di wilayah Belahan Bumi Selatan di mana sinar matahari yang diterima menjadi lebih banyak daripada di Belahan Bumi Utara.

"Sesuai dengan sifat material di mana daratan lebih cepat menyerap dan melepas panas, maka di siang hari penyinaran matahari yang diserap daratan menjadi lebih tinggi," katanya.

Sedangkan sifat lautan yang lambat menyerap panas, maka pada malam hari lautan akan melepaskan panas yang diterimanya ke atmosfer.

"Itulah mengapa pada malam hari, gerah panas juga tetap dirasakan," katanya.

(bx/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia