Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Kolom

Dicari, Bahasa Bali Alus Toilet

Oleh: Made Adnyana Ole

07 Desember 2019, 18: 46: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dicari, Bahasa Bali Alus Toilet

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

ADA ciri khas lucu yang biasa ditemukan di toilet umum, semacam di terminal, pasar tradisional, atau objek wisata yang kadang ramai dan lebih banyak sunyinya. Pertama, ditemukan toilet dengan pintu terkunci. Sialnya, tak ada yang benar-benar tahu siapa yang membawa kuncinya. Satpam, penjaga malam, pedagang sebelah, atau petugas kebersihan.

Kedua, ditemukan toilet dengan pintu terbuka. Tapi saat masuk mau cir atau cor, ternyata pintu tak bisa dikunci dari dalam. Engsel rusak atau lubang kuncinya jebol. Maka, sibuklah kita jika buang air, satu tangan pegang pintu, satu tangan lagi pegang “pistol air” untuk bisa cir atau cor dengan nyaman. Itu kalau jarak lubang kloset dengan pintu berdekatan. Jika berjauhan, kita bakalan buang hajat dengan harap-harap cemas. Betapa tak nyaman. Ketiga, ada toilet bersih dan kering. Tapi baunya sungguh bikin hidung mampet. Ternyata airnya tak mengalir. Celakanya, meski tak ada air, orang-orang yang kebelet akan tetap buang air kuning dari “pistol air”-nya. Ciiiiir, eh, cooooor…! Siapa salah?

Di sebuah objek wisata yang dibangun dengan wacana besar namun hingga kini tak kunjung didatangi tamu (tak pentinglah disebut nama objeknya), terdapat lebih dari 15 toilet, tapi sebagian besar tak terpelihara dengan baik. Ada yang rusak sebelum sempat digunakan. Konon sejumlah toilet itu dibangun dengan dana CSR sejumlah perusahaan. Yang mengeluh justru penjaga objek itu. “Nyumbangnya kok toilet banyak-banyak. Tak kreatif. Dikira mudah pelihara toilet banyak-banyak?!”  Begitu sungut si petugas.

Mungkin karena toilet umum punya ciri khas lucu, maka menjamurlah toilet-toilet pribadi yang dibangun secara pribadi, dengan pemeliharaan yang lebih spesial, serius, di sekitar kawasan objek wisata. Cobalah perhatikan di sepanjang jalan menuju objek wisata Bedugul dari arah Denpasar. Di kiri-kanan jalan akan tampak tulisan besar-besar dengan huruf kapital. TOILET. Lengkap dengan tanda panah dan kadang disempurnakan dengan harga sewa, seakan-akan memberitahu kita, “Kencinglah di sini sebelum Anda masuk objek wisata!”

Ngomong-ngomong lebih jauh soal toilet, pikiran saya kadang terganggu dengan pelang TOILET yang berderet-deret di sepanjang jalan menuju Pura, apalagi Pura besar yang saat odalan ramainya minta ampun. Misalnya jalan menuju Pura Besakih. Di kiri-kanan jalan, setelah turun dari bus di tempat parkir, saya merasa dikepung dengan pelang toilet, yang berdesakan dengan pelang daftar menu di rumah makan. Ada pelang toilet berdampingan dengan pelang bakso, sosis dan pulsa.

Ketika mau masuk tempat suci, pikiran saya terasa dikotori materi-materi yang ada dalam kloset. Entah kloset duduk, klosek jongkok, kloset berdiri, atau kloset tidur. Saat lihat kata toilet, apalagi berjejer-jejer dan ditulis besar-besar, dan ditempatkan pada ruang yang mencolok mata, maka segala hal kotor jadi berpusing-pusing di kepala. Sebab, sebersih-bersihkan toilet, ia tetaplah tempat untuk membuang sekaligus mengumpulkan kotoran. Begitulah kekuatan kata dan istilah, ia mungkin hanya berfungsi sebagai petunjuk, tapi kesan yang ditimbulkan oleh satu kata bisa ke mana-mana, bahkan jauh ke ceruk pikiran paling dalam.

Mungkin karena itulah dalam Bahasa Bali dikenal kata halus, setengah halus dan kata kasar. Jika yang kasar mengganggu pikiranmu, maka gunakan bahasa yang halus. Siapa tahu yang terkesan kotor di kepalamu bisa langsung jadi halus. Jika pelacur telanjur mengotori isi pikiran, maka sebutlah WTS, wanita tuna susila. Jika WTS mulai terasa kotor sebutkan PSK alias Pekerja Seks Komersial. Meski bendanya, ya, tetap saja sama, yakni pelacur.

Begitu juga dengan toilet. Awalnya, waktu saya SD, sekitar tahun 1970-an, saya mengenal kata kakus. Kata itulah yang diperkenalkan oleh guru saya untuk menyebut dua bilik kecil yang berada di sudut sekolah. Bilik semacam itu, yang kemudian saya tahu sebagai tempat kencing dan buang air besar, hanya saya temukan di sekolah. Di kampung saya belum ada bangunan seperti itu. Tahulah Anda di mana kami biasanya buang air pada pagi hari atau malam-malam, baik buang air yang kecil maupun air paling besar.

Jika ingat tempat cir atau cor, ingatlah saya dengan kakus. Di kepala saya kakus identik dengan kotoran manusia. Maka kata kakus adalah kata kotor yang kadang tak enak untuk saya ucapkan di tempat yang dianggap suci. Bahkan ketika bicara dalam bahasa Bali alus dengan pemangku atau orang suci lainnya, kata kakus tak berani saya keluarkan karena mengganggap kakus tak masuk dalam rumpun bahasa Bali alus. Setelah kata kakus, muncul kata WC untuk menyebut tempat buang kotoran. Mula-mula WC terasa lebih halus dari kakus, namun lama-lama terasa kotor juga. Lalu, entah mulai kapan, muncul kata toilet untuk menyebut tempat yang sama.

Saya tak perlu membuka KBBI untuk tahu arti kata toilet yang sebenarnya. Namun kasta toilet tentu lebih tinggi dari WC apalagi kakus. Buktinya, kata toilet selalu terasa lebih berwibawa saat muncul di pintu kamar kecil hotel mewah, atau di areal bandara internasional. Jika menyebut toilet kesannya lebih bersih daripada menyebut WC, apalagi kakus. Kesan itu muncul karena ketika ingat toilet, bayangan kita melayang ke ruang-ruang kecil yang sama bersihnya dengan kamar tidur di hotel mewah. Seandainya ada petunjuk tempat buang air di bandara dengan kata KAKUS, mungkin saya urung masuk ke situ, karena bayangan saya akan tiba pada kakus di SD saya dulu yang pesing, bahkan bau pesing masuk hingga ke ruang kelas.

Dari segi bahasa, kasta toilet memang terasa paling tinggi dibanding WC atau kakus, namun ketika pelang kata toilet bertebaran di kira-kanan jalan masuk ke Pura, saya jadi merasa tak enak juga. Ini tak ada urusan apakah saya merasa suci atau sok suci. Ini urusan kesan di kepala. Ketika kita bertemu bahasa alus saat berada di tempat suci dan bercakap dengan orang-orang suci, tiba-tiba kata toilet bertebaran di banyak tempat. Alangkah tak sebanding rasanya.

Untuk itulah belakangan saya sibuk bertanya-tanya kepada teman pakar bahasa Bali. Apakah toilet punya arti dalam bahasa Bali alus? Belum ada, kata seorang teman dari Unud. Bahkan kata toilet sendiri belum diserap ke dalam bahasa Bali. Waduh. Seharusnya, di tengah gencarnya penggunaan Bahasa Bali, ada upaya untuk mengganti istilah-istilah asing yang terasa mengganjal dalam pikiran semacam toilet itu. Meski misalnya bendanya tetap sebagai tempat kencing, setidaknya kata Bali alus, akan terasa sebanding dengan bahasa alus lain yang digunakan di areal Pura.

Namun, teman dari Unud itu cepat-cepat menyambung ucapannya. Katanya, di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, toilet diganti dengan istilah “Genah Mewarih”, yang artinya, ya, tempat kencing juga. Wah, boleh juga. Meski terkesan dipaksakan, upaya untuk menghindar dari serbuan kata toilet patut diberi penghargaan. Namun, jika masih berkenan, sebaiknya dicari kata baru, yang terkesan halus, yang mudah diingat, yang mengingatkan kita pada hal-hal yang bersih dan suci, meski tempat yang dimaksud, ya, sama saja, tempat buang kotoran. Siapa tahu dengan penggunaan bahasa Bali alus, toilet akan lebih rajin dibersihkan, bahkan mungkin diperlakukan sama dengan tempat-tempat lain yang dianggap suci. Ya, siapa tahu? Namanya juga usaha.  (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia