Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Kolom

Pameran "Green Care" Melawan Kebiasan "Pameran" di Kampung

Oleh: Santana Ja Dewa*

07 Desember 2019, 18: 52: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pameran "Green Care" Melawan Kebiasan "Pameran" di Kampung

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

PERUPA Jembrana mendedikasikan dirinya melakukan pemeran bersama. Empat perupa paling ujung Bali ini merespons alam sebagai sumber inspirasi. I Made Suta Kesuma, I Ketut Susena, I Made Duatmika, dan I Made Agus Wesnawa, satu persepsi dalam keseharian berinteraksi secara intim dengan alam, manusia, dan segala isinya.

Alam dan manusia selalu berinteraksi satu sama lainnya. Dari sana kedekatan, keakraban, saling percaya, dan pada medium lebih besar hidup dengan kekerabatan yang kental. Sikap keharmonisasi yang terbentuk relasi hidup sesuai dengan filsafat manusia Bali adalah Tri Hita Karana. Keempat perupa menggelar pameran yang bertema Green Care di Kebun Raya Jagatnatha di Kota Negara, Jembrana.

Fenomenal dan kontekstual di Bali, mengingat terbiasa perupa melakukan pemeran di Denpasar, Gianyar ataupun di Badung. Mereka berani melawan arus berpemeran ria di belahan Bali paling barat. Pameran yang memajang sekitar 20-an karya ini, diikuti perupa-perupa kelahiran Jembrana, yang telah puluhan tahun meninggalkan kotanya untuk menempuh pendidikan ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar dengan angkatan yang berbeda-beda.

Memilih kampung sendiri sebagai tempat dan lokasi pameran, lebih lagi Jembrana bukan daerah seni rupa, mengingat ketersediaan fasilitas terutama gallery belum ada, tidak seperti di Gianyar dan Denpasar. I Made Suta Kesuma berpameran di kampung sendiri bagian dari panggilan hati dan nurani, walaupun sering melakukan pemeran di berbagai kota bahkan luar negeri. Hal ini melawan kebiasaan yang dilakukan perupa, khususnya yang berasal dari Jembrana. Dia menilai pameran ini merupakan bentuk penunjukan diri kepada masyarakat Jembrana atas kehadiran perupa. Merespons alam Jembrana, baik hutan, sungai dan seisinya hutan itu sendiri. Terusiknya perupa mengenai alam yang terkontanimasi dan exploitasi, membuat habitat hewan yang berdiam di dalamnya merasa terganggung. Jadi kesimbangan harus dilakukan.

Sebagai perupa, Suta Kesuma menunjukan kepada masyarakat Jembrana, eksistensi perupa masih tajam. Dan juga memberikan wahana pengetahuna baru mengenai seni rupa. Memang tatkala seni rupa hadir di tengah masyarakat, pergunjingan pasti terjadi. Tapi tidak masalah ini adalah bentuk keseriusan perupa menghadirkan seni kepada masyarakat. Selain itu, juga menunjukan diri bahwa perupa Jembrana masih punya insting berkarya untuk daerahnya.

Melupakan sejenak hingar bingar seni rupa di berbagai kota bahkan luar negeri yang pernah dijadikan objek karya. Saat memutuskan menjadikan Jembrana sebagai venue pameran terjadi perselisihan antar perupa, tetapi ini bentuk komitmen perupa atas apa yang terjadi daerahnya sendiri. Sementara dukungan Pemerintah Daerah Jembrana sangat merespons baik kehadiran perupa. Menarik memang ketika direspons dan diparesiasi seni rupa, disanalah kebahagian terasa sampai tembus dalam hati. Masalah ruang pemeran keempat perupa memberanikan diri memutuskan venue tersebut dinamai gallery,. walaupun tidak seperti itu yang dinginkan, hal ini sebagai bentuk harapan kepada Pemerintah Jembrana menyediakan ruang atau artspace bagi seniman.

Otokritik Kerusakan Alam

I Made Suta Kesuma mencoba mempetakan dua musim, yang terjadi ironisnya musim penghujan harusnya datang bulan November, dan apa yang terjadi panas berkepanjangan. Jadi lagu milik band papan atas internasional Gun N Rose dengan title lagunya November Rain diplesetkan Kesuma jadi November No Rain. Entah mengapa hujan takut menampakan dirinya, ataukah karena ulah manusia sendiri. Dia enggak begitu memusingkan hal itu, karena enggak elok menyalahkan. Deforestasi itu terjadi, karena meletakan hutan sebagai wilayah produksi, dan itu sebagai alasan untuk mengexploitasi secara terus-menerus.

Hutan sendiri menurut padangan manusia Bali adalah tempat angker yang biasa disebut tenget. Sementara sudah lama terdegradasi oleh keinginan manusia dalam memenuhi nafsu bertumbuhnya.

Rumah bagi burung endemik Bali, Burung Jalak terancam tertuang dalam lukisan karya I Made Duatmika. Harusnya membuat kita sebagai manusia Bali menjaga satwa tersebut. Kenyataan di lapangan, menurut data Birdlife International, tinggal tersisa 50 ekor di alam bebas. Mencengangkan. burung Jalak Bali dalam lukisan Duatmika bertengger di ranting, tetapi manusia mengintai keberadannya. Mata manusia mengancam keberada burung tersebut. Duatmika mengambarkan lukisan burung Jalak bersama rimbunnya pohon, tetapi nyatanya kehidupanya para penghuni di dalam hutan terancam. Rumah-rumah satwa berdiami hutan dintai mata manusia yang serakah. (*)

*) Penulis adalah Permerhati Seni Rupa

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia