Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Deteksi Gempa, BMKG Pasang Tujuh Intensity Meter di Tabanan

08 Desember 2019, 19: 07: 21 WIB | editor : Nyoman Suarna

Deteksi Gempa, BMKG Pasang Tujuh Intensity Meter di Tabanan

GEMPA : Alat Intensity Meter dipasang disejumlah kantor dan sekolah di Tabanan. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Untuk mendeteksi guncangan pada suatu peralatan tertentu akibat gempa, BMKG memasang puluhan alat untuk mengestimasi tingkat getaran gempa bumi di Bali. Beberapa di antaranya dipasang di Kabupaten Tabanan lantaran Tabanan merupakan salah satu daerah yang memiliki nilai indeks resiko gempa bumi tertinggi di Bali berdasarkan indeks informasi dan resiko bencana Indonesia yang dikeluarkan BNPB pada tahun 2013.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Tabanan, I Putu Trisna Widiatmika menjelaskan, BMKG Pusat dan BMKG Provinsi Bali memasang tujuh alat yang disebut Intensity Meter di wilayah Kabupaten Tabanan. Pemasangan telah dilakukan mulai tanggal 29 Nopember 2019 dan tuntas pada minggu ini. "Fungsinya adalah untuk mendeteksi guncangan pada suatu peralatan tertentu akibat gempa, bukan untuk mengukur kekuatan gempa bumi," tegasnya Minggu (8/12).

Selain itu, Intensity Meter juga akan mengirimkan data hasil pengamatan ke BMKG melalui internet secara otomatis. Adapun ketujuh lokasi pemasangan alat tersebut adalah di BPBD Tabanan, SMPN 2 Selemadeg Timur, Kantor Perbekel Desa Gadungan, Kantor Camat Marga, Kantor Desa Tua, Kantor Desa Bangli dan Kantor Perbekel Desa Lumbung.

Menurutnya, lokasi pemasangan ditentukan oleh BMKG sesuai dengan pertimbangan sebaran lokasi rentang satu alat dengan lainnya kurang lebih 50 kilometer. Dalam rentang tersebut  dipilih instansi pemerintahan atau sekolah sebagai lokasi agar lebih mudah dipantau dan proses pemeliharaan. "Saat ini alatnya masih dalam pengawasan BMKG. Jadi apabila ada kerusakan, akan dilaporkan ke BMKG," imbuhnya.

Nantinya, data hasil pengamatan tingkat guncangan dari Intensity Meter kemudian dianalisa untuk dijadikan salah satu parameter memonitor potensi tingkat dampak kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi.

Cara kerja alat tersebut adalah, secara teknis alat ini mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI, dari I MMI hingga XII MMI. Digitizer pada intensitas meter akan memuncul skala intensitas, I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat sehingga akan muncul warna putih.

Intensitas meter berwarna hijau atau III-V MMI dengan getaran gempa dirasakan oleh orang banyak, tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar. Kemudian, jika warna kuning muncul di alat intensitas meter atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut di dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.
Selanjutnya, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer, di intensitas meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah, sebagian plester dinding lepas serta hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.
Jika di alat digitizer pada intensity meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung hingga bangunan hancur.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia