Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Penyanyi Legendaris Pop Bali, Ketut Bimbo, Berjibaku Melawan Diabetes

08 Desember 2019, 20: 19: 18 WIB | editor : Nyoman Suarna

Penyanyi Legendaris Pop Bali, Ketut Bimbo, Berjibaku Melawan Diabetes

KETUT BIMBO : Musisi Pop Bali, Ketut Bimbo bermain electone di rumahnya. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

“Yen tawang ne juang beli pianak adi, ngudiang buduh beli ngemaduang meme, ne mekejang unduke ane memaksa, sedek nginep, ade hansip teke nangkep”. Demikian sepenggal lirik lagu ciptaan Ketut Bimbo berjudul ‘Ngabut Keladi’.

GENERASI yang lahir era tahun 1950-an hingga 1980-an sepertinya tidak asing dengan nama sosok Ketut Bimbo. Publik masih ingat jika Ketut Bimbo merupakan musisi sekaligus penyanyi pop Bali yang produktif berkarya mulai tahun 1970-an hingga medio 2000-an. Lagu ciptaannya yang garing dan penuh dengan kritik sosial, membuat namanya sungguh dikenal di kalangan penikmat lagu Pop Bali.

Menariknya, kendati sudah lawas, lirik lagu ciptaan Bimbo hingga kini masih membekas di benak masyarakat. Lagu ciptaan Bimbo juga masih eksis diputar di radio yang menyiarkan tayangan musik Pop Bali.

Sayangnya, pria yang kesehariannya bekerja sebagai penyiar Radio, kini tak bisa berbuat banyak. Sejak digerorgoti penyakit gula atau diabetes, Bimbo terpaksa menepi dari dunia hiburan dan penyiar radio. Penglihatannya mulai terganggu, kadar gula darahnya naik turun. Pun juga dengan kolesterolnya yang tinggi. Tak pelak, publik banyak yang merindukan suara emasnya untuk bernyanyi.

Koran ini pun berusaha melacak tempat tinggal Ketut Bimbo untuk membangkitkan kembali ingatan akan kiprahnya di dunia tarik suara. Rupanya, pria kelahiran tahun 1954 ini tinggal di sebuah rumah sederhananya, di Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng. Rumahnya persis berada di depan Pura Puseh Desa Pakraman Banyuatis.

Ditemui di rumahnya, Minggu (8/12) siang, Bimbo dengan ramah menyapa koran ini. Ia pun berkisah tentang awal karirnya menjadi seorang penyanyi pop Bali sejak tahun 1976. Kala itu ia mengawali karirnya menjadi seorang penyiar di Radio Massachuset  wilayah A. Yani Singaraja.

“Dari sana saya sering main gitar bolong. Sambil ciptakan lagu. Tapi berbahasa campuran, Indonesia dan Bali. Sampai pindah ke Lombok jadi penyiar, kemudian pindah lagi ke Radio Besakih di Karangasem,” tutur pria yang memasuki umur 67 tahun ini.

Dikatakan Bimbo, semua lagunya berdasarkan kisah nyata. Seperti fenomena orang berjudi tajen, mabuk miras. Hingga pada tahun 1980, ia masuk dapur rekaman Aneka Record di Tabanan. Album perdananya berjudul “Buduh”.

Dikatakan Bimbo, rekaman perdananya ia rampungkan selama 7 jam dengan jumlah lagu sebanyak 12 buah. “Rekamannya sederhana. Hanya pakai gitar bolong, harmonika. Belum ada metronum. Tapi kasetnya laris manis di pasaran,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Selain di Aneka Record, Bimbo juga pernah melakukan rekaman di Bali Stereo dan Maharani Record.  Kendati albumnya booming dan diterima masyarakat, namun Bimbo mengaku tak begitu menikmati hasil penjualan kasetnya.

Ia menyebut, bahwa kewenangan itu berada di ranahnya produser. “Memang saat itu saya belum bisa memanfaatkan situasi. Ya paling tinggi itu dibayar Rp 3 jutaan. Itu tahun 1980-an. Diprediksi bisa laku 20 ribu copy album volume pertama,” tuturnya.

Saking boomingnya, bahkan ada yang membeli kaset tanpa cover. Pasalnya, pihak rekaman kewalahan melayani tingginya permintaan kaset dari masyarakat. Sayangnya, saat itu Bimbo mengaku tak memiliki dokumentasi, sehingga banyak momennya yang terlewatkan.

Bimbo menuturkan, setiap album selalu ada lagu hits yang hingga kini eksis dinikmati penggemar Pop Bali. Saking banyaknya, ayah empat orang anak ini bahkan lupa nama album dan judul lagunya. Hanya beberapa lagu ciptaannya yang dia bawakan sendiri berhasil diingatnya,

Seperti Lagu Buduh, Peteng-peteng Mekaca Selem, Penyiar, Mebalih Wayang, Ngabut Keladi hingga lagu DPR. “Semua lagu ada zamannya. Saya sudah lupa. Jumlah lagunya sampai 200-an,” imbuhnya sembari menghisap kretek.

Kendati sudah tak eksis lagi menyanyi, namun di tengah perjuangan melawan sakit diabetes, Bimbo berusaha tetap menafkahi keluarga menjadi penyanyi keliling. Bahkan sampai ke luar Buleleng seperti Jembrana hingga Bangli. Ia sering diundang oleh orang yang memiliki hajatan, seperti upacara perkawinan, tiga bulanan dan upacara lainnya.

Lalu apakah ada tawaran rekaman dari studio rekaman? Ia menceritakan, saat ini tidak ada lagi produser yang pernah menawarinya untuk rekaman. “Sekarang tidak ada produser yang menawarkan rekaman. Beda dengan dulu, kalau produser bisa membiayai kita rekaman, karena ada kaset yang bisa dijual. Kalau sekarang kan lagunya mudah dibajak. Di internet juga sudah gampang di-download,” ujar pria yang pernah menjadi penyiar di lima radio ini.

Pada  usia senjanya, Bimbo hanya berharap agar lagu pop Bali tetap eksis menjadi tuan rumah di Bali. Terlebih, lagu pop Bali menjadi cerminan budaya Bali. Bimbo pun mengapresiasi perkembangan musik pop Bali yang kian dinamis.

Hal itu terlihat dari lirik lagu Bali dari berbagai genre dengan menggunakan bahasa campuran. “Kadang lagu disisipi bahasa Indonesia dan bahasa  Inggris. Itu menandakan bahwa lagu Bali sangat fleksibel dan masih diterima masyarakat, dengan beragam genre, ada pop, rock, jazz, dangdut,” pungkas suami Komang Muliasih ini.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia