Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Dipenuhi Sampah BH dan CD, Partayasa: Nu Dot Melukat di Campuhan?

08 Desember 2019, 21: 03: 26 WIB | editor : Nyoman Suarna

Dipenuhi Sampah BH dan CD, Partayasa: Nu Dot Melukat di Campuhan?

PAKAIAN DALAM: Aksi bersih-bersih Komunitas Bhakti Ring Pertiwi di Sungai Yeh Empas menemukan banyak sampah pakaian dalam seperti CD dan BH. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Pantai, sungai, hingga campuhan merupakan tempat yang banyak dituju masyarakat untuk melukat di hari Banyu Pinaruh. Namun nyatanya pantai, sungai dan campuhan malah banyak dipenuhi sampah, bahkan sampah bekas pakaian dalam mulai dari celana dalam (CD) hingga BH.

Seperti halnya ditemukan Komunitas Bhakti Ring Pertiwi saat bersih-bersih di Tukad Yeh Empas, Penebel, Tabanan. Selain sampah plastik, juga banyak ditemukan sampah berupa CD dan BH. Juga ada sampah bekas upakara. Foto-foto aksi bersih-bersih itu pun langsung viral di media sosial Facebook.

BH : Sejumlah BH ditemukan di aliran Sungai Yeh Empas oleh Komunitas Bhakti Ring Pertiwi saat aksi bersih.

BH : Sejumlah BH ditemukan di aliran Sungai Yeh Empas oleh Komunitas Bhakti Ring Pertiwi saat aksi bersih. (ISTIMEWA)

Ketua Komunitas Bhakti Ring Pertiwi, I Putu Partayasa mengatakan, momen Banyu Pinaruh atau sehari sesudah hari Saraswati dirasa tepat untuk mengetuk kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya dan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai. "Foto-foto itu merupakan hasil bersih-bersih Bhakti Ring Pertiwi di Sungai Yeh Empas, dan memang kenyataannya seperti itu yang kami dapatkan banyak CD bekas, BH dan lainnya," ujarnya Minggu (8/12). Dengan kondisi ini, Partayasa alias Parta Liong membuat status; “Kene gen isin tukade, nu dot banyupinaruh jak melukat di campuhan (seperti ini saja isi sungai (CD dan BH bekas) apa masih ingin banyupinaruh dan melukat di campuhan atau pertemuan antar sungai).

Ia juga ingin menginspirasi masyarakat agar tidak cuek dan acuh dengan lingkungan sekitarnya, sehingga tidak membuang sampah ke sungai. Apalagi pada hari Banyu Pinaruh banyak masyarakat yang melukat atau membersihkan diri di sungai dan campuhan. "Sudah jelas dalam Banyu Pinaruh kita memandang air itu sebagai wujud Tuhan yang nyata, Banyu itu air dan Pinaruh itu Kaweruhan, tetapi perilaku manusia masih saja tidak peduli lingkungan dan malah membuat sungai sebagai aliran air itu sendiri kotor," lanjutnya.

Sungai Yeh Empas sendiri sebagai sungai yang panjangnya mulai dari Desa Bolangan, Kecamatan Penebel dan bermuara di Pantai Yeh Gangga, Kecamatan Tabanan tak ubahnya tempat pembuangan akhir (TPA) yang tersembunyi. Karena setiap hari ada ratusan masyarakat yang membuang sampah di aliran sungai Yeh Empas, termasuk juga sampah upakara.

Maka dari itu, pihaknya berharap semua pihak dapat terlibat dalam upaya restorasi sungai yang saat ini tengah dilakukan Komunitas Bhakti Ring Pertiwi. "Masyarakat perlu diberikan pemahaman untuk peduli terhadap lingkungan, dimana banyak hewan yang ada di ekosistem yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan adat dan budaya yang ada di Bali," tandasnya.

Sepatutnya, ketika ritual Banyu Pinaruh diyakini oleh umat, mestinya sungai, pantai, laut mesti dijaga. Momentum Banyu Pinaruh mesti menjadi semangat untuk menjaga kebersihan pantai, sungai dan lainnya. “Atau kalau masih yakin melukat di campuhan menjadi langkah untuk membersihkan diri secara sekala niskala, mestinya sarana melukat yaitu campuhan atau sungai dijaga kebersihannya,” pungkasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia