Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Panglukatan di Pantai Mertasari Dipuput Sembilan Sulinggih

08 Desember 2019, 21: 39: 05 WIB | editor : Nyoman Suarna

Panglukatan di Pantai Mertasari Dipuput Sembilan Sulinggih

KHUSYUK: Prosesi Panglukatan Agung Banyu Pinaruh yang berlangsung di Pantai Mertasari, Denpasar, Minggu (8/12) pagi. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sehari setelah hari raya Saraswati, umat Hindu melaksanakan upacara Banyu Pinaruh dengan melakukan pangelukatan ke sumber mata air atau ke pantai. Seperti terlihat di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu (8/12), sejak pagi hari ribuan masyarakat datang dengan memakai pakaian adat serta membawa canang dan pejati untuk mengikuti Panglukatan Agung Banyu Pinaruh yang digelar Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Bali.

Acara ini dipuput sembilan sulinggih, masing-masing Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Satya Jyoti dari Gria Bhuwana Dharam Santi, Ida Shri Mpu Dharma Sunu Gria Taman Pande Tonja, dan Ida Padanda Gede Kompyang Beji Gria Beji Taman Santi. Lalu Ida Pandita Mpu Upadyaya Nanda Tanaya Gria Reka Eka Santi, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Wirya Arda Nara Swara Gria Batur Bujangga Sari, dan Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga Gria Pasek Agung Tegal. Kemudian Ida Padinta Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Griya Padukuhan Siddha Swasti, Ida Shri Mpu Dharma Agni Yoga Sogata Griya Taman Giri Chandra, serta Ida Pandita Mpu Dwidaksa Dharma Manik Kusuma.

Ketua Panitia Panglukatan Agung Banyu Pinaruh, Pinandita I Wayan Dodi Arianta mengatakan, panglukatan ini disebut dengan Panglukatan Agung Banyu Pinaruh karena dipuput sembilan sulinggih, dan dilaksanakan bertepatan dengan Banyu Pinaruh. Rangkaian upacara diawali ketika para sulinggih melakukan prosesi ngarga tirta, kemudian dilanjutkan dengan pangreresik, dan prosesi mendak tirta ke tengah laut.

"Sabtu tengah malam, kami telah meletakkan botol kosong di tengah lautan. Sekarang tirta tersebut dipendak dari laut menuju ke darat," katanya.

Tirta ini disebut dengan tirta nirmala atau tirta kamandalu, karena murni dari laut. Nantinya tirta dari segara ini kemudian dicampur dengan dengan tirta sang sulinggih.

"Ada sembilan jenis tirta yang dibuat sulinggih dicampur jadi satu, dan dilakukan pangelukatan bagi umat," katanya.

Kesembilan tirta tersebut yaitu Tirta Gangga, Tirta Siwa Baruna, Tirta Baruna Gni, Tirta Setra Gemana, Tirta Wisnu Panjara, Tirta Siwa Gni, Tirta Sanjiwani lan Tirtha Buda, Tirta Wana Gemana, dan Tirta Marga Gemana.

Dengan acara ini, dia berharap umat meningkatkan moralitas, agar terjadi hubungan yang harmonis. Tradisi ini dilaksanakan di sumber mata air di Bali. Di India ada upacara Kumbamela yang sangat menggaung di dunia. Jadi upacara Banyu Pinaruh potensial, seperti Kumbamela bisa dinikmati dunia luar.

Sementara itu, Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita I Ketut Pasek Swastika menambahkan, panglukatan ini merupakan penyempurnaan panglukatan yang berjalan sebelumnya. "Kalau melaksanakan Saraswati pasti mencari pantai segara, klebutan atau danu. Sebelumnya seperti mandi, namun dalam perjalanan waktu disempurnakan dengan ini," katanya.

Dia menambahkan, ini dilaksanakan untuk yang ketiga kalinya. Juga dilaksanakan serentak di sembilan kabupaten/kota di Bali. Di Jakarta juga ada prosesi ini, sehingga secara nasional sudah berjalan.

(bx/bay/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia