Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

KPPAD Bali Kunjungi Kakak Beradik Yatim Piatu di Lebih

08 Desember 2019, 22: 38: 58 WIB | editor : Nyoman Suarna

KPPAD Bali Kunjungi Kakak Beradik Yatim Piatu di Lebih

TETAP SEMANGAT : Anak yatim piatu di Banjar Kesian, Desa Lebih, Gianyar dikunjungi Komunitas Yatim Piatu dan KPPAD Bali, Minggu (8/12). (ISTIMEWA)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Sepasang anak yatim piatu, Putu Indah Cantika Putri, 9, dan Kadek Abi Seka Mahendra Putra, 7, hanya diasuh sang kakek. Mereka merupakan warga Banjar Kesian, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar.  Tepat pada hari suci Banyu Pinaruh, Minggu (8/12), mereka dikunjungi oleh Komunitas Peduli Yatim Piatu  dan Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali.

Sang kakek, Nyoman Sugita mengaku ia tidak bisa berbuat banyak untuk kedua cucunya. Lantaran istrinya sendiri sudah meninggal dunia. “Istri saya tahun lalu meninggal dunia, dan sekarang saya yang asuh sendiri cucu saya ini,” ungkapnya.

Sedangkan Sugita kesehariannya sebagai pekerja swasta sehingga ia mengaku kesulitan untuk menghidupi biaya kedua cucunya tersebut. Selain itu, ia juga berharap ada donator untuk meringankan biaya hidup kedua cucunya tersebut, terlebih dia mengaku belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.

Bertepatan pada hari suci Banyu Pinaruh, mereka kedatangan tamu dari Komunitas Peduli Yatim Piatu dengan pimpinan Nyoman Kusuma. Selain itu hadir juga Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Made Ariasa. Dalam kesempatan itu mereka memberikan bantuan untuk keluarga Sugita. “Komunitas itu ikut memberikan perlindungan anak secara mandiri maupun gotong royong,” jelas Komisioner KPPAD Bali, Ariasa.

Saat kunjungan itu, KPPAD dan komunitas sempat meminta anak itu menulis. Sang kakak, Putu Indah menulis identitas dirinya.  Selain itu ia juga menuliskan nama almarhum orang tuanya. Ayahnya bernama Kadek Suka Dana dan ibunya bernama Anak Agung Suka Sriasih. Bahkan dalam kertas yang ia tulis, Indah bercita-cita menjadi dokter. Sedangkan adiknya bercita-cita sebagai pembalap. 

 “Cita-cita adiknya mau jadi pembalap motor drag.  Ini pemikiran yang bisa sesat karena salah pergaulan. Kakaknya sangat prihatin dan tahu diri hidup susah. Kedua orang tuanya meninggal dalam waktu berdekatan karena sakit. Neneknya juga meninggal, sehingga mereka hanya dirawat sang kakek,” paparnya.

Ariasa berharap kedua anak itu harus terus mendapat perlindungan, khususnya dilindungi dari resiko kekerasan terhadap anak gar tidak terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan karena tinggal satu rumah atau satu kamar.  “Ke depannya kami KPPAD bidang pendidikan akan terus upayakan untuk menemukan orang tua asuh yang berkenan untuk menanggung biaya hidup dan pendidikan kedua anak tersebut sampai tuntas minimal SMA atau SMK,” tandasnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia