Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Luhur Besi Kalung; Posisi Lingga Yoni, Pertanda Keamanan Jagat

09 Desember 2019, 11: 18: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Luhur Besi Kalung; Posisi Lingga Yoni, Pertanda Keamanan Jagat

PELINGGIH AGUNG : Pantang dimasuki sekaligus tempat lingga yoni yang menjadi simbol pertanda keamanan dan kesejahteraan jagat (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS  - Berada di lereng Gunung Batukaru sisi selatan, Pura Luhur Besi Kalung, menyimpan banyak sejarah maupun kisah menarik. Salah satunya mengenai keyakinan keberadaan lingga yoni, sebagai pertanda keamanan dan kesejahteraan jagat.

Hawa sejuk menyelimuti kawasan Banjar Utu, Desa Babahan, Kecamatan Penebel belum lama ini, tatkala koran ini mendatangi pura tersebut. Namun ketika menyebut nama pura ini, memang sedikit terasa janggal. Lantaran dua kata pada nama pura, dalam kehidupan sehari-hari cukup umum di masyarakat, yakni Besi dan Kalung. Berbeda dengan nama-nama pura besar lainnya yang umumnya menggunakan nama sansekerta.

Menurut Jero Mangku Gede Luhur Besi Kalung, Ni Wayan Swinari, yang diwawancarai 2016 silam, nama Besi Kalung, konon berasal dari adanya lingga yoni yang menjadi pelinggih agung di Pura Luhur Besi Kalung. Lingga yang berbentuk bulat panjang dihiasi lingkaran menyerupai kalung. Di mana ketika zaman dahulu, jika dipukul lingga tersebut akan mengeluarkan suara nyaring seperti besi, hingga diberi nama Pura Luhur Besi Kalung. Sedangkan kata Luhur disisipi, karena lokasi pura yang terletak di lereng Gunung Batukaru.

“Zaman dahulu pernah ada pemangku yang memukul dan suaranya nyaring seperti besi,” ujarnya.

Jero Mangku Gede menambahkan, bahwa hingga saat ini belum ada babad yang menuliskan mengenai sejarah Pura Luhur Besi Kalung. Termasuk sejak kapan pura tersebut dibangun. Tapi berdasarkan lontar, disebutkan bahwa pelinggih agung merupakan peninggalan bersejarah, berupa benda purbakala yang diperkirakan berdiri sejak abad IX-XII Masehi.

“Yang berstana di pelinggih agung adalah Ida Bhatara Sang Hyang Ciwa Sakti dengan segala kemahakuasaannya,” imbuhnya.

Sebagaimana layaknya pura di Bali, Pura Besi Kalung oleh masyarakat juga dikenal angker. Sehingga tidak ada satu pun orang yang diperbolehkan

memasuki pelataran pelinggih agung. Karena ketika berani melanggar, terlebih dengan niat yang tidak baik, celaka pun menanti.

Selain itu, seperti kata Jero Mangku Gede, banyak para politisi dan pejabat yang melakukan semedi untuk mendapatkan berkah. Termasuk pula masyarakat yang memohon keturunan di pura tersebut.

Lebih lanjut, Jero Mangku Gede yang sehari-harinya sebagai guru ini menjelaskan, lingga yoni yang terdapat pada pelinggih agung merupakan simbol keamanan dan kesejahteraan jagat. Apabila lingga yoni yang mulanya berposisi tegak berubah miring, hal tersebut patut diwaspadai. Karena menandakan akan terjadi bencana di suatu daerah. Bahkan level bencana, tak hanya di Bali, melainkan secara nasional. Pertanda itu seperti kejadian gunung meletus di Pulau Jawa sekitar 2013 lalu. Termasuk rangkaian musibah yang terjadi pada 1932, 1945, 1965, hingga gejolak politik pada 1998.

“Tapi posisi lingga yoni akan kembali seperti semula dengan sendirinya. Ketika bencana atau sebuah kejadian besar berhenti,” imbuhnya.

Selain keyakinan tersebut, masyarakat sekitar juga meyakini Pura Luhur Besi Kalung, dijaga seekor naga dan macan. Karena seperti katanya, selain pemangku, beberapa warga pernah menyaksikan langsung macan dan seekor naga muncul di pura tersebut. Tidak hanya naga dan macan yang kasat mata. Seekor anjing pun sehari-hari dengan setia menunggui pura Pura Luhur Besi Kalung. Anjing berbulu hitam, yang oleh warga kerap dipanggil Blacky.

Di samping itu, keberadaan Pura Luhur Besi Kalung juga dikaitkan dalam bagian Jajar Kemiri, yang berfungsi sebagai kekuatan jagat Bali. Sebuah satu jaringan yang kuat dan tidak mudah lapuk, dengan Pura Luhur Batukaru sebagai pusatnya. Pura-pura tersebut antara Pura Muncak Sari dan Pura Tamba Waras di sebelah kanan. Kemudian Pura Petali dan dan Pura Luhur Besi Kalung di sisi kiri.

Pantang Memotong Pepohonan

ADANYA kepercayaan pepohonan yang ada di sekitar pelinggih agung Pura Luhur Besi Kalung, sebagai rambut Ida Bhatara yang berstana. Ternyata juga memunculkan pantangan bagi masyarakat setempat. Pantangan tersebut berupa tidak boleh memangkas, memotong atau pun mencabut pepohonan yang ada di sekitar pura, khususnya yang ada di sekitar pelinggih agung.

“Secara niskala pepohonan tersebut dipercaya merupakan rambut Ida Betara,” terang Humas Pura Luhur Besi Kalung, I Made Subagia.

Pembersihan di sekitar Pelinggih Agung hanya dilakukan menjelang pujawali yang harus diawali dengan ritual khusus, dan tidak boleh dilakukan sembarang orang. Yang bisa melakukan pembersihan atau mereresik, hanya Jero Mangku dan orang-orang yang boleh naik ke pelataran pelinggih agung.

“Biasanya dilakukan pada Minggu, setelah Saraswati menjelang pujawali Pura Luhur Besi Kalung saat setiap Hari Pagerwesi, tepatnya pada Buda Kliwon Sinta,” tambah Subagia.

Selain itu, hasil pemangkasan pohon pun tidak boleh dibuang. Tapi dahan-dahan hasil pangkasan, mesti kembali ditanam di Pura Bangbang. Dresta yang pada akhirnya membuat lingkungan di sekitar pura seperti hutan.

Pura Luhur Besi Kalung diempon oleh Desa Adat Babahan yang terdiri dari tiga Banjar Adat yaitu Banjar Adat Babahan Tengah, Banjar Adat Babahan Kawan, dan Banjar Adat Babahan Kanginan, plus Desa Adat Utu dan Desa Adat Bolangan.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia