Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Features

Sebelum Tewas Tenggelam Saat Banyupinaruh, Kakek Sumerta Mimpi Aneh

09 Desember 2019, 20: 14: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sebelum Tewas Tenggelam Saat Banyupinaruh, Kakek Sumerta Mimpi Aneh

RUMAH DUKA: Suasana rumah duka korban Gede Sumerta, 17, remaja yang tenggelam di Air Terjun Mabun, Dusun Klandis, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan. (ISTIMEWA)

Share this      

KUBUTAMBAHAN, BALI EXPRESS - Kepergian Gede Sumerta, 17, saat banyupinaruh menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Rupanya, beberapa hari sebelum tenggelam di Air Terjun Mabun, Dusun Kelandis, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, pada Minggu (8/12), sang kakek Wayan Sadra sempat mendapat firasat aneh lewat mimpi pada Kamis (5/12) malam.

Pria yang juga Kelian Desa Adat Kelandis menuturkan dalam mimpi itu ia memotong sebatang bambu seperti sedang memiliki hajatan upacara. Dalam mimpi itu pula jika bambu digunakan untuk membuat tempat gong. “Kepercayaan kami disini, jika mimpi punya hajatan bakal ada musibah menimpa keluarga," ujar Sadra Senin (9/12) siang.

Kendati tahu itu pertanda buruk, namun Sadra justru mengabaikan mimpi buruk tersebut. Bahkan sedikitpun tak terbesit di benaknya jika musibah itu akan datang dan menimpa sang cucu tercintanya. Sadra hanya menganggap jika mimpinya itu sebagai bunga tidur.

Yang kian membuatnya terpukul dirinya tak sempat menyampaikan sinyal tersebut kepada Wayan Suasta 37 selaku ayah korban. Rupanya pertanda itu benar adanya. Sang cucu pun tenggelam di air terjun saat hendak mandi mebanyu pinaruh sehari setelah Hari Raya Saraswati.

Tak pelak, peristiwa itu membuat Sadra kaget bukan kepalang. Kabar buruk itu ia dengar sekira  pukul 13.00 WITA dari tetangga, jika cucunya tewas tenggelam di air terjun Mabun."Kami memang jarang bertemu, karena tempat tinggal berjauhan. Saya tinggal di pondok (tegalan), sedangkan anak beserta cucu tinggal di desa. Mimpi buruk itu belum sempat saya sampaikan kepada siapapun," katanya.

Sadra pun merasa kehilangan atas kepergian sang cucu. Di matanya, mendiang merupakan sosok pekerja keras. Bahkan, terungkap pula jika sang cucu hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP saja.

"Cucu saya itu hanya lulus SMP saja, tidak melanjutkan ke SMA. Ya, masih bujang, anak bungsu dua bersaudara. Pekerjaan Sumerta sehari-hari buruh ngabas (membersihkan) tegalan, biasanya diupah oleh saudagar," jelas

Sementara, Sang Ibu, Ketut Budiani masih terlihat syok dengan peristiwa nahas yang menimpa putra sulungnya. Budiani hanya terdiam dan diam seribu bahasa ketika hendak dimintai keterangan.

Kepergian Sumerta begitu cepat rupanya membuat keluarga cukup terpukul. Korban dimakamkan pada Minggu (8/12) malam di setra setempat. Proses pengabenan belum bisa dilaksanakan lantaran desa pakraman Klandis tengah meberata karena pura sedang ada perbaikan.

Diberitakan sebelumnya nasib malang dialami Gede Sumerta, 17. Remaja asal Dusun Klandis, Desa Pakisan, Kecamatan Sukasada ini tewas tenggelam saat mebanyu pinaruh di Air Terjun Mabun di desa setempat pada Minggu (8/12) pagi sekira pukul 10.00 Wita.

Korban datang bersama dua orang temannya Kadek Sariantika 16 dan Komang Redi Artawan 16 untuk mandi. Namun korban yang tak bisa berenang nekat mandi di air terjun yang kedalamannya belasan meter. Tak pelak, korban terbawa derasnya arus air.

Masyarakat sempat pun berusaha melakukan pencarian saat korban hilang ditelan derasnya air. Namuan lantaran sulitanya medan, membuat pencarian tak bisa dilakukan. Hingga akhirnya mereka menghubungi Tim SAR untuk melakukan pencarian dan berhasil ditemukan di kedalaman 12 meter pada pukul 15.00 Wita.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia