Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Dongkrak PAD, Herry Angligan Bagi Resep ke DPRD Gianyar

09 Desember 2019, 22: 36: 10 WIB | editor : Nyoman Suarna

Dongkrak PAD, Herry Angligan Bagi Resep ke DPRD Gianyar

I Gusti Agung Herry Angligan (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Industri pariwisata di Bali dari masa ke masa terus mengalami perkembangan. Bentuk bisnisnya juga hadir beraneka rupa. Mulai dari akomodasi hotel, transportasi, dan berbagai penyedia layanan berlibur lainnya.

Perkembangan yang terus-menerus ini sedianya harus diikuti pemerintah. Apalagi dalam konteks mengangkat nilai pendapatan asli daerah (PAD). Namun sayangnya, eksekusinya tidak serta merta bisa dilakukan karena terbentur beberapa hal. Salah satunya yang berkaitan dengan regulasi, khususnya perda.

Situasi ini digambarkan praktisi pariwisata yang juga mantan Presiden Direktur PT Hotel Indonesia Natour, I Gusti Agung Herry Angligan, usai menjadi pemateri dalam bimbingan teknis (bimtek) pimpinan dan anggota DPRD Gianyar, Senin (9/12).

“Jadi perlu ada penyesuaian perda. Misalnya glamping (glamour camping). Di perda tidak diatur soal itu. Padahal, belakangan ini jadi demand, permintaan, yang lagi ramai malah. Jadi perdanya harus adaptif,” jelas Herry Angligan.

Perlunya aturan yang adaptif ini, sambung dia, berlaku juga dengan penerapan cara pembayaran nontunai. Semula, transaksi nontunai tidak ada perdanya. Sehingga, sambung dia, eksekutif maupun legislatif mesti selaras.

“Dalam artian bagaimana melihat perkembangan zaman. Jangan terpaku dengan perda yang sudah ada. Perda itu kan buatan. Jangan sampai perkembangan itu terhambat,” sebutnya.

Dia juga mengingatkan agar tidak berpikir untuk menambah hotel demi kepentingan meningkatkan PAD. Terlebih okupansinya hanya berkisar 50 persen saat ini. Sehingga, baik eksekutif maupun legislatifnya mesti lebih kreatif melihat potensi yang ada di wilayahnya. 

“Contohnya pasar senggol. Kalau mau dipajakin, pedagangnya akan keberatan. Mbok ya dibenerin dulu (pasarnya). Dibersihkan dulu. Bila perlu dilengkapi wifi. Giving dulu. Baru reciving,” tukasnya.

Menurutnya, diperlukan kejelian untuk mengemas potensi yang ada, agar bisa memicu peningkatan PAD. Dia mencontohkan negara Singapura. Sejatinya, negara itu tidak memiliki potensi pariwisata sama sekali. 

“Tapi dia (Singapura) pintar mengemas. Kalau ada yang bilang lima tahun lagi Bali akan sama dengan Singapura, saya mau tantang, kebayang nggak lima tahun lagi Singapura akan seperti apa. Dia juga bergerak terus,” sebutnya.

Tentunya, sambung dia, masukan untuk mengemas potensi wisata yang sudah ada ini memerlukan banyak curah gagasan. Ini bisa dilakukan kalangan legislatif dengan meningkatkan pengetahuannya. “Caranya ya dengan memperluas networking atau jaringannya,” pungkasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia