Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

RS Sanglah Buka Poliklinik Prana, Atasi Gangguan Fisik dan Psikis

10 Desember 2019, 13: 39: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

RS Sanglah Buka Poliklinik Prana, Atasi Gangguan Fisik dan Psikis

POLI : Penanggung Jawab Poli Terapi Prana di RSUP Sanglah dr Ketut Ayu MARS. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali secara resmi membuka Poliklinik Prana, yakni system pengobatan dengan terapi energi Prana, selain hypnoterapi dan akupuntur. Apa sebenarnya  terapi Prana ini hingga dibuka untuk pertama kali di RS terbesar di kawasan Bali-Nusa Tenggara ini?

Pembukaan poliklinik terapi dengan energi Prana yang mirip dengan Chi di Tiongkok dan Qi di Jepang di Wing Amerta lantai dua  RSUP Sanglah ini, adalah salah terapi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.  Sejak dibuka mulai Selasa (3/12) pekan kemarin, sudah tangani 38 pasien.

Penanggung jawab Poliklinik Prana, dr Ketut Ayu MARS mengungkapkan, segala keluhan penyakit pasien boleh dibawa ke poli. Pasien hanya datang dan menunggu giliran, kemudian diperiksa oleh penyembuh. “Penyembuh akan mengecek kondisi pasien saat terapi,” ujar dokter berkacamata ini. Tenaga medis  yang disedikan RSUP Sanglah adalah dokter dan perawat rumah sakit sendiri.


Para penyembuh yang kini berjumlah 16 orang tersebut, lanjutnya, sudah mendapat  loka karya yang diselenggarakan oleh Prana Puspa Bali. “Jadi, kita kirim dokter dan perawat ke sana untuk ikuti loka karya selama dua hari. Mereka keluar dari pelatihan harus sudah bisa mempraktikkan penyembuhan ini,” ujarnya.


Kemampuan penyembuhan diakui dr Ketut Ayu akan semakin bagus jika sering dipraktikkan. Semakin rajin seorang mempraktikkan, maka semakin bagus keahliannya. “Loka karya itu ada tahapan dari dasar, kemudian lanjut, psikoterapi dan lainnya. Dan, tidak hanya untuk penyakit fisik, tetapi psikis seperti depresi dan stres juga,” papar dr Ketut Ayu kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


I Nyoman Gede Astawa, 59, selaku penyembuh, mengatakan terapi energi Prana adalah terapi yang memusatkan pada pengambilan energi berpenyakit pada pasien. Pasien yang datang untuk pertama kali rata-rata menghabiskan 30 menit dan akan semakin berkurang pada kunjungan berikutnya.


Serius tidaknya penyakit seorang pasien menjadi tolak ukur lamanya sesi penyembuhan yang ia lakukan.


Dalam melakukan terapi energi Prana, Gede Astawa akan menggunakan tangannya untuk merasakan cakra dari pasien. Ada 11 cakra yang digunakan olehnya untuk penyembuhan. Posisi tangan dari hasil pengamatan cakra ini pun berpengaruh pada semakin berat atau ringan penyakit yang diderita pasien. “Kita selektif dalam scanning pasiennya, bahkan dalam terapi ini dari jarak jauhpun bisa dilakukan,” terang pria yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini.


Gede Astawa mencontohkan, terapi energi Prana ini bisa menghilangkan kecanduan seseorang terhadap rokok. Perokok yang berniat berhenti merokok, lanjutnya, akan memutuskan untuk menaruh rokok dan koreknya. Namun, si perokok akan tersiksa menahan keinginan untuk tidak merokoknya itu. “Nah dalam terapi Prana ini, kita ambil keinginan merokoknya itu, jadi si perokok tidak tersiksa ketika melihat rokok,” ujar pria yang sudah 20 tahun menggeluti pekerjaan sebagai penyembuh ini.


“Cukup dua sampai tiga kali saja terapi, hilang sudah kecanduannya. Kita kan hilangkan keinginan, inilah yang terpenting,” imbuhnya.


Selain itu depresi, kecemasan, stres dan rasa khawatir berlebih, juga bisa diobati dengan terapi energi Prana. Bagi Gede Astawa, terapi energi Prana ini adalah pengobatan tubuh energi manusia, sedangkan yang diobati oleh dokter adalah tubuh fisiknya. Keduanya bisa dilakukan berbarengan, sehingga kesembuhan pasien lebih cepat. Seperti penyakit Tuberkolosis (TBC), kanker dan tumor, juga bisa mengikuti terapi ini. Gede Astawa menjelaskan, ketika terapi si pasien akan diambil penyakitnya sehingga berkurang. Terapi kedua akan dilihat lagi, kalau terus berkurang akan dilanjutkan. “Dengan menggabungkan penyembuhan energi Prana ini dan medis dokter, kesembuhan pasien  peluangnya lebih cepat ataupun lebih besar,” ucapnya.


Namun dikatakannya,  jika penyakit tidak mengalami perubahan, dari pertemuan pertama dan seterusnya masih sama, maka disarankan untuk ke tempat lain menempuh cara lain. "Artinya tidak cocok dia dengan terapi ini,” tandasnya.


Terapi energi Prana  menggunakan batu kristal khusus yang digunakan untuk mengambil penyakit pasien dan membuang ke dalam ember. Ember tersebut berisikan air bercampur garam. Nantinya, setelah terapi, air tersebut tidak boleh dibuang sembarangan, karena dianggap sudah memiliki energi berpenyakit yang diambil dari si pasien. “Kristalnya kita bersihkan, karena ini semacam alat layaknya kita mengepel untuk hilangkan kotoran, kan tidak bisa pakai tangan langsung,” ungkap Gede Astawa.


Terapi energi Prana, lanjut Gede Astawa, bukanlah terapi dengan mistis. Menurutnya, jika itu mistis tentu seorang seperti dirinya dan juga dokter tidak akan menerima dan mau membuka terapi ini di RSUP Sanglah. Bahkan, diakuinya ada tim dari Kementrian Kesehatan yang datang untuk mengecek, bagaimana proses terapi dilaksanakan. “Setelah kita praktikkan di depan tim tersebut, mereka paham ini ilmiah. Ini terapi tidak asal-asalan, ada teknik khusus,” tambahnya singkat.


Salah satu pasien Komang Asmini, mengaku  setelah mengikuti satu sesi terapi badannya merasa lebih enak. Awalnya dia merasa kurang enak badan sehingga mengikuti terapi energi Prana. “Saya merasa ngantuk, sejuk dan enak badannya. Selesai terapi sudah mendingan sekali, lebih segar rasanya,” ucap Komang Asmini.


Dokter Ketut Ayu  menjelaskan bahwa pasien yang datang untuk terapi adalah permintaan mereka sendiri. Jadi, tidak ada alasan khusus harus ikut terapi ini.  Kehadiran poli ini pertama kali di RSUP Sanglah, diharapkan  akan membuat orang mau mencoba dulu karena gratis. “Kalau langsung bayar, mungkin tidak ada yang mau mencoba. Terapi ini kan baru dibuka dan jarang masyarakat tahu. Setelah mereka datang dan mendapatkan hasil yang memuaskan, tentu akan kembali datang,” pungkas dr Ketut Ayu.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia