Jumat, 24 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Lembu Suci Desa Taro; Si Betina Dayu, Si Jantan Ida Bagus

10 Desember 2019, 14: 32: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lembu Suci Desa Taro; Si Betina Dayu, Si Jantan Ida Bagus

SPESIAL: Lembu putih ini sangat spesial, mereka disucikan bahkan pola ternaknya juga sangat spesial. Sampai saat ini Warga Taro menyakini keberadaan lembu ini terkait dengan Pura Gunung Raung. Lembu ini juga kerap “dipinjam” untuk ritual tertentu. (WIDIADNYANA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Lembu Putih Taro, yang berada di Desa Pakraman Taro Kaja, Tegallalang, Gianyar, Bali, memang terbilang unik. Sapi putih ini tak hanya dilestarikan sebagai hewan yang disucikan, namun Lembu Putih ini juga secara khusus memiliki nama tersendiri. Untuk sapi putih betina dipanggil Dayu dan yang jantan Ida Bagus.

Sebagai salah satu desa yang berada di antara banyaknya pura tua, Desa Pakraman Taro Kaja, Desa Taro, Tegallalang, selama ini memang identik dengan keberadaan Lembu Putih di desa tersebut. Lembu yang semua bagian tubuhnya berwarna putih itu tak hanya disucikan masyarakat setempat. Namun juga keberadaannya yang kini secara intens terus mendapatkan perhatian Desa Pakraman Taro Kaja, melalui sebuah yayasan yang secara khusus mengelola Lembu Putih ini.  

Bendesa Adat Desa Pakraman Taro Kaja, I Made Wisersa (2016) menjelaskan, jika sejarah memang panjang. Namun masyarakat meyakini keberadaan lembu putih yang disucikan ini, tak terlepas dari keberadaan Pura Agung Gunung Raung. Sebab sejak dari zaman dulu hingga saat ini, semua meyakini jika Lembu Putih ini merupakan duwe (milik secara alam gaib) dari yang berstana di Pura Agung Gunung Raung.

Beberapa karya agung yang pernah menggunakan sarana Lembu Putih ini sebagai tawur, seingatnya hanya untuk dua upacara besar. Seperti ketika dilangsungkannya Karya Eka Dasa Ludra di Pura Besakih. Serta ketika pelaksanaan karya Panca Wali Krama di Pura Agung Gunung Raung, pada 2011 lalu.

Jika dulu, Lembu Putih tersebut sebenarnya masih dibiarkan hidup secara liar di areal hutan yang mencapai puluhan hektar tersebut. Kala itu tak ada satu pun masyarakat yang berani mengganggu apalagi menyakiti Lembu Putih yang hidup mencari makan dengan sendirinya. Namun memasuki era akhir tahun 1960an hingga awal 1970an, Lembu Putih yang ketika hidup di alam liar diperkirakan berjumlah hingga 50 an ekor lebih itu, akhirnya mulai dikandangkan pada lahan seluas 2 hektare.

Keputusan mengkandangkan Lembu Putih itu, dari cerita yang diketahui Wisersa, selain karena adanya program bantuan dari pemerintah ketika itu. Keberadaan Lembu Putih yang hidup liar disebut-sebut sempat beberapa kali mengganggu masyarakat di desa tetangga.

Tapi sebagai bagian dari upaya mengkandangkan Lembu Putih tersebut. Masyarakat Taro Kaja mesti memelihara lembu tersebut, termasuk kecukupan pada pakannya. Akhirnya ketika areal hutan yang luasnya puluhan hektar diserahkan kepada sekitar 65 kepala keluarga di Desa Pakraman Taro. Sebagai gantinya, mereka wajib memelihara Lembu Putih itu.

“Istilahnya, lahan hutan puluhan hektar itu akhirnya disakap (digarap) krama. Tapi mereka wajib memelihara Lembu Putih itu,” ungkapnya. Sekaligus menyatakan hingga saat ini pengelolaan masih oleh masyarakat setempat, dan sejak 31 April 2013 lalu akhirnya dibentuk sebuah Yayasan Lembu Putih Taro sebagai pengelolanya.

Bahkan ada yang unik, lembu putih ini memiliki nama. Lembu Putih betina mendapatkan nama Dayu, dan Lembu Putih jantan mendapatkan nama Ida Bagus. Wisersa menyatakan, penamaan itu memang tak lepas dari kaitan lembu itu yang diyakini sebagai duwe (milik) Pura Agung Gunung Raung. Penamaan itu pun sudah dilakukan sejak dulu, dan tetap digunakan sampai saat ini.

“Kalau nama itu, sudah dari dulu sebutan masyarakat kami seperti itu. Ini memang kaitannya dengan keberadaannya sebagai duwe,” tegasnya.

Fungsinya, yang jauh lebih sering adalah sejenis dipinjam untuk ritual upacara. Jika untuk sarana upacara atau disembelih, hanya ketika upacara besar di Besakih dan Gunung Raung. Sementara itu, Made Madriana, Ketua Yayasan Lembu Putih Taro didampingi kepala pengelola Ketut Daging, objek wisata Lembu Putih menyatakan, saat ini secara total ada 42 Lembu Putih di tempat tersebut. Rinciannya 19 jantan dan 23 betina yang empat diantaranya sedang hamil. Sedangkan dari jumlah tersebut, empat lembu saat ini masih anak-anak dan menyusu dari induknya.

Yang mengejutkan dengan jumlah Lembu Putih yang mencapai 42 ekor, sehari rata-rata bias menghabiskan hingga 1,4 ton rumput gajah. Rumput itu dipenuhi pihak pengelola dengan membeli dari delapan warga tiap harinya.

Jadi dari 475 kepala keluarga di Banjar Taro Kaja, secara bergiliran tiap hari ada delapan warga yang membawa rumput gajah dengan masing-masing tujuh ikat (sekitar 140kg). Sehingga sehari pengelola mengeluarkan Rp 800 ribu untuk membeli rumput.

Selain rumput gajah, Lembu Putih tersebut sesekali juga mendapatkan pelepah kelapa dan batang pisang dengan air yang dicampur garam. Serta tiga hari sekali rutin dimandikan.

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia