Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Begini Pandangan Psikolog tentang Ilmu Pangleakan

11 Desember 2019, 13: 21: 02 WIB | editor : I Putu Suyatra

Begini Pandangan Psikolog tentang Ilmu Pangleakan

SEMINAR: I Gusti Ayu Diah Fridari (kanan) dengan Rektor UNHI Prof Dr drh I Made Damriyasa MS (tengah) dan Volker Gottowik dari Goethe University, Frakfurt, Jerman, dalam seminar bertajuk di Kampus UNHI Denpasar, pekan kemarin. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pangleakan identik dengan ilmu gaib yang secara umum tidak bisa ditelaah dengan keilmuan sains. Lalu, bagaimanakah pandangan Ilmu Psikologi, khususnya transpersonal terhadap Ilmu Pangleakan ini?

Rencana untuk menghadirkan Program Studi (Prodi) tentang Ilmu Panglekan di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar terus dikaji. Kali ini seorang dosen psikolog, I Gusti Ayu Diah Fridari membeber soal Pangleakan  lewat seminar bertajuk  'Pangleakan dalam Kajian Filsafat Agama dan Ilmu pada Masyarakat Bali,' di Kampus UNHI Denpasar, pekan kemarin.

Dosen Psikologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini, mengakui bahwa dewasa ini sains dan spiritual semakin dekat, berbeda dengan puluhan tahun lalu yang menilai semua ini tidak terlalu berhubungan. Kedekatan ini, lanjutnya, terlihat dari diadakannya seminar mengenai Ilmu Pangelekan.

“Kalau dahulu tentu tidak ada yang membuka seminar semacam ini,” ucapnya.

Menurut Ayu Diah Fridari, jika melihat tentang Pangleakan, maka harus diklasifikasikan, termasuk mitos atau Ilmu Pengetahuan. Mitos dan Ilmu Pengetahuan (sains) sendiri adalah dua hal yang berbeda. Mitos lebih dari cerita turun temurun dan terkait dengan cerita spiritual, sedangkan sains berkaitan erat dengan fakta, metode penelitian untuk membuktikannya, ada informasi dan jelas.


Sebagai seorang psikolog, Ayu Diah Fridari menjelaskan bahwa psikologi transpersonal memiliki makna mempelajari segala sesuatu yang melampaui diri manusia secara fisik. “Intinya transpersonal ini berupaya mengintegrasikan piskologi dan spiritual, mempelajari level-level kesadaran manusia,” ungkap  Ayu Diah Fridari kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).


Dalam psikologi transpersonal, adalah ilmu yang bersifat abstrak. Psikologi pun sudah abstrak, maka yang transpersonal lebih abstrak lagi. Ada energi, level-level pikiran, mimpi, spirit, cahaya, shadow, meditasi, reinkarnasi dan lain-lain. “Di dunia ini tentu kita tidak bisa memisahkan keberadaan cahaya dan kegelapan misalnya,” ujar wanita berkacamata itu.

“Ini jadi menarik karena Pangleakan secara umum bagi masyarakat itu abstrak. Benar tidak, bisa dibuktikan tidak,” tambahnya.


Berangkat dari itulah Ayu Diah Fridari berbicara tentang kaitan Pangleakan dari sudut pandang psikologi transpersonal.

 
Mengkaji dari beberapa aspek, mulai dari aspek energi, seperti umum diketahui tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, namun bisa berubah bentuk. “Seperti air menjadi es, ini kan sebenarnya energinya saja berubah,” ucapnya.

Dilihat dari sudut pandang aspek energi, lanjut  Ayu Diah Fridari, Pangleakan  itu terlihat dari perubahan orang yang mempelajari Ilmu Pangleakan. “Dari sisi transpersonal, Leak ini kan ada perubahan wujud. Orang yang awalnya normal seperti manusia biasa menjadi entitas yang mengerikan misalnya, maka bisa dipelajari dengan ilmu fisika quantum dan metafisika,” bebernya.


Pangleakan dari sudut pandang aspek kesadaran subjektif, dimana kesadaran ini sendiri bersifat dari pengalaman seseorang. Orang yang mempelajari maupun tidak akan memandang Pangleakan secara subjektif, menurut pandangannya sendiri. Dikatakannya, ada yang pernah melihat penampakan Leak, maka secara pribadi pandanganya akan mengatakan bahwa keberadaan Leak benar adanya. Namun, bagi yang belum pernah melihat atau mengalami sendiri akan melihat Leak sebagai cerita berupa mitos.


Experience of eye (pengalaman dengan pengamatan) seseorang ini, lanjut Ayu Diah Fridari, sangat tergantung dengan level kesadarannya. Level kesadaran sendiri adalah tingkat kesadaran manusia yang memengaruhi pandangannya tentang kehidupan secara umum dan juga mengenai perilaku manusia. Hal ini jika dikaitkan dengan Ilmu Pangleakan, bagi  Ayu Diah Fridari cukup penting.


"Seseorang yang memiliki level kesadaran anger (marah) akan melihat dunia dengan penuh kebencian. Jika orang tersebut mempelajari Ilmu Pangleakan apa yang akan terjadi, tentu saja dia bisa menyakiti seseorang dengan ilmunya. Ini berarti  ilmunya akan ke kiri,” tuturnya kepada peserta seminar. 

Ayu Diah Fridari menjelaskan bahwa level kesadaran sendiri dibuat oleh David R. Hawkins. Terdapat banyak level kesadaran yang bisa dilihat, mulai dari shame (memalukan), guilt (bersalah), anger (marah) hingga ada love (cinta), joy (sukacita), peace (perdamaian) dan enlighment (pencerahan) .

“Jika seseorang yang mempelajari Ilmu Pangleakan level kesadarannya love (cinta) misalnya, maka dia bisa membantu orang, menyembuhkan orang, dan lainnya,” papar Ayu Diah Fridari.
Ditegaskannya, level kesadaran adalah hal penting dalam mempelajari suatu keilmuan. "Jika kita angkuh, maka kita akan mementingkan ego sendiri,” tambahnya.

Ia menguraikan jawaban tentang posisi Pangleakan apakah termasuk mitos atau sains? Ayu Diah Fridari beranggapan, kalau mau ini bisa jadi ilmu, maka perlu dibarengi dengan penelitian, sebab sama halnya dengan psikologi transpersonal di Amerika Serikat berkembang tahun 1960-an, akibat rasa tidak puas hanya mempelajari perilaku manusia saja. Sehingga mulai timbul keinginan mempelajari tentang energi spiritual, tentang seseorang yang mendengar suatu hal, namun orang lain tidak dengar. Seseorang melihat suatu hal, namun orang lain tidak bisa melihat, hingga kebenaran akan keberadaan spirit.

“Hal itu yang awalnya kurang dipercaya dalam keilmuan. Sehingga dengan kelak dibuka Prodi mengenail Ilmu Pangleakan diharapkan makin banyak penelitian yang bisa dilakukan,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia