Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Ratusan Siswa SD Lestarikan Lukisan Style Batuan

25 Desember 2019, 18: 51: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ratusan Siswa SD Lestarikan Lukisan Style Batuan

MELUKIS : Ratusan peserta lomba melukis rangkaian kegiatan BatuArt Festival, di Wantilan Pura Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Rabu (25/12). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Dalam mempertahankan lukisan style Batuan, seratus siswa sekolah dasar yang ada di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati mengikuti lomba melukis. Kegiatan itu serangkaian BatuArt Festival 2019 (Batuan Temple Cultural and Art Festival) sebagai peringatan hari jadi Desa Batuan Kecamatan Sukawati ke 997 tahun, yang berlangsung di Wantilan Pura Desa setempat, Rabu (25/12).  Selain untuk merangsang mendapatkan juara, lomba itu digelar untuk menghasilkan bibit-bibit baru dalam mempertahankan lukisan style Batuan tersebut.

Wakil Ketua Panitia Festival, I Kadek Kariana menjelaskan lomba lukisan itu sengaja digelar untuk para siswa sekolah dasar yang ada di desanya. Pasalnya itu ingin melestarikan lukisan yang ada di desanya sendiri supaya tidak punah, terlebih ditinggalkan nantinya. “Tujuannya untuk pelestarian dan membangkitkan seni yang ada di Desa Batuan, salah satunya melukis style Batuan ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan lomba digelar berdasarkan kelas peserta masing-masing. Terdapat dua kategori, yaitu kategori satu disampaikan hanya diikuti oleh peserta kelas 3 hingga kelas 4 SD. Sedangkan kategori dua diikuti oleh kelas 5 sampai kelas 6 SD, dengan perbedaannya adalah tingat kesulitan dalam melukis.

Kedua kategori melukis di atas kertas, hanya saja kategori satu melukis seperti ukir-ukiran saja. Untuk kategori dua mereka melukis dengan temanya pewayangan. “Semua peserta dari Desa Batuan, tetapi jika ada yang ngotot ikut dari beda desa diperbolehkan. Karena ada satu peserta yang merupakan warga negara asing dan ingin mencoba ikut melukis,” bebernya.

Ratusan peserta yang mengikuti lomba melukis itu pun diberikan waktu selama dua jam agar dapat menyelesaikan lukisan sesuai kategori yang diikuti. Untuk penilaiannya juga dinilai berdasarkan kerapian, keindahan, tingkat kesulitan, dan ketepatan waktu.

Pada tempat yang sama, salah satu peserta berwarganera asing Mira Bella Kertiyasa yang merupakan cucu penglingsir Puri Ubud Tjokorda Raka Kertiyasa (Tjok Ibah) mengaku ia ikut karena melihat temannya sering melukis style Batuan. Sehingga bertepatan dengan BatuArt Festival tersebut ia juga mencoba mengikuti. “Ikut lomba karena ingin bersama teman-teman melukis,” jelas siswa kelas tiga SD itu menjawab menggunakan Bahasa Indonesia yang baru ia pelajari.

Sementara itu, Ketua Baturulangun I Ketut Sadia selaku tim penilai mengatakan kriteria lomba terdiri atas Pepatran dan Pewayangan. Pepatran atau melukis motif dilombakan untuk peserta kelas 3 dan 4 SD, sedangkan melukis pewayangan untuk kelas 5 dan 6 SD. “Kami fasilitasi kertas yang sudah ada sketsanya. Peserta mulai lomba dengan teknik sigra atau penegasan, pengisian tinta hitam,” jelasnya.

Terkait turis Mira Bella, diakui sudah bergabung ikut latihan melukis style Batuan sejak 2 bulan terakhir. “Dia rutin ikut setiap hari Minggu. Begitu dia dengar ada lomba, dia paling antusias bilang ikut,” ungkapnya sambil berharap seni lukis yang diwarisi secara turun temurun agar tetap lestari sepanjang masa.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia