Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Pembuatan Gula Merah, Sisi Lain Pesona Penuktukan

26 Desember 2019, 13: 00: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pembuatan Gula Merah, Sisi Lain Pesona Penuktukan

MENARIK : Proses membuat Gula Merah yang dilakukan Nengah Wardana, menarik jadi destinasi pelengkap wisatawan yang berkunjung ke Buleleng Timur. (NYOMAN DARMA WIBAWA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Penuktukan Tejakula, Buleleng, Bali, belakangan mulai dikenal sebagai destinasi wisata kelautan. Namun, masih banyak potensi menarik yang belum disingkap, yang bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Desa sPenuktukan memiliki potensi yang sangat menawan bagi wisatawan, terutama  soal  pantai dan terumbu karangnya. Daerah paling Timur  Kabupaten Buleleng ini, didukung panorama alam yang memesona. Pesona lainnya? Balai Arkeologi Denpasar sudah mendiseminasikan hasil identifikasi dan pembacaan prasasti di 16 titik yang ada di Buleleng, ternyata salah satunya ada di Desa Penuktukan (Tejakula).


Prasasti yang telah diidentifikasi dan dibaca tersebut, berisi tentang aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, politik, budaya, tatanan kehidupan, perpajakan, hingga batas-batas desa. Prasasti tersebut sebagian besar dibuat pada zaman Raja Sri Aji Jaya Pangus. Bila berkunjung ke kawasan Timur Buleleng, semestinya tak hanya melihat aktivitas kelautan atau melihat peninggalan bersejarah. Akan tambah komplit lagi, bila melihat aktivitas warga yang mulai langka dilakukan di Bali, yakni melihat langsung pembuatan Gula Merah Bali yang dilakukan penduduk dengan cara tradisional. Proses pembuatannya sangat menarik, karena Gula Merah khas Bali  berbahan dasar Tuak ini diambil langsung dari pohon Ental.


Nengah Wardana, 66, salah seorang pembuat Gula Merah mengakui butuh proses cukup lama untuk membuat Gula Merah. Selain itu, seorang pembuat Gula Merah harus juga bisa memanjat pohon untuk memasang piranti yang dibutuhkan di atas pohon.


Pria yang sudah puluham  tahun membuat Gula Merah ini, mengatakan, proses awal agar gula yang dihasilkan bagus,  harus memilih pohon Ental yang buahnya baru berbentuk pucil (bakal buah) agar bisa mengeluarkan air yang biasa disebut Tuak.


Setelah dipilih pohon yang sudah sesuai dengan keinginan, barulah batang dari buah tersebut dijepit menggunakan alat yang bernama pangapit sebanyak 5-10 kali, sampai batang tersebut lentur. Selanjutnya ditunggu selama paling cepat 15 hari agar menghasilkan Tuak. Tahap selanjutnya, lanjut Nengah Wardana, setelah mulai mengeluarkan Tuak, ujung batang dari buah Ental ditaruh ember yang berisi serabut kelapa yang dipotong kecil-kecil, dan sudah bercampur dengan cuka ( Lau) sesuai dengan kebutuhan, agar Tuak yang dihasilkan kualitasnya bagus. "Dalam sehari biasanya satu pohon diambil Tuaknya dua kali, pagi sekitar jam 07. 00 Wita dan sore pukul 18.00 Wita, agar Tuak yang ada di ember tidak penuh," urainya kepada
Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Setelah selesai mengambil Tuak, maka ujung batang diiris sedikit agar Tuak bisa tetap keluar.  Ember lain yang sudah berisi Lau dipasang lagi, mengganti, ember yang sudah berisi Tuak. Dengan rangkaian kerja tersebut, berarti seorang petani Tuak harus dua kali naik turun memanjat pohon Ental.


Kalau pohonnya ada 10 saja, berarti sehari harus 20 kali naik pohon Ental. Aktivitas ini diyakininya menjadi salah satu daya tarik wisatawan.


Proses selanjutnya, setelah terkumpul Tuak yang diambil dari beberapa pohon, Nengah Wardana kemudian menuangkan ke dalam kuali besar yang di atasnya berisi saringan, agar sisa Lau tidak ikut  saat dimasak menjadi gula. Langkah selanjutnya kuali diletakkan di atas tungku dan dimasak selama dua jam, hingga Tuak mendidih. "Agar luapannya tidak tumpah diisi minyak goreng, perlahan tuak kemudian akan mengental," imbuh istri Nengah Wardana,
Ketut Masin.

Setelah itu, kuali diturunkan, adonan gula dituangkan ke sebuah wadah khusus dan diaduk, kemudian dituangkan ke cetakan yang dibuat dari batok kelapa berbentuk seperti mangkuk. Ditunggu selama satu jam, baru Gula Merah bisa diangkat dari cetakan.


Biasanya untuk 18 liter Tuak bisa menghasilkan 3 kilogram Gula Merah dengan harga Rp  25 ribu perkilonya. Harga tersebut memang diakuinya tidak sebanding dengan jerih payah yang dilakukan, apalagi harus memanjat pohon Ental tiap hari.


Namun,  Ketut Masin bersyukur apa yang dikerjakannya ada yang membutuhkan. "Yang memesan biasanya  warga lokal, ada dari Desa Siakin, Kintamani, dan ada juga warga asing yang memesan lewat guide, meskipun tidak banyak," tutupnya.

(bx/dar/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia