Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (13)

Kisah Mistis Tol Bali Mandara; Ada Perempuan dan Tiang Patah Misterius

31 Desember 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kisah Mistis Tol Bali Mandara; Ada Perempuan dan Tiang Patah Misterius

BANYAK CERITA MISTIS: Proses pembangunan proyek Tol Bali Mandara menyisakan banyak cerita berbau mistis. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Boleh percaya, boleh tidak. Tapi, itulah yang dialami para pekerja Paket 3 tol Bali (Tuban/Simpang Bandara - Simpang Benoa) yang sekarang dikenal dengan nama Tol Bali Mandara. Beberapa pekerja yang terjun langsung menggarap proyek tersebut beberapa kali menemui hal-hal aneh. Seperti yang diceritakan oleh Senior Manager PT Hutama Karya, I Nyoman Sujaya.

“Beberapa kali sempat terjadi kejadian aneh di proyek,” ujar Sujaya. Dia menuturkan, kejadian aneh terjadi biasanya pada malam hari.

Baca juga: Diduga Depresi akibat Maag, Pria Tejakula Gantung Diri di Tegallalang

“Memang terjadi di luar nalar, tapi kenyataan terjadi seperti itu. Kami tetap menghormati dan menghargai hal yang demikian,” ujar Sujaya.

Dijelaskan jika kejadian aneh ada beragam cerita. Mulai dari adanya seorang ibu-ibu berpakaian putih datang menghampiri beberapa pekerja. “Waktu malam pas kami lembur, ada ibu-ibu datang. Karena ada orang datang ya, hanya disapa saja,” jelas Sujaya menuturkan.

Kemudian dia bersama beberapa tukang lainnya bingung, kenapa malam-malam ada ibu tua datang ke proyek. “Dan kalau pun sudah malam, tamu pasti sudah di-stop satpam di depan pintu masuk proyek,” jelasnya keheranan.

Saat itu memang belum ada apa-apa. “Saat kejadian itu kami meningkatkan doa saja dulu,” jelas Sujaya yang biasa pulang lembur sampai jam 2 pagi itu.

Pernah juga, ada seorang perempuan tua tiba - tiba duduk di atas jangkar ponton di tengah laut. Si Pekerja yang melihatnya langsung lari untuk melaporkan kepada mandornya. Tapi, belum jauh pekerja itu berjalan, saat dia menoleh lagi perempuan itu sudah hilang.

“Aneh jangkar ponton itu kan di tengah laut, pas pasang lagi, kok bisa duduk di sana. Tapi ketika mau dilaporkan ada orang duduk di atas jangkar, sudah hilang,” kata Ngadino, pengendali proyek JPD paket 3, menceritakan kisah penampakan itu.

Selain itu, Sujaya juga sempat mendengar cerita aneh dari sopirnya. “Ini sopir saya juga dengar suara wanita menangis waktu malam juga,” jelasnya. Saat itu sopirnya menunggui Sujaya lembur dan tidur di atas patung Ngurah Rai atau sebelum masuk pintu tol paket 3.

“Pas tidur, dia dengar ada suara cewek menangis merintih. Apa karena patung Ngurah Rai-nya ditiduri jadi dia dengar orang menangis,” ujar Sujaya sambil tertawa.

Dan kejadian aneh kerap berlangsung beberapa kali. Seperti hembusan angin sangat kencang secara tiba-tiba dalam waktu sekian detik. “Ya kalau angin berhembus kencang sekali, biasa terjadi. Tapi kami anggap di luar kewajaran, karena kalau angin laut biasanya berhembus kencang mulai dari pelan sampai keras lalu berhentinya juga melambat,” ujar Sujaya.

Kebetulan saat wawancara dengan Sujaya di tenda tol, angin kencang keras itu datang seperti menyapa. “Tenda pernah lepas dengan angin mendadak seperti ini,” katanya, Senin (3/12/2012).

Dan kejadian aneh terakhir adalah patahnya tiang pancang tol. “Kejadian paling mustahil adalah tiang pancang patah,” ujar Sujaya.

Menurutnya kualitas tiang pancang ketika keluar dari pabrik kondisinya sudah standar. “Tiang sampai patah itu mustahil terjadi, makanya kami bingung,” jelasnya.

Tapi ini benar-benar terjadi. Pemasangan tiang sampai patah. Beruntung tidak menimbulkan korban jiwa. “Baru akan menancapkan pancang menggunakan Ponton, langsung retak dan patah. Selama memasang tiang pancang di beberapa daerah belum pernah sampai ada kejadian tiang pancang patah,” ujar pria yang sudah melalang buana menggarap proyek besar di Indonesia itu.

Dengan patahnya tiang pancang, maka pihak Pimpro pun melangsungkan rapat bersama. “Pasca patah, kami percaya bahwa ada hal yang harus dihargai. Makanya mulai itu kami mecaru (pembersihan secara niskala/alam tak nyata) kecil. Dan di depan pintu tol juga diberi semacam palinggih (sanggah) sementara atau Turus Lumbung tempat mebanten (menghaturkan sajen).

“Kami pun setiap hari, bagi tukang atau petugas yang beragama Hindu mebanten di sana. Dan yang bukan orang Bali, kami imbau untuk banyak berdoa. Karena tanah Bali ini sangat suci,” pungkas pria kelahiran Buleleng itu. Setelah itu, tidak ada lagi kejadian aneh yang ditemui para pekerja. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news