Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Hakikat Kehidupan dan Kematian (1)

01 Januari 2020, 08: 53: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hakikat Kehidupan dan Kematian (1)

Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Manusia harus mengetahui jati dirinya hidup. Bila tak mengerti dan memahaminya,  akan banyak keterikatan yang akan membelenggu kehidupan.

Lahir, hidup kemudian mati, banyak  kisah yang harus dilalui manusia.  Sakit, senang, kegagalan hidup, tua, dan akhirnya meninggal. Hal itu pun berulang sampai ribuan hingga jutaan kali oleh diri yang sama dengan badan berbeda. Namun, dilematisnya tidak semua manusia bisa meningkatkan diri agar bisa lepas dar kelahiran berulang itu (Punarbhawa).


Punarbhawa adalah salah satu dari lima dasar keyakinan umat Hindu (Panca Sraddha). Proses ini dilalui oleh atma sampai jutaan kali, sebelum bisa Moksha.
Diakui dosen di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi,  orang  seringkali lupa siapa jati dirinya, sehingga hal inilah yang mengikat hidupnya penuh rasa ketakutan, bahkan sampai ajal menjemputnya. Hal tersebut terjadi, lanjutnya, karena kurang pahamnya manusia dengan esensi hidup.


“Esensi hidup, esensi kita dilahirkan di dunia itu  harus diketahui dulu. Dalam Hindu, hakikat dilahirkan sebagai manusia adalah untuk memperbaiki diri, agar bisa mencapai kesempurnaan, yaitu Moksha,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) saat ditemui di rumahnya Banjar Ambengan, Peguyangan Kangin, Denpasar, akgir pekan kemarin.


Dikatakannya, jika mengetahui Moksha sebagai tujuan hidup, maka sebagai manusia mesti   mengenal esensi keberadaan diri. Manusia ada, karena beliau (Ida Sang Hyang Widhi). “Kita adalah replika beliau, atma adalah percikan kecil dari Tuhan yang ada pada setiap makhluk hidup. Jadi, kita ada karena beliau,” paparnya.


Ditambahkannya, sebagai manusia yang paham bahwa hidup di dunia adalah replika atau percikan kecil dari Tuhan, maka  sebagai manusia  harus sadar.  Sadar sepenuhnya, untuk bisa 'manunggal' (menyatu) kembali dengan Tuhan.

“Diharapkan jika sudah mengenal esensi tujuan hidup dan keberadaan diri, maka  orang itu sudah bisa mencapai kesadaran yang sempurna,” ungkapnya.
Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi menyebut dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dimuat, jika seorang sadar akan jati dirinya, maka ketika itu dia akan menjadi orang suci.

Tak disanggahnya, proses mengenal hakikat hidup, bukanlah mudah. Dalam mengenal esensi hidup manusia harus belajar dan belajar. Tidak hanya mendengar, maka seorang bisa langsung paham esensi hidup. Usai belajar, selanjutnya adalah mempraktikkannya. “Kalau hanya belajar, semua orang tentu bisa. Walau sudah ahli  tentang esensi hidup, tanpa praktik, maka itu hanya bisa diterapkan di otak kita saja,” tegasnya.


Dalam ajaran Hindu, lanjutnya,  ada konsep dengan nama Sadana Telu, yakni tiga hal yang bisa digunakan oleh umat Hindu untuk mengenal esensi hidup ini dengan baik.


Prof Dr I Wayan Suka Yasa menjelaskan secara garis besar, hal pertama yang sebaiknya dilakukan sebagai manusia Hindu adalah memahami dan memperluas pemahaman hidup. Mempelajari filosofi agama, pengetahuan tentang kerohanian, tattwa dan lainnya tentang filsafat hidup. “Tidak terbatas hanya ketika masa Brahmacari saja, sampai Grehasta, hingga Wanaprastha juga sebaiknya dilakukan. Saya pun seusia ini juga harus tetap belajar,” ucapnya.


Tahap kedua  dengan mempraktikkan pemahaman filosofi agama melalui yoga. Yoga ini dijadikan latihan untuk merealisasikan apa yang telah dipelajari sebelumnya. Tujuan berlatih yoga adalah untuk mendapatkan pengalaman spiritual. “Percuma kan belajar tanpa dipraktikkan, kan hanya teori saja jadinya,” tegasnya lagi.


Pengalaman spiritual bagi Prof Dr I Wayan Suka Yasa adalah hal terpenting yang sebaiknya bisa didapatkan oleh seorang manusia jika ingin menemui kesadaran dalam hidup ini. Tanpa pengalaman spiritual, seseorang akan masih memiliki keraguan akan apa yang ia pelajari.


Proses ketiga atau yang terakhir adalah belajar melepaskan ikatan duniawi. Pengalaman spiritual yang didapatkan akan membuat pandangan hidup manusia mulai berubah. Lalu, apakah melepaskan ikatan duniawi harus hidup tanpa harta dan lainnya?


Dikatakannya,  melepaskan ikatan duniawi bukan berarti hidup tanpa materi. Menurutnya, itu tidak bisa serta merta dilakukan. Sebagai manusia, melepaskan ikatan duniawi bisa dilakukan melaui hal-hal kecil terlebih dahulu. “Tidak bersedih saat burung kesayangan mati misalnya, cukup urus  dengan baik, dikubur dan didoakan. Itu sudah berarti kita mulai melepaskan keterikatan. Kalau kita menangis sampai berduka, itu artinya kita sangat terikat sekali,” paparnya.
Sebab, lanjutnya, seseorang yang mengerti esensi hidup, akan tahu bahwa makhluk hidup akan mati. Tidak ada yang abadi.


Tidak hanya pada hewan kesayangan, pada saat kehilangan keluarga karena meninggal, atau kehilangan harta benda tidak boleh  sedih berlarut. “Ingatlah tujuan dan keberadaan diri di dunia, sesungguhnya adalah kembali menyatu dengan beliau (Tuhan) melalui Moksha, agar kita tidak kembali lahir ke dunia,” pungkasnya. Tapi, kenapa manusia sangat takut akan kematian? Baca tulisan berikutnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia