Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Bisnis

Hujan Hambat Produksi Garam di Amed, Sediakan Stok 40 Ton

03 Januari 2020, 13: 50: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hujan Hambat Produksi Garam di Amed, Sediakan Stok 40 Ton

PETANI GARAM: Petani garam Amed, di Banjar Lebah, Desa Purwakerti, Abang, siapkan stok 40 ton untuk 2020. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Memasuki musim hujan, petani garam Amed di Banjar Dinas Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem mulai kesulitan mengolah air laut menjadi garam. Sebab pengolahan garam memang mengandalkan sinar matahari.

Praktis, petani garam Amed sementara rehat dari aktivitas produksi garam. Mereka akan kembali berproduksi jika musim hujan berakhir. Kendati demikian, petani garam setempat sudah mengantisipasi permasalahan tahunan itu dengan menyediakan stok 40 ton garam kering. Jadi kebutuhan garam di tahun 2020 masih aman.

Ketua kelompok petani garam Banjar Lebah I Nengah Suanda mengakui, dia dan anggota tak bisa produksi garam dengan sempurna karena cuaca yang tidak menentu. Hujan kerap turun sejak pertengahan Desember 2019.

Menurutnya persoalan ini biasa bagi petani. Makanya petani garam di Amed menyiasati supaya produksi dikebut pada tahun 2019 lalu. Sehingga stok di tahun 2020 aman. "Memang kerja kami begitu. Kebutuhan tahun ini dikerjakan setahun sebelumnya. Antisipasi kendala produksi. Stok tahun ini bisa sampai akhir tahun," ungkap mantan kelian Banjar Dinas Lebah ini, Kamis (2/1).

Jumlah itu kemungkinan bisa bertambah seiring dengan permintaan yang juga bertambah. "Kalau ada waktu bisa saja produksi. Tapi untuk saat ini masih mencukupi untuk permintaan rutin," katanya.

Sejauh ini permintaan garam Amed cukup stabil. Petani pun semakin antusias berproduksi. Ada sekitar 24 orang masih bertahan sebagai pembuat garam di Banjar Lebah. Mereka tergabung dalam kelompok Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis. 

Masing-masing bisa memproduksi puluhan kilogram per hari. Jumlah itu juga tegantung dari kondisi cuaca. Satu kilogram bisa dijual Rp 30 ribu. Jika pengiriman jauh, maka per kilogramnya bisa dihargai Rp 40 ribu. Pemasaran masih di dalam negeri. Jika di luar Bali, pengiriman paling jauh ke Jakarta.

Proses produksi garam Amed masih mempertahankan gaya tradisional. Konon proses tersebut sudah ada sejak abad ke-15. Alat jemurnya menggunakan palungan atau batang pohon kelapa dibelah dua. Ini menjadikan kualitas garam Amed disegani hingga ke luar negeri. Rasanya gurih dan tidak meninggalkan rasa agak pahit. Tidak heran kelompok petani garam berhasil memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual, Kemenkumham.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia