Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (17)

Naikkan 10 Batang Tiang Pancang Tol Bali Mandara, Butuh Waktu 2 Jam

04 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Naikkan 10 Batang Tiang Pancang Tol Bali Mandara, Butuh Waktu 2 Jam

PASANG RANTAI: Memasang rantai pengikat beton biar tidak lepas ketika truk trailer berjalan. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

PASURUAN, BALI EXPRESS - Setelah mengikuti proses olahan dan mencetak tiang pancang, sehari berikutnya ada kabar bahwa, tiang pancang buatan PT Wika Beton, di Gempol, Pasuruan akan dikirim ke Bali untuk proyek Tol Bali Mandara. Satu tronton akan membawa sepuluh batang tiang pancang. Tiang ini sendiri beratnya 4,8 ton per batang.

Matahari sedang terik di daerah Gempol. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Penulis masuk ke kantor PT Wika Beton, tentunya dengan proses pemeriksaan. Kemudian dapat satu helm bertuliskan tamu, id card tamu dan tentunya wajib menggunakan sepatu. Sumarto, petugas yang ngurusin pengiriman tiang pancang, masih sibuk di ruang kerjanya yang dekat dengan musala itu.

Setelah menunggu beberapa saat, tangannya menyambar helm. “Ayo ke belakang, sudah proses menaikkan ke truk trailer,” ujar pria berkumis, yang sudah bekerja di PT Wika dari tahun 1987 itu.

Berjalan menuju lokasi menaikkan tiang pancang, aspal di lokasi itu terlihat mamantulkan fatamorgana. Panas memang panas, sehingga rata - rata pegawai di lokasi pembuatan beton itu kulitnya hitam legam. Lokasi penaikkan tiang pancang dari ruang Sumarto, sekitar 100 meter. “Luas kantor ini 12,5 hektare,” ungkapnya sambil menyeka keringat di pipinya, yang hampir menetes ke baju batik birunya.

“Nah ini yang akan dikirim ke Bali,” kata dia sambil menuding ke truk dengan plat L 9190 UQ.

Setelah dekat, sang sopir langsung menyapa. “Mau ikut ke Bali?” sapa Kusyanto, pria asal Pasuruan yang sudah 9 kali bolak - balik mengantar tiang pancang ke Bali. Dia mengatakan dari Gempol saja 7 kali, dari Kerawang Jawa Barat 2 kali. Dia juga menjelaskan, kalau perjalanan dari Kerawang, Jawa Barat butuh waktu satu minggu untuk sampai balik ke tempat parkir trailer di Surabaya. Namun jika dari Gempol, butuh waktu sampai 4 hari.

Kusyanto ikut berada di atas trailer, untuk membantu dua personel PT Wika menaikkan tiang pancang. Proses menaikkan dengan pola bridge crane. Yaitu dengan pola portal dan crane hois. Trailer di posisi diam, namun berada di antara dua rel portal. Nantinya portal yang bergerak dari posisi tiang pancang yang ditumpuk di areal terbuka milik PT Wika. Setelah diangkat dua tiang pancang, portal diarahkan menuju trailer.

Butuh waktu dua jam lebih untuk menaikkan 10 batang tiang pancang. Syarat untuk keamanan tiang pancang juga ada beberapa yang harus dipenuhi. Pengawas dari pihak pengangkutan tiang pancang, Windarko mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar tiang pancang aman sampai tujuan. Pertama wajib menggunakan balok - balok kayu yang bagus, untuk alas antara satu tidang dengan tiang yang di atasnya. “Kalau kayunya sudah lapuk, banyak pecah. Saya suruh sopirnya beli kayu lagi yang bagus, kalau kayunya pecah di jalan. Tiang pancang bisa bergeser, ini bahaya bisa ambruk dan menimpa pengguna jalan lainnya. Apa apa jadinya tiang 4,8 ton menimpa orang,” kata pria yang terus mengawasi proses menaikkan tiang pancang itu.

Kemudian wajib membawa sabuk pengikat, nantinya mengingat antara satu tidang dengan yang lainnya. Wajib juga menggunakan minimal 5 rantai besi, yang fungsinya mengikat 10 tiang menjadi satu, sebanyak 3 rantai. Kemudian dua rantai mengikat tumpukan tiang dengan badan trailer. Pecahan kayu kecil juga harus ada, untuk ganjal tiang agar tidak bergeser. “Syarat terakhir sopir wajib hafal jalan menuju Bali. Karena ini penting agar tahu medan. Kalau belum pernah ke Bali, jangan harap diberikan membawa tiang pancang,” ujarnya.

Setelah satu trailer selesai terisi, Kusyanto menjalankan mobilnya. Giliran trailer yang dikendarai oleh Muhamad Mufid yang masuk pengisian tiang pancang. Untuk hari itu, ada dua trailer yang berangkat ke Bali. Masing - masing membawa 10 batang tiang pancang. Proses yang dilakukan Muhamad Mufid juga sama dengan Kusyanto. Sekitar pukul 18.30 WIB, dua trailer sudah siap meluncur ke Bali. Namun lantaran di gudang ada perbaikan jalur keluar, akhirnya jalur alternatif keluar yang ditempuh. Tetapi sayang, ternyata jalur itu terhalang truk pengangkut semen cair. Sehingga menunggu sampai semen cair itu selesai disalurkan. Butuh waktu sekitar 35 menit baru truk trailer yang ke Bali bisa meluncur.

Penulis ikut naik truk yang dikendarai oleh Muhamad Mufid. Pria kelahiran 1961 ini terlihat bermandikan keringat, karena banyak menguras energi dalam proses penaikkan tiang pancang. Tangannya menepuk-nepuk bajunya yang penuh debu sebelum mulai menjalankan truk trailer warna hijau itu.

Yang beda naik mobil biasa dengan mobil trailer ini adalah guncangannya. Sebab, sepanjang perjalanan tempat duduk di depan seperti naik kuda.

Bahkan jika jalan rusak, apalagi melintas di jalan berlubang, pantat dihentakkan naik, cukup tinggi. “Ini bedanya, kasihan nanti capek. Jalannya memang gini, anjut-anjutan. Jelas sulit tidur nantinya,” kata Mufid, sambil menjalankan trailer dengan beban bawaan 48 ton itu.

Kecepatan yang bisa digenjot hanya 40 kilometer per jam. Bahkan jika jalan tanjakkan harus pelan - pelan. Namun sayang, belum sampai perjalanan 30 menit, ban trailer Mufid kempes. Dia menelpon Kusyanto mengatakan kalau ban mobilnya kempes. “Aku harus ngeban dulu,” kata Mufid, usai mengecek satu bannya yang bocor. Ngeban adalah istilah bagi para sopir, kalau mau menambal ban.

Meski ban truknya bocor satu, tapi masih bisa dijalankan hingga menemukan tambal ban yang bagus, di daerah Pasuruan. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya, Mufid menemukan tukang tambal ban di Jalan Raya Raci. Penulis dapat satu pengetahuan baru, ternyata untuk tahu ban kempes untuk ban mobil jumbo seperti itu, bukan dengan cara ditekan menggunakan jari seperti ban sepeda motor. Cara yang digunakan adalah dengan memukul dengan besi, jika bunyinya tung.. tung.. tung nyaring, ban masih bagus. Tapi kalau dipukul bersuara peg… peg… peg, itu tanda ban ngembos.

Turun di jalan Raya Raci, Kusyanto langsung mengejek Mufid. Dia bilang Mufid tidak keramas sebelum perjalanan jauh menuju Bali. “Ini nggak keramas, belum apa - apa sudah ngeban,” ledek Kusyanto sambil membantu melepas ban ukuran raksasa itu. Kali ini Mufid dan Kusyanto kembali mengeluarkan keringat, untuk memasang dongkrak jumbo dan melepas ban.

Ternyata setelah dicek oleh bengkel tambal ban, ada satu potongan baja yang menusuk ban trailer yang dikendarai oleh Kusyanto. Sambil menunggu ban ditembel, mereka makan malam. Kusyanto dan Mufid menunya sama, yaitu mie kuah plus nasi putih. Setelah itu minumnya adalah kopi hitam, selain juga mereka sudah mempersiapkan air mineral dengan botol paling besar di truk masing - masing. Makan sudah, ban sudah prima. Perjalanan lanjut, sekitar pukul 21.30 trailer digeber lagi. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia