Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (18)

Kirim Tiang Pancang, “Perang” Dimulai, Kernet Loncat, Warga Histeris

05 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kirim Tiang Pancang, “Perang” Dimulai, Kernet Loncat, Warga Histeris

ANGKUT TIANG PANCANG: Truk pengangkut tiang pancang proyek Tol Bali Mandara dari PT Wika Beton Gempol ke Bali. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALURAN, BALI EXPRESS - Cobaan pertama perjalanan dari Pasuruan ke Bali berhasil dilewati. Mufid dan Kusyanto yang masing-masing mengangkut 10 batang tiang pancang untuk proyek Tol Bali Mandara melanjutkan perjalanan menembus malam. Karena jam menunjukkan waktu pukul, 21.30 WIB, lalulintas masih cukup ramai.

Lagu milik band terkenal di Indonesia, Padi, mengalun merdu dari radio truk trailer yang dikendarai Mufid. Lirik lagu berjudul Jangan Datang Malam Ini, mengiringi perjalanan setelah ngeban. Dalam perjalan sekitar 20 menit, Mufid menelepon kakaknya bernama Muhamad Syahroni. “Ayo nang Bali,” ajaknya lewat telepon. Akhirnya kakaknya menunggu di pinggir jalan masih di ruas Jalan Raya Raci. Syahroni naik sebagai kenek, sekaligus ingin jalan - jalan ke Bali. Dia membawa tiga butir durian yang dibungkus kardus.

“Saya tahun 1983 pernah ke Bali sekali, setelah itu tidak pernah lagi,” kata dia sambil naik trailer.

Sedangkan Kusyanto, mengganti keneknya yang adalah iparnya bernama Saiful. Perjalanan panjang tidak ada hambatan, pelan tapi pasti, sekitar pukul 11.30 WIB truk memasuki wilayah Probolinggo, Jawa Timur. Sebelum melanjutkan perjalanan, Mufid dan Kusyanto berhenti sebentar untuk ngopi, sambil mengecek posisi tiang pancang, kemudian lanjut lagi perjalanan. Sekitar pukul 02.28 WIB, truk kembali berhenti di Situbondo. Kali ini mereka santap nasi pecel, minumnya tetap sama, kupi hitam.

Memang bagi penulis, cukup aneh kalau makan nasi dengan minum kopi hitam. Sepertinya nasi tidak mau mulus turun ke lambung. Perjalanan belum membuat mereka capek, lanjut lagi duet trailer ini kembali menyusuri jalan, yang mulai sepi. Sehingga lebih leluasa mengendarai trailer sarat beban itu.

Pukul 04.15, dua trailer ini memutuskan untuk rehat di sebuah SPBU di Situbondo. Tepatnya di Desa Lamongan Arjasa. Mufid mengeluarkan lembaran karung, bantal dan sarung. Sedangkan Kusyanto mengeluarkan karpet plastik, bantal dan sarung. Apa yang mereka lakukan? Ternyata mereka memilih tidur di kebun SPBU itu. “Saya tidak bisa tidur di truk,” kata Kusyanto.

Sekitar pukul 07.30 Kusyanto bangun dan membangunkan Mufid. Kali ini langsung mengambil perlengkapan. Kotak plastik yang berisi sikat gigi, odol dan sabun. Handuk yang terlihat sudah lusuh itu disambar, mereka langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan sehingga lebih segar melanjutkan perjalanan. Mandi kilat selesai. Lalu, ban trailer kembali dipukul - pukul dengan besi. Hasilnya semua bersuara nyaring, tung… tung... tung. Artinya ban tidak ada yang bocor.

Lanjut jalan, meninggalkan Situbondo sampai akhirnya singgah makan pagi pukul 09.30 persis sebelum masuk Alas Baluran. Kali ini menu makan lebih lengkap. Bahkan warung ini sepertinya memang langganan para sopir truk, bahkan banyak plat DK (plat nomor polisi Bali) parkir di situ. Dan sudah terdengar percakapan mereka menggunakan bahasa Bali. “Rage uli Buleleng, ambil barang untuk Denpasar,” ujar Gede Putra salah satu sopir yang menuju Bali juga.

Usai makan, kembali posisi tiang pancang dicek. Ada beberapa ganjal dari tiang pancang yang lepas, sehingga wajib lagi dipaku untuk tetap menahan tiang pancang tidak goyang. “Ayo jalan,” kata Mufid ke Kusyanto, lebih dulu mengambil posisi.

Sampai akhirnya melewati  Papan Pusdik Marinir, Baluran. “Saatnya perang. Bagi sopir trailer di sini tempatnya perang,” kata Mufid. Perang yang dimaksud Mufid adalah akan ada jalan tanjakan yang cukup berat di depan mata. Bukan perang karena akan melewati Pusdik Marinir. “Perangnya sopir trailer inilah, tanjakan,” kata Mufid masih bisa senyum. Namun tak sampai beberapa ratus meter, wajahnya mulai tegang.

Tangannya mulai memainkan perseneleng, suara trailer mulai keras namun jalannya tetap pelan. Bahkan lebih pelan dibanding kita berjalan kaki. “Intinya bisa jalan, tanjakan pasti tidak bisa cepat,” lanjutnya.

Sampai akhirnya tanjakan lebih tinggi, kali ini wajah Mufid lebih tegang. Perseneleng atau gigi kecil sudah disiapkan, suara trailer sudah seperti sangat berat. Saat posisi di tengah - tengah tanjakan, trailer seperti batuk – batuk. Guncangan di depan sudah keras, hingga akhirnya mobil berhenti. Apesnya lagi malah ngatrek atau mundur. ”Masyaallah, gigi C nggak mempan,” cetusnya, dan benar truk tambah ngatrek.

Mufid mengeluarkan intruksi yang tidak boleh dibantah. “Loncat... loncat… loncat ambil batu,” teriaknya, wartawan koran ini sama Syahroni, sang kernet, sepecat kilat membuka pintu dan loncat seperti aksi di film - film. Warga sekitar yang menyabit ikut tiarak histeris ketakutan. Kemudian mereka berinisiatif membantu mengatur lalu lintas.

Setelah loncat sempat terhuyung - huyung, hampir lewat ke semak - semak, Syahroni lebih sigap urusan ini. Batu ukuran besar diraih, dan dilempar ke ban trailer. Drraakkkk suara keras, trailer tehentak diam oleh batu itu. Kali ini kembali trailer mengambil nafas, bruum... brumm… brumm... mulai jalan, batu terpental ke belakang. Trailer mulai berjalan, pelan namun tidak bisa berhenti untuk menaikkan Syahroni dan penulis. “Naik!” perintah Mufid.

Syahroni dan Koran ini pun bergantian meloncat ke atas trailer yang tetap berjalan pelan. Karena harus loncat, tangan menggapai gagang pintu, gelantungan dan baru naik ke jok. Setelah giliran membantu Syahroni, yang nafasnya terengah - engah harus ditarik naik ke jok depan trailer itu. Trailer berhasil jalan, namun beberapa tanjakan masih di depan mata. Tetapi kali ini pengalaman berhasil meloloskan diri dari maut, walapun sempat loncat lagi. Tanpa mengambil bantuan batu, triler bisa jalan.

Apa itu gigi C? Mufid menjelaskan trailer sebesar ini ada gigi C, perseneleng di bawah gigi satu. Mereka juga menyebutkannya gigi setengah, artinya tarikannya lebih kuat ketimbang gigi satu. Penulis sempat berseloroh agar tidak tegang, kalau di bahasa Bali-kan gigi setengah itu artinya gigi pongek atau kepeh, gigi yang tinggal setengah menyembul di gusi setelah terhantuk batu atau aspal saat jatuh. Mufid dan Syahroni mulai bisa tertawa kecil saat diajak bercanda soal gigi C alias gigi setengah alias gigi pongek dalam bahasa Bali. Namun Mufid mengatakan, jalur Gilimanuk - Denpasar jauh lebih mengerikan. Tanjakannya banyak plus bonus tikungan tajam. Dibanding alas Baluran. Setegang apa? Ikuti cerita selanjutnya. (*)

 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia