Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features
Sejarah Pembangunan Tol Bali Mandara (20)

Pengangkutan Tiang Pancang Diiringi Teriakan, Umpatan Silih Berganti

07 Januari 2020, 05: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pengangkutan Tiang Pancang Diiringi Teriakan, Umpatan Silih Berganti

MASUK BALI: Perjalanan mengangkut tiang pancanang dari Gilimanuk ke Denpasar adalah yang paling menegangkan. (JASAMARGA BALI TOL FOR BALI EXPRESS)

Share this      

GILIMANUK, BALI EXPRESS - Jalur yang paling menegangkan dalam mengangkut tiang pancang dari Pasuruan ke Bali untuk Proyek Tol Bali Mandara sebenarnya terjadi di jalur Gilimanuk-Denpasar. Beberapa kali tronton atau trailer terguling di jalur yang sering disebut “jalur tengkorak” atau “jalur setan”. Peristiwa ini terjadi sebelum ada shortcut Denpasar-Gilimanuk. Karena Tol Bali Mandara dibangun tahun akhir 2011-2013.

Setelah makan, Mufid dan Kusyanto, dua sopir trailer pengangkut tiang pancang dari Pasuruan, Jawa Timur ke Bali melakukan pengecekan rantai - rantai pengikat tiang pancang. Ada ganjel kayu yang lepas, kembali dipaku. Cukup lama juga mennggu pukul 21.00 wita untuk berangkat dari Gilimanuk ke Denpasar. Sampai akhirnya patwal Polisi Polres Tabanan menyuarakan sirine dan memanggil serta mengumumkan bahwa, trailer siap berangkat. Mereka akan berangkat menuju Denpasar. Terkait dengan jadwal pukul 21.00, itu karena ada Pergub yang mengamanatkan bahwa trailer atau truk panjang tidak boleh masuk Denpasar ketika lalau lintas masih padat di Denpasar. Padahal, trailer ini sudah berada di Gilimanuk sejak pukul 14.30 Wita.

“Perjalanan menegangkan dimulai,” celetuk Kusyanto sambil menenggak air mineral, kemudian berkumur dan mennyemprotkan air itu ke jalan.

Ini dia lakukan tiga kali berturut - turut sambil truk berjalan pelan.

Kenapa menegangkan? Kusyanto mengatakan, dia sudah 9 kali bolak - balik khusus membawa tiang pancang di “Jalur Tengkorak” Gilimanuk-Denpasar. Kemudian puluhan kali bolak - balik trailer ke Bali, dengan membawa muatan lain untuk proyek lain sebelum pembangunan tol Bali ini. Dia mengatakan jalur dari Jakarta, Jawa Barat sampai Ketapang sebenarnya tidak ada apanya, dibanding jalur Gilimanuk- Denpasar, atau yang sering disebut juga “jalur setan”. Bagi sopir trailer, jalur ini tantangan luar biasa. Ditambah lagi jalan kadang rusak dan memang tidak ada penerangan jalan.

”Sangat mengerikan, sangat mengerikan. Jalurnya turun, kemudian belok tajam. Mematikan jalur ini,” ujar bapak satu anak ini.

Setelah ritual kumur air, Kusyanto mengambil minyak angin lalu dioleskan di garis hidung dan di handuk yang digenggamnya. Sebelum mulai masuk jalur berat, handuk itu dihirup bau minyak anginnya. “Sekarang masih santai, nanti di Melaya yang mulai ada tanjakan,” kata dia.

Kecepatan truk bisa di atas 40 kilometer perjam, namun goncangan sudah luar  biasa apalagi ada jalan rusak. Perjalanan masih aman, Kusyanto masih bisa ngobrol. Namun Saiful, sang kernet terus awas, terhadap kendaran yang parkir di samping kiri. Jika ada kendaraan parkir di samping kiri Saiful langsung berujar “Mobil kiri.”

Hingga rintangan pertama didapatkan di daerah Melaya, Jembrana, jalan tanjakkan mulai terjal. Trailer yang dipegang Kusyanto mulai sedikit ngos - ngosan. “Ini sudah gigi C, jadi pasti bisa, tapi pelan,” kata Kusyanto. Lajunya sangat pelan. Rintangan pertama lewat, setelah itu melewati sebuah turunan. Laju trailer diikuti bunyi rem angin mendesis. Turunan pertama lolos. Hingga masuk ke turunan kedua. Kali ini laju kendaraan juga lumayan cepat.

Kusyanto tidak tahu ada lubang besar di jembatan. Baru sadar ketika dia memasang lampu jauh, terlihat lubang menganga akan mengguncang trailer. Sedangkan sisi kanan bus malam dengan laju cepat. Kusyanto, Saiful berteriak tanda bahaya. ”Aduh…ya Allah. Ya sudah….” teriak Kusyanto membuat suasana benar - benar tegang. Dalam hitungan detik, roda kiri trailer masuk lubang, sempat mau mengelak ke kanan namun tidak bisa karena ada bus malam.

Truuuuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkk… Suara beton beradu sesama tiang pancang di belakang. Seisi barang di ruang sopir trailer itu loncat, bahkan satu bungkus  rokok Kusyanto mental ke arah muka penulis. Gonjangan hebat dan sangat keras terjadi. Saiful langsung melihat ke belakang, untukmelihat posisi tiang apakah masih aman. “Gimana Ful….tiang aman?” tanya Kusyanto. ”Aman mas,” jawab Saifuil.

Truk trailer berjalan sedikit dipelankan. Terlihat Kusyanto seperti menghela napas panjang. Tangannya meraba-raba untuk mengambil rokok. Jelas itu untuk mengendorkan ketegangan. Rokok dinyalakan, asap mengepul dari mulut pria yang kurus tinggi itu. Hingga akhirnya masuk daerah Jembrana timur, beberapa tanjakan berat dialami. Situasi tak kalah menegangkan terus terjadi. Bahkan sempat hampir menabrak anak-anak yang naik sepeda. Sebab dengan santai anak itu menaikkan ban depan sepeda itu persis sekitar beberapa belas meter di depan trailer yang mengangkut tiang pancang berbobot 48 ton.

“Yang paling takut saya adalah sepda motor dan sepeda macam anak ini. Jadi aneh kan, trailer takut sama sepeda motor. Takut saya menyenggol maksudnya,” kata Kusyanto sambil mengusap mukanya.

Masuk daerah Tabanan, kembali ada tanjakan di Langlang Linggah. Beberapa tanjakan yang cukup berat oleh trailer. Seperti di kawasan Soka dan lainnya. Sampai akhirnya di daerah Bajra. Ini sangat menakutkan. Karena dari arah berlawanan ada bus malam yang sempat menyambar - nyambar, seperti sudah menabrak trailer. Ini terjadi lantaran trailer harus mengambil jalur sebelah  karena saking panjangnya. Pada saat tikunmgan itu, bus malam ngebut. Penulis sudah menutup muka dengan tangan. Semua teriak di atas trailer itu. “Tenang - tenang Mas,” ujar Kusyanto menepuk - nepuk paha koran ini, mencoba menenangkan.

Rasanya seperti main game naik mobil dengan pola tiga dimensi. Namun ini kenyataan, papasan dengan sesama truk, dengan bus malam memang tak jarang hampir nabrak. Umpatan kemarahan Kusyanto dan Saiful juga terus terdengar dan mereka juga sangat tegang.

Masuk tikungan dan tanjakan Megati, malahan hampir nabrak motor dan bus malam. Kemudian di daerah Samsam Tabanan juga nyaris beradu dengan bus malam. Sampai akhirnya masuk Kota Tabanan, Kusyanto menepi ke pinggir jalan. Dia menghela napas. Tampak sekali dia benar-benar lega. ”Akhirnya jalur tengkorak lewat, mengerikan,” celetuknya sambil menenggak air.

Dalam perjalanan dari Bypass Kediri menuju Denpasar itu, baru bisa ngobrol lepas. Dia mengatakan beberapa kali ada trailer tiang pancang nyungsep. Ini karena memang jalurnya sangat menakutkan dan kadang tidak awas melihat rambu jalan. Selain sampai menelan korban, sempat juga membuat macet total sehari penuh. Nyungsep, kemudian berusaha mundur malah gandengan tiang pancang itu mnelintang dan roboh. “Orang yang di barat balik cari hotel di daerah Jembrana, yang di timur balik juga. Ini membuat sehari penuh macet,” urai Kusyanto.

Dia juga mengatakan, kalau nasib tidak bagus, situasinya akan menjadi petaka. Jika jatuh ke jurang jelas ancaman nyawanya. Namun kalau trailer menyenggol orang bisa membuat orang mati, apalagi sampai tiang pancang ini lepas. “Kalau lepas habis saya. Bayangkan 48 ton. Kalau lengah masuk jurang saya mati, bisa juga saya lengah bunuh orang karena kesenggol. Risiko memang, tapi mau apalagi ini pekerjaan saya,” ceritanya sambil kembali menyulut rokok.

Sampai akhirnya di jalan Mahendradatta atau Jalan Kargo, Denpasar, mereka berhenti membeli ayam goreng lalapan. Mereka bungkus untuk dibawa ke lokasi di Pelabuhan Benoa. Perjalanan menyusuri Jalan Mahendradatta hingga masuk Jalan Imam Bonjol - Jalan Sunset Road hingga Bypass Ngurah Rai dan masuk pelabuhan Benoa. Tiang yang mereka bawa adalah tiang milik PT Waskita yang mengerjakan paket II, yaitu di tengah laut.

Setelah posisi parkir, mereka turun dan mengambil ayam goreng tadi. Semua makan ramai - ramai termasuk Koran ini. Sungguh senangnya, walaupun baru sampai pukul 03.00 pagi. Perjalanan mengerikan terlewatkan. “Besok jam 8 pagi baru tiang ini diturunkan, kemudian saya menunggu sampai malam lagi baru bisa balik sampai Surabaya, mau ikut lagi? Seru kan?” seloroh Kusyanto sambil tersenyum. (*)

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia