Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Features

Tim BPBD Sakit Kewanian, Sembuh setelah Menari Kelilingi Pohon Wani

07 Januari 2020, 20: 21: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tim BPBD Sakit Kewanian, Sembuh setelah Menari Kelilingi Pohon Wani

RITUAL MENARI: Tim TRC BPBD Buleleng saat menari sembari mengitari pohon wani dengan menggunakan topi kukusan untuk mengobati sakit kewanian setelah memotong pohon wani pada Selasa (7/1) pagi. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng nampaknya tidak luput dari hal-hal berbau klenik. Percaya atau tidak, sebanyak empat orang Tim TRC mengalami “Kewanian” setelah menebang Pohon Wani yang tumbang di Desa Pegadungan, Kecamatan Sukasada. Seperti apa?

 

I PUTU MARDIKA, Sukasada

 

SELASA (7/1) pagi itu cuaca Kota Singaraja sedikit mendung. Tim Reaksi Cepat BPBD Buleleng sudah berkumpul untuk apel pagi di Kantor BPBD. Seusai apel, tim yang telah berkumpul bersiap menuju Desa Pegadungan, Kecamatan Sukasada.

Tunggu dulu. Kesiapsiagaan mereka bukan untuk menangani bencana pohon tumbang lagi. Melainkan untuk meminta pengobatan karena keempat anggota Tim TRC mengalami sakit Kewanian. Usut punya usut, sakit itu diakibatkan karena mereka telah menebang pohon wani yang tumbang akibat diterjang hujan disertai angin kecang melintang di jalan utama pada Sabtu (4/1) malam lalu.

Keempatnya masing-masing, Kabid Kedaruratan I Wayan Duala Arsayasa, Agra Kusuma, Edy Purnawirawan, dan Nyoman Dharma Kurniawan. Mereka kompak mengalami sakit kewanian dengan gejala yang sama.

Awalnya, keempatnya terjun langsung memotong pohon wani yang tumbang pada Sabtu malam menggunakan gerjaji mesin. Seolah tidak ada masalah, selesai melakukan penanganan mereka pun kembali pulang. Dua hari kemudian, efek sakit kewanian ini mulai muncul. Gejalanya pun sama. Keempat tim tersebut mengalami gatal-gatal yang disertai rasa panas di sekujur tubuhnya.

Upaya penanganan secara medis pun tak berhasil menyembuhkan sakit tersebut. Berdasarkan penjelasan anggota TRC lain yang pernah mengalami sakit kewanian saat menebang pohon Wani di Galungan beberapa waktu lalu, untuk menyembuhkan sakit ini, si penderita harus menari di bawah pohon wani dengan mengitarinya sebanyak tiga kali.

Sesampainya di lokasi, empat orang yang menderita sakit itu langsung memohon doa dengan menggunakan sarana canang sari. Lalu secara bergantian mereka menari mengelilingi pohon wani dengan menggunakan topi kukusan bambu. Ajaibnya, setelah melakukan itu, gatal-gatal yang dialami mulai mereda dan rasa panas langsung berkurang. “Ya kami memohon maaf kepada pohon Wani agar dihilangkan rasa gatalnya,” ujar Kabid Kedaruratan BPBD Buleleng Wayan Duala Arsayasa, Selasa pagi.

Duala menceritakan peristiwa sakit Kewanian yang dialaminya bersama anggota TRC lainnya. Awalnya, Duala menerima laporan dari Mekel Pegadungan ada pohon tumbang akibat diterjang angin kencang pada Sabtu malam.

Sebanyak 10 orang Tim TRC pun memutuskan bergerak menuju TKP. Sesampainya di TKP Duala sedikit kaget melihat pohon wani yang tumbang. Pasalnya, dari pengalaman sebelumnya ia tahu resikonya akan terkena gatal-gatal jika memotong wani.

Apa boleh buat, karena pohon tumbang melintang di jalan umum yang merupakan akses vital warga, pihaknya pun tak berpikir panjang untuk mengeksekusi pohon tersebut.“Mau tidak mau ya harus dieksekusi. Urusan gatal-gatal itu belakangan, kami eksekusi bersmaa-sama hingga tuntas,” jelasnya.

Benar saja, stafnya yang diajak menebang pohon tersebut gatal-gatal dua hari setelahnya. Awalnya, Duala sempat meboye jika rasa gatal disebabkan setelah menebang pohon wani. Namun, karena rasa gatal kian parah menyerang tubuhnya, ia pun menjadi tak tahan hingga mencoba langkah menari sambil mengelilingi pohon wani yang ditebang.

“Hampir semalam saya gatal-gatal, garuk-garuk seperti monyet. Mau tidak mau, ya kami coba ritual menari sambil mengelilingi pohon wani ini menggunakan kukusan yang telah terpakai. Memang yang diajak ke TKP saat itu sepuluh orang. Tapi yang megang gergaji mesin kami berempat. Keempatnya ini memang kena gatal-gatal,” tuturnya.

Hal serupa juga diceritakan Agra Kusuma, yang merupakan Anggota TRC. Agra menuturkan rasa gatal disertai kulit yang menebal terjadi di bagian wajah hingga sekujur tubuhnya sejak dua hari lalu. Padahal, saat  menebang pohon Wani, ia sudah menggunakan alat pengaman lengkao, seperti topi, baju dan sepatu.“Sebenarnya tidak ada getahnya pohon wani itu. Mungkin serpihan kayunya bikin gatal,” ungkapnya.

Sementara itu, Perbekel Desa Pegadungan Kadek Sudiara mengatakan, sakit Kewanian itu disebabkan karena orang tersebut sing asi terpapar pohon wani. Namun, agar sembuh, sesuai mitos yang dipercaya oleh masyarakat, orang yang sakit harus mengitari pohon wani sebagai penawar sakit agar sembuh.

“Mungkin kalau ga cocok biasanya gatal-gatal, bengel (bentol-bentol, Red) itu bagi orang yang tidak asi (cocok, Red). Dari mitos para leluhur penudanya (penangkalnya, Red) harus menari mengitari pohon wani. Ini jadi pelajaran kita semua agar sebelum menebang pohon harus sembahyang dulu,” ujar Sudira.

Seperti diketahui, tidak banyak orang yang mengetahui istilah sakit ini. Istilah Kewanian hanya dikenal oleh masyarakat yang daerahnya banyak terdapat pohon wani. Tidak saja di Desa Pegadungan, istilah sakit kewanian juga di kenal di Desa Nagasepaha, Desa Alasangker serta Desa Galungan.

Namun terkadang masyarakat yang memiliki kebun wani tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Sakit ini berupa gatal-gatal semacam alergi pada makanan. Gatal yang diderita pun terasa panas dan permukaan kulit menjadi tebal.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia